Wheat pollard dapat dimanfaatkan sebagai sumber prebiotik untuk menjaga kesehatan unggas.
Oleh : Dr. Ir. Cahya Setya Utama, S.Pt., M.Si., IPM*
Wheat pollard merupakan hasil samping dari pengolahan gandum yang kaya serat dan oligosakarida yang tinggi dapat mengakibatkan flatulensi (timbulnya gas akibat fermentasi oligosakarida oleh bakteri) dalam saluran pencernaan. Flatulensi mengganggu kesehatan, sehingga perlu dilakukan pengolahan. Salah satu pengolahan yang bisa dilakukan adalah pemanasan. Pengolahan bahan pakan sumber karbohidrat melalui proses pemanasan dapat mengakibatkan gelatinisasi, yaitu pecahnya granula yang menyebabkan bagian amilosa dan amilopektin berdifusi keluar dan menurunkan zat anti nutrisi. Bahan pakan sumber pati yang dipanaskan menghasilkan resistent starch (RS) yang tinggi dibanding dengan yang tidak dipanaskan. Peningkatan nilai RS mencapai 19% dan mampu berperan sebagai prebiotik maupun pangan fungsional.

Arabinosa, rafinosa, selulosa, hemiselulosa, lignin dan resisten starch merupakan komponen prebiotik, sedangkan kadar protein dan gross energy merupakan faktor penentu kualitas nutrien bagi pakan unggas.

Resistent starch yang melewati usus halus dapat dimanfaatkan sebagai substrat untuk pertumbuhan bakteri probiotik. Interaksinya dengan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan juga dapat menghasilkan short chain fatty acids (SCFA) di dalam kolon serta mencegah kanker kolon. Sumber prebiotik lainnya yang terdapat pada wheat pollard yaitu rafinosa dapat terhidrolisis menjadi melibiosa dan fruktosa dengan bantuan enzim invertase yang terdapat pada khamir Saccharomyces cerevise. Kandungan nutrient wheat pollard akibat lama pemanasan berbeda terdapat pada Tabel 1.
 Tabel 1. Kandungan nutrien wheat pollard pada lama pemanasan yang berbeda dengan autoclave pada suhu 121 °C
Parameter
Tanpa Pemanasan
Lama Pemanasan (Menit)
0
15
30
Kadar Air (%)
44,68±0,32
41,50±0,30
41,88±0,29
42,23±0,15
Abu (%BK)
4,22±0,22
4,53±0,12
4,67±0,12
4,87±0,15
Lemak Kasar (%BK)
0,03±0,02
0,02±0,01
0,03±0,02
0,01±0,01
Protein Kasar (%BK)
14,09±0,61
14,32±0,09
15,18±0,40
13,14±0,56
Serat Kasar (%BK) 
5,38±0,44
6,95±0,62
7,30±0,91
8,23±0,28
BETN (%BK)
76,28±1,12
74,18±0,58
72,82±0,85
73,75±0,41
ADF (%BK)
0,15±0,05
0,09±0,02
0,13±0,02
0,11±0,02
NDF (%BK)
1,43±0,38
0,54±0,13
0,76±0,15
0,62±0,13
Hemiselulosa (%BK)
1,28±0,38
0,45±0,14
0,63±0,15
0,50±0,14
Lignin (%BK)
0,07±0,01
0,03±0,02
0,05±0,02
0,12±0,01
Selulosa (%BK)
0,08±0,04
0,06±0,02
0,08±0,03
0,01±0,01
Gross Energi
(kcal/kg)
4055,13±3,69
4152,27±16,54
4272,96±19,11
4222,67±26,19
Glukosa(%BK)
   0,70±0,07
   0,77±0,01
    0,82±0,05
   0,86±0,01
Sukrosa(%BK)
   3,26±0,01
   2,66±0,12
    1,92±0,10
   1,69±0,05
Arabinosa(%BK)
   0,51±0,04
   0,63±0,08
    0,92±0,05
   1,04±0,03
Mannosa(%BK)
0,07±0,01
0,06±0,01
 0,05±0,01
0,06±0,03
Rafinosa (%BK)
0,72±0,05
2,87±0,01
 3,95±0,01
0,48±0,01
Amilum (%BK)
51,99±0,40
48,30±0,32
 40,63±0,31
54,41±0,21
Amilosa (%BK)
6,05±0,11
5,78±0,07
 4,46±0,06
4,18±0,11
Amilopektin (%BK)
45,94±0,50
42,52±0,32
 36,17±0,28
50,23±0,28
R S(%BK)
5,28±0,03
5,40±0,03
 13,30±0,04
14,15±0,05
                   
 
Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 1, Perubahan kadar air disebabkan oleh proses pemanasan disebabkan oleh pembengkakkan granula pati yang mengakibatkan air terjerat di dalam granula pati. Air berperan sebagai penghantar panas yang baik sehingga mampu mempengaruhi struktur pati yang terkandung dalam wheat pollard dan menyebabkan gelatinasi. Perlakuan lama pemanasan turut terlibat dalam retrogradasi pati yang  dapat mengubah struktur pati yang mengarah ke pembentukan struktur kristalin baru sehingga pati tidak mudah terlarut.
Baca Juga: Ketahanan Prebiotik dalamn Limbah Kubis Terfermentasi
Penurunan kadar BETN terjadi seiring dengan kenaikan kadar protein kasar. Hal ini terjadi karena proses autoclave mengakibatkan gugus amino dan karboksil mengalami perubahan, namun belum terlihat mengalami kerusakanatau yang sering disebut sebagai reaksi maillard. Akan tetapi, lisin dalam protein bahan pakan tersebut sudah tidak tersedia lagi secara biologis (bio-availabilitasnya menurun).   Kadar acid detergent fiber (ADF) yang tersusun oleh selulosa dan lignin cenderung fluktuatif dari lamanya pemanasan. Hal ini dimungkinkan terjadi  banyaknya fraksi ADF yang tidak terlarut setelah melalui proses pelarutan pada larutan detergent asam (Acid Detergent Solution). Kandungan ADF dapat digunakan untuk menduga besaran energi pada bahan berserat.
Konsentrasi neutral detergent fiber dalam pakan atau dalam ransum memiliki korelasi negatif dengan konsentrasi energi, akan tetapi pakan atau ransum yang memiliki kandungan NDF yang sama belum tentu memiliki jumlah energi yang sama. Bahan pakan atau ransum yang memiliki konsentrasi NDF yang lebih tinggi memungkinkan untuk memiliki jumlah energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan atau ransum yang memiliki kandungan NDF yang lebih rendah.
Penurunan kadar hemiselulosa disebabkan oleh pemanasan yang melibatkan peningkatan suhu akibat penambahan uap panas akan memecah ikatan-ikatan kimia dan menyebabkan berbagai tingkat degradasi yang meningkatkan kecernaan. Proses tersebut juga diikuti oleh penurunan nilai neutral detergent fibre (NDF) serta meningkatnya kadar lignin dan arabinosa. Lignin merupakan bagian dari ADF di mana lignin merupakan bagian yang tidak larut dalam H2SO4 72%. Kadar selulosa tertinggi pada perlakuan tanpa pemanasan dan terendah pada perlakuan lama pemanasan 30 menit. Penurunan kadar selulosa pada 30 menit disebabkan oleh pengolahan pakan dengan uap panas akan menurunkan serat kasar. 
Hasil terbaik dari penelitian ini yaitu perlakuan lama pemanasan selama 15 menit berdasarkan dari kandungan protein kasar, gross energy, arabinosa, rafinosa, selulosa, hemi selulosa, lignin, resisten starch dan gambar SEM wheatpollard setelah pemanasan. Arabinosa, rafinosa, selulosa, hemiselulosa, lignin dan resisten starch merupakan komponen prebiotik, sedangkan kadar protein dan gross energy merupakan faktor penentu kualitas nutrien bagi makanan. Dapat disimpulkan bahwa wheat pollard yang dipanaskan dengan autoclave selama 15 menit memberikan komposisi terbaik sebagai prebiotik. *Pengajar pada Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro.
 Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 dengan judul “Wheat Pollard sebagai Prebiotik”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153