Harga livebird di tingkat peternak, sering mengalami fluktuasi
POULTRYINDONESIA, Sidoarjo – Harga livebird ayam pedaging untuk Bulan Juli – Agustus tahun ini menempati posisi yang tidak wajar. Sebab, harganya jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), harga yang ada di pasaran berkisar di angka Rp 10.000 – 12.000/kg. Seperti yang disampaikan Ir. Sugeng Wahyudi, Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional ( GOPAN ) dalam acara webinar yang diadakan oleh ISMAPETI wilayah IV, dengan mengambil tema “Strategi Penstabilan Harga livebird dalam Kondisi Pandemi”, Minggu, (29/8) lewat aplikasi Zoom.
Baca juga : Harga Telur dan Livebird Turun Kemendag Revisi Peraturan
Kondisi itu, menambah beban para peternak mandiri, di tengah terjangan covid-19. Sugeng mengaku, sebetulnya pemerintah sudah melakukan langkah strategis untuk antisipasi perihal harga ini, dengan mengeluarkan Permendag ( Peraturan Menteri Perdagangan ) yang menyatakan bahwa harga ayam broiler di kisaran Rp.19.000 – 21.000 per kilogram.
“Namun peraturan ini terkesan mandul, karena tidak diterapkan secara baik, dan pemerintah mengaku belum bisa melakukan mandatori secara penuh atas Permendag itu,” tegas Pria kelahiran Yogyakarta 1965 ini.
Kedepan ia berharap ada harga yang wajar untuk livebird, agar peternak tetap bisa tumbuh, harga yang wajar sebaiknya mengikuti biaya produksi yang sudah ditanggung oleh peternak. “Kondisi saat ini memang sudah diluar kendali, dari segi sapronak baik DOC dan pakan sudah mahal. Namun, harga jual livebird murah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kebijakan untuk cutting Hatching Egg (HE), dimana kebijakan ini mempunyai keunggulan sebagai jalan pintas pengendalian suplai serta mampu menaikkan harga livebird dalam 30 hari kedepan, jika pelaksanaannya benar-benar dilaksanakan oleh breeding farm.
Namun, menurutnya, kebijakan ini mempunyai sejumlah kekurangan seperti : 1)Mendongkrak harga DOC, 2)Belum tentu menaikkan harga livebird, jika kebijakan cutting HE tidak dilakukan oleh breeding farm, 3)Monitoring yang masih lemah, seringkali pasca cutting HE kondisinya tidak juga membaik, 4)Distribusi DOC final stock terbatas, seringkali peternak kecil tidak dapat bagian.
Sementara itu, Abdurrozak. SPt, Dinas Peternakan Kabupaten Banyuwangi, menjelaskan bahwa protein hewani mempunyai keunggulan dibanding protein nabati karena mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap.
” Kelengkapan inilah yang menjadi dasar anjuran untuk mengonsumsi protein hewani semasa pandemi, untuk meningkatkan imunitas masyarakat, dimana protein hewani yang paling mudah adalah berasal dari daging dan telur ayam,” tegasnya.
Oleh karena itu, pihaknya dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Banyuwangi bertekad mendukung perkembangan peternakan di Banyuwangi dengan memberi kemudahan izin bagi para peternak, serta memberi pelatihan secara gratis.