Pentingnya biosekuriti dalam peternakan (sumber : www.i2.wp.com.jpg)
Terdapat beberapa catatan penting yang harus dilakukan peternak sebagai upaya untuk memperbaiki manajemen kandang. Hal itu untuk menghindari berbagai ancaman penyakit. Kondisi cuaca yang tidak menentu bahkan terkadang berubah ekstrem, ditambah dengan kualitas udara yang semakin menurun, peternak tentu harus lebih sigap dalam memperbaiki manajemen pemeliharaannya. Peternak juga diharapkan tidak menyamakan manajemen pemeliharaan pada saat musim kemarau dengan musim penghujan.

Langkah antisipasi tentu menjadi hal yang begitu penting untuk diperhatikan. Bagaimana pun juga, keberhasilan antisipasi akan menentukan ada tidaknya penyakit yang bisa menyerang perkandangan.

Perlakuan budi daya
Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, drh. Agus Prastowo, mengatakan bahwa kegiatan budi daya yang dimulai dari sebelum ayam masuk maka sejak saat itu juga sanitasi sudah harus diperketat. Kotoran/feses merupakan media ideal yang bisa membawa banyak agen penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan feses secara rutin dan hindari feses menumpuk apalagi lembap, sehingga tidak akan tertinggal pada pemeliharaan selanjutnya. Culling bagi DOC yang pertumbuhannya lambat mungkin juga sangat penting dilakukan, terutama satu minggu awal, karena ini akan menentukan pemeliharaan ke depan.
drh. Merkcy Haryo Santoso, MM, selaku Product Specialist Poultry PT Indovetraco Makmur Abadi menambahkan, untuk mengurangi serangan penyakit di kandang, dapat juga mempertimbangkan penerapan kandang closed house untuk para peternak yang masih menggunakan kandang opened house. Prinsip utama dari closed house adalah menyediakan kondisi yang nyaman bagi ternak dengan cara mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ayam, menurunkan suhu udara yang masuk saat diperlukan, mengatur kelembapan yang sesuai dan mengeluarkan gas yang berdampak buruk, seperti karbon dioksida (CO2) dan amonia (NH3). Semua proses ini bisa diatur secara otomatis, sehingga meminimalkan pengaruh kondisi lingkungan yang saat ini sangat berfluktuatif dan memicu timbulnya penyakit.
Penerapan biosekuriti 3 zona
Sejak adanya wabah avian influenza di Indonesia pada akhir tahun 2003, kata biosekuriti mulai diperkenalkan dan menjadi semakin populer dikalangan peternak unggas. Biosekuriti yang terdiri dari tiga elemen utama yaitu isolasi, kontrol pergerakan, dan sanitasi menjadi sebuah pionir bentuk pencegahan bagi setiap penyakit. Pada penerapan biosekuriti, perlu juga didasari oleh pentingnya biosafety, untuk melindungi diri (manusia/pekerja) dari bahan biologis maupun bahan yang bersifat toksik.
Baca Juga : Pentingnya Penerapan Biosekuriti Tiga Zona
Menurut Alfred Kompudu, dalam bukunya yang berjudul Panduan Biosekuriti Peternakan Unggas Pasca Pelarangan AGP, tujuan utama implementasi biosekuriti dengan konsep 3 zona, yaitu zona merah, kuning dan hijau, agar kuman penyakit tidak langsung bertemu dengan ayam (hospes). Prinsip biosekuriti tiga zona adalah usaha untuk menyaring infeksi penyakit dengan 3 tahapan agar kandang ayam semakin bersih dan bebas dari penyakit.
Pemilihan program vaksinasi yang benar
Melakukan program vaksinasi yang tepat tentu menjadi hal wajib selanjutnya yang harus dilakukan peternak. Ketepatan penentuan jadwal vaksinasi, kualitas vaksin, tata laksana vaksinasi yang sesuai dan kondisi ayam saat divaksin harus diperhatikan untuk memberikan kekebalan yang optimal terhadap tantangan penyakit. Monitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin, khususnya untuk ayam petelur dan pembibit untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi serta memantau titer antibodi selama masa produksi.
Pemilihan vaksin sendiri harus memperhatikan jenis penyakit apa yang biasa menyerang kandang, dengan mengetahui penyakit apa yang dominan ada di kandang, peternak harus mempunyai strategi untuk menanggulangi penyakit tersebut. Setiap perusahaan harus bisa melakukan monitoring terhadap kesehatan ayam, jangan sampai seperti model pemadam kebakaran, jika ada kasus, baru bergerak cepat untuk menyelesaikan. Chusnul, Esti, Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Putar Strategi untuk Antisipasi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153