Seminar ini terselenggara untuk memperingati bulan bakti peternakan dan esehatan hewan
POULTRYINDONESIA,Jakarta – PT Gallus Indonesia Utama menggelar workshop yang bertajuk “Meningkatkan Daya Saing Perunggasan dengan Menerapkan Biosekuriti Tiga Zona” pada Rabu, 28 Agustus 2019. Acara yang bertempat di Hotel Sahati, Ragunan, Jakarta Selatan tersebut digelar dalam rangka Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang setiap tahunnya digelar sebagai salah satu kontribusi dari lahirnya hari Peternakan dan Kesehatan Hewan yang jatuh tiap Tanggal 26 Agustus.
Dalam sambutannya, Bambang Suharno selaku Direktur PT Gallus Indonesia Utama menyebut tema biosekuriti ini diambil selain karena adanya ancaman penyakit Avian Influenza (IA) yang belum melepaskan diri dari Indonesia, adanya pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) juga menjadi salah satu mengapa tema ini harus diangkat. Selain itu, kalahnya Indonesia dalam sidang WTO (World Trade Organization) membuat Indonesia harus menerima masuknya daging ayam dari negara lain khususnya Brazil, oleh karenanya kita perlu upaya serius untuk meningkatkan produktivitas perunggasan, yaitu dengan menerapkan biosekuriti yang benar dan konsisten.
Acara yang dibuka oleh Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertania, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD, ini menghadirkan pembicara Alfred Kompudu, selaku Master trainer Biosekuriti di Australian Centre for International Agriculture Research (ACIAR) dan drh. M.azhar selaku Auditor Kompartemen bebas AI yang juga merupakan mantan Direktur Kesmavet. Azhar mengatakan pemahaman awam masyarakat bahwa biosekuriti itu sulit penerapannya serta membutuhkan biaya yang mahal itu salah besar, dengan memegang teguh tiga prinsip biosekuriti, yaitu isolasi, pembatasan lalu lintas OBH (Orang, Barang, dan Hewan), serta sanitasi yang meliputi pembersihan dan desinfeksi, biosekutiri sangat mudah diaplikasikan baik di peternakan skala kecil, menengah sampai skala besar, dengan tidak membutuhkan biaya yang banyak.
Alfred juga menambahkan, dengan menerapkan biosekuriti tiga zona, yaitu adanya pembagian zona merah, zona kuning, dan zona hijau, itu berarti para peternak berusaha melindungi peternakan mereka dari semua ancaman penyakit, yang nantinya bisa mempengaruhi produktivitas ternak mereka, yang mana ini merupakan salah satu cara meningkatkan daya saing perunggasan dengan memperhatikan kualitas produk, memperhatikan kesehatan hewan, masyarakat dan lingkungan, serta merupakan salah satu upaya melaksanakan Good Farming Practices atau GFP.