Ayam betina (hens) mencakup sekitar 90% dari populasi flock breeder, namun pejantan memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap output genetik flock. Manajemen pejantan yang tidak optimal akan membatasi potensi produksi anak ayam (DOC). Untuk mencapai performa maksimal, pejantan harus mengembangkan kerangka tubuh yang besar, kondisi tubuh yang tepat, serta mampu melakukan aktivitas seksual secara berkelanjutan.
Performa dimulai sejak masa pemeliharaan (rearing)
Jantan dan betina sebaiknya dipelihara terpisah sejak DOC hingga masa kawin (21–24 minggu), dengan sistem pakan dan minum yang terpisah. Proses grading (seleksi ukuran) direkomendasikan sedini mungkin, karena sekitar 50% perkembangan kerangka terjadi pada 4 minggu pertama. Pencapaian bobot umur 28 hari (sekitar 745–755 gram) akan mendukung perkembangan kerangka yang optimal. Pejantan dengan bobot paling ringan sebaiknya dieliminasi untuk membentuk kelompok yang seragam dan kuat. Keseragaman (uniformity) merupakan faktor paling penting dalam manajemen pejantan. Flock yang tidak seragam akan menimbulkan masalah dominasi, rasio perkawinan, dan fertilitas.
Pejantan sangat sensitif terhadap keterbatasan sumber daya. Kepadatan tinggi akan meningkatkan kompetisi, masalah dominasi, serta variasi kondisi tubuh. Kepadatan pejantan sebaiknya tidak melebihi 4 ekor/m², dan kepadatan betina dapat disesuaikan untuk mendukung hal ini. Selama masa rearing, ruang pakan harus ditingkatkan secara bertahap seiring pertumbuhan pejantan, dan kepadatan harus dikelola dengan baik, terutama setelah umur 10 minggu.
Memasuki umur 15 minggu, fokus beralih dari keseragaman bobot ke keseragaman kondisi tubuh. Kondisi dada (breast) pejantan harus dipantau secara rutin. Pejantan ideal akan berkembang dari bentuk “Sunken V” menuju “Standard V” seiring pertumbuhan. Kondisi daging yang kurang akan berdampak pada kemampuan kawin, kualitas semen, dan umur reproduksi, sedangkan kondisi terlalu gemuk dapat menyebabkan perkawinan tidak sempurna.
Persiapan pejantan untuk masa kawin (18–22 minggu)
Sebelum masuk kandang produksi, seleksi akhir harus dilakukan. Pejantan dengan kaki pendek, kerangka buruk, kondisi tubuh tidak merata, atau cacat fisik harus dieliminasi. Pada tahap ini, hanya sekitar 9,5–10% pejantan yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan tanpa menimbulkan kepadatan atau kompetisi berlebih. Tingkat keseragaman harus di atas 90% (CV sekitar 6%).
Ciri pejantan aktif bekerja
Pejantan yang baik umumnya memiliki kloaka merah dan lembab dengan sedikit bulu aus di sekitarnya, bulu bahu dan paha sedikit aus (indikasi aktivitas kawin), kaki lurus, telapak kaki bersih, pigmentasi yang baik pada kaki dan sendi, jengger dan pial merah cerah, serta kondisi dada stabil dalam kisaran ideal (bentuk U). Pakan khusus pejantan tidak dianjurkan diberikan sebelum umur 25 minggu. Ruang pakan harus cukup dan diatur dengan baik untuk mencegah pejantan dominan makan berlebihan. Pejantan juga harus dicegah mengakses pakan betina.
Mulai umur 30 minggu, pejantan diharapkan mengalami kenaikan bobot sekitar 25–30 gram per minggu, dengan peningkatan pakan kecil namun konsisten (minimal 1 gram setiap 2–3 minggu). Hal ini mencegah penurunan bobot saat puncak produksi sekaligus menghindari kondisi terlalu gemuk. Pejantan yang kekurangan pakan akan tampak lesu, dengan jengger melemah diikuti pelunakan otot dada.
Penimbangan dan evaluasi kondisi tubuh serta warna kloaka sebaiknya dilakukan minimal setiap dua minggu. Mempertahankan jumlah pejantan yang lebih sedikit namun aktif dan produktif lebih baik dibanding mempertahankan pejantan tidak produktif hanya untuk memenuhi rasio kawin. Pejantan lemah atau tidak aktif harus segera dieliminasi. Pengurangan bertahap (sedikit demi sedikit tiap minggu) lebih baik dibanding pengurangan besar secara berkala. Over-mating dapat menurunkan fertilitas, daya tetas, dan produksi telur, sehingga jumlah pejantan perlu segera dikurangi jika tanda-tanda tersebut muncul.
Masa produksi dan penggantian pejantan
Pejantan awal umumnya dapat bertahan hingga 40 minggu produksi. Namun, jika fertilitas menurun di tengah periode produksi meskipun manajemen sudah baik, program penggantian pejantan sekitar 30% dapat membantu mempertahankan performa fertilitas. Pejantan pengganti harus memiliki kerangka besar, kondisi tubuh sesuai, dan telah distimulasi cahaya selama 3–5 minggu sebelum dimasukkan. Biosekuriti ketat sangat penting untuk mencegah masuknya penyakit. Pejantan pengganti harus diberi tanda khusus dan dipantau secara terpisah selama 4–6 minggu setelah introduksi.
Meskipun betina menghasilkan telur, pejantan sangat menentukan apakah telur tersebut akan menjadi anak ayam. Farm breeder yang sukses memperlakukan manajemen pejantan sama seriusnya dengan manajemen betina, dengan fokus pada keseragaman, kondisi tubuh, pemberian pakan yang tepat, serta pengamatan intensif sepanjang siklus hidup. Perbaikan kecil dalam manajemen pejantan dapat memberikan peningkatan besar pada fertilitas dan daya tetas.
Untuk informasi selanjutnya, kunjungi www.aviagen.com atau scan QR code.