POULTRYINDONESIA, Jakarta – Seminggu jelang pameran Nusantara Livestock and Poultry Expo (NLP) dan Indonesia Agriculture Technology Expo (IGT) 2026, Debindo mengadara Press Conference di Gedung Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
NLP-IGT Expo 2026 mengusung tema “Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia” rencananya akan berlangsung pada 4–7 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Pameran ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pelaku industri peternakan dan pertanian untuk memperluas kolaborasi.
Dalam konferensi pers tersebut, Direktur Debindo, Rafidi Iqra Muhamad, menjelaskan bahwa penyelenggaraan NLP-IGT Expo 2026 telah dikaji dan dikembangkan dengan memperhatikan evaluasi pameran tahun sebelumnya. Salah targetnya adalah peningkatan jumlah peserta pameran, tahun lalu NLP berhasil mengumpulkan lebih dari 70 peserta dan tahun ini menjadi lebih dari 100 peserta.
“Selain peningkatan jumlah peserta pameran, variasi perusahaan dan pihak yang berpartisipasi juga semakin berkembang. Dari sisi luas area, tidak terlalu signifikan. Namun, tahun ini kita lebih terfokus pada pengalaman pengunjung yang hadir. Tahun ini kita menggandeng Nusa Farm untuk membuat miniatur peternakan sapi dari hulu ke hilir agar pengunjung melihat konsep smart farming”.
Dari sisi industri perunggasan, Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi, memaparkan bahwa produksi daging ayam ras dan telur ayam ras nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatra.
“Pulau Jawa menyumbang 63,08% produksi daging ayam ras nasional, sedangkan Sumatra berkontribusi sebesar 20,12%. Untuk produksi telur ayam ras, kontribusi Jawa mencapai 62,91% dan Sumatra sebesar 22,85%,” ujarnya.
Selain itu, beliau juga memaparkan sejumlah tantangan dalam industri perunggasan, seperti efisiensi pakan, ketersediaan bibit, performa produksi, produktivitas, fluktuasi harga, serta ketergantungan kita akan produk impor.
“Dari banyakya tantangan yang ada, tentunya saya berharap dengan adanya NLP-IGT Expo 2026 dapat membantu mempertemukan para pelaku industri sehingga kolaborasi dan pertukaran informasi mengenai teknologi dapat semakin berkembang”.
Sementara itu, Cecep Wahyudi selaku Wakil Ketua Umum DPN HKTI Bidang Peternakan menyoroti pentingnya membangun ekosistem pangan yang mampu menghubungkan produsen dengan konsumen secara lebih efektif.
“Disatu sisi ada Peternak yang mengeluh karena hasil ternaknya sulit diserap pasar, disisi lain ada SPPG yang kesulitan mendapatkan pasokan telur, sehingga kita rumuskan bahwa selain oversupply, yang lebih penting untuk kita benahi adalah supply chainnya, khususnya cold chail,” jelas Cecep.
Cecep menyampaikan bahwa kasus keracunan yang beberapa kali terjadi pada penerima MBG sebagian besar diakibatkan oleh pangan sumber protein hewani. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan meningkatkan produksi. Diperlukan sistem yang mampu menghubungkan hasil produksi dengan kebutuhan konsumen dengan tetap menjaga kualitas produknya.
“Saat ini sudah ada sekitar 27.800 SPPG, setiap harinya mereka belanja berbagai kebutuhan, tentu ini adalah peluang besar untuk membangun ekosistem pangan yang mampu memenuhi standar mutu, keamanan pangan, serta memiliki cadangan pasokan”.
Dengan semakin banyaknya pemangku kepentingan yang ikut serta dalam NLP Expo 2026, harapannya pameran ini akan menjadi ruang untuk bersama sama mengurai berbagai tantangan yang dihadapi dalam industri peternakan.