Ditjen PKH, Akademisi, dan Asosiasi Perunggasan sedang berdiskusi untuk mendapatkan solusi yang terbaik terkait dengan turunnya harga ayam hidup di Jateng dan Jatim (Foto : PI_Esti)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sekertariat Bersama Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN), GOPAN, perwakilan peternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) beserta seluruh jajarannya, dan komisi ahli perunggasan mengadakan Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional Kamis (13/6) Gedung C, Lantai 6, Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.
Rapat ini diselenggarakan berkaitan dengan anjloknya harga live bird (LB) (10/6). Harga di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur harga terendah di Jawa Tengah menginjak angka Rp 13.000, sedangkan di Jawa Timur harga menyentuh angka terendah pada kisaran Rp 12.000. Harga tersebut merupakan harga di tingkat peternak atau farmgate. Harga ini tentu dibawah dari Harga Pokok Produksi (HPP) yaitu Rp 19.500 per Kg ayam hidup. Rapat ini diharapkan dapat mencapai titik temu antara peternak dan pemerintah, supaya bersama sama dapat mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Baca Juga : Kementan Kembali Dapatkan Opini WTP BPK
Tim komisi ahli perunggasan Ditjen PKH Kementan Dr. Drh. Trioso Purnawarman, M.Si memaparkan data pemasukan DOC Grand Parent Stock (GPS) pada tahun 2018 yang berkontribusi pada persediaan Final Stock (FS) di bulan tertentu pada tahun 2019 dan 2020. Trioso juga memperingatkan bahwa jika mengurangi Parent Stock (PS) akan menimbulkan dampak yang besar. “Februari dan Maret tahun 2018 akan berkontribusi pada Mei sampai Agustus 2019 untuk final stock,” ujarnya.
Ahmad Dawami, selaku ketua umum GPPU melanjutkan diskusi dengan menampilkan data yang dimilikinya. Ia menyampaikan bahwa potensi produksi DOC tahun 2019 mencapai 3,5 miliar. “Target produksi pada tahun 2019 sudah melebihi target pemerintah, sehingga perlu disepakati berapa jumlah pengurangannya,” jelas Dawami.
Dalam rapat ini, akhirnya disepakati pengurangan DOC yaitu sebesar 30% dimulai dari tanggal 24 Juni 2019 hingga 23 Juli 2019. Langkah ini diharapkan dapat menjadi langkah terbaik untuk menyelesaikan masalah penurunan harga LB yang terjadi. Esti