Kandang Closed house untung meningkatkan daya saing
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Struktur biaya produksi di peternakan unggas pada tingkat perusahaan dan tingkat peternak rakyat masih didominasi oleh pakan, day old chick (DOC), dan upah, dengan perbedaan struktur upah perusahaan menempati posisi kedua sedangkan pada peternak ditempati oleh DOC. Posisi struktur biaya selanjutnya yaitu biaya lainnya, listrik dan air, obat, dan bahan bakar.
Mahalnya biaya sarana produksi ternak (sapronak) dalam hal ini pakan maupun DOC turut dikeluhkan seorang peternak di Bogor, Sugeng Wahyudi. Saat diwawancarai Poultry Indonesia di kediamannya di Bogor, Senin (14/10), Sugeng mengatakan bahwa harga sapronak turut andil dalam tingginya produksi ayam di Indonesia yang berimbas pada penurunan daya saing, terutama masalah mahalnya harga pakan. Terkait harga jagung, ia berpendapat bahwa jika jagung yang dijual memiliki harga yang kompetitif maka harga pakan dapat ditekan. Selain mahalnya biaya sapronak, Sugeng juga menyoroti faktor lain yang juga memperkeruh keadaan sehingga kata daya saing masih sebatas sebuah impian.
Kerugian yang dialami oleh peternak berakibat pada terhambatnya modernisasi kandang para peternak rakyat. Sugeng mengatakan bahwa sebanyak 80% peternak rakyat sistem perkandangannya masih menggunakan opened house. Sebenarnya peternak rakyat bukan menolak adanya perkembangan kandang atau alih teknologi kandang, hanya saja peternak masih terjegal oleh masalah finansial akibat kerugian yang terus menerus dialami.
Baca Juga : Gopan Ajak Peternak Modernisasi Kandang
Senada dengan tantangan yang dihadapi oleh Sugeng, Kadma Wijaya yang juga merupakan peternak asal Bogor, saat diwawancarai Poultry Indonesia di Bogor, Senin (14/10), mengatakan bahwa kendala yang masih dialami oleh peternak Indonesia adalah banyaknya peternak yang masih menggunakan beternak cara lama. Perubahan kandang opened house menjadi closed house ini begitu cepat, tetapi harga pembuatan closed house tidaklah sedikit, atau membutuhkan biaya sekitar 3-5 miliar rupiah. Kadma mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan daya saingnya, beberapa peternak yang masih menggunakan sistem opened house sudah sedikit demi sedikit mengubah sistem perkandangannya dengan mulai menggunakan kipas sebagai pengatur ventilasi pada kandang.
Peran pemerintah dalam hal modernisasi kandang perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing perunggasan dengan melibatkan perbankan. Pinjaman ini hendaknya diberikan dengan bunga yang jauh di bawah bunga pada pinjaman konvensional serta harus disertai dengan adanya edukasi bagi peternak agar dapat menghasilkan kualitas produksi yang baik, sehingga peternak rakyat kembali bersemangat untuk meningkatkan daya saingnya. Asosiasi peternak ayam dalam hal ini dapat membantu pemerintah untuk melakukan pendataan kelompok peternak yang ingin maju dan difasilitasi untuk mendapatkan pinjaman bank, sehingga tidak ada lagi peternak yang mencoba bertahan di tengah gempuran era globalisasi namun terkungkung dengan keadaan. Esti
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Tantangan dalam Peningkatan Daya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153