POULTRY INDONESIA, Bogor – Siang itu cuaca sejuk menyelimuti kawasan komplek perumahan Balai Penelitian Ternak Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saat wartawan Poultry Indonesia menemui, profesor kelahiran Majalengka ini sedang bersantai menikmati akhir pekan bersama istri di rumahnya. Budi, sapaan akrab tetangga sekitar biasa menyapanya, lahir dan tumbuh hingga remaja di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Masa kecilnya berada di desa yang dulu belum dialiri listrik sepanjang hari. “Saat itu listrik masih susah dan hanya menyala saat malam hari. Itu pun dari jam tujuh hingga sepuluh malam saja. Tapi sebisa mungkin saya tetap memaksimalkan waktu untuk belajar,” kenang Budi, Sabtu (26/5). Semangat dalam belajar yang terus tumbuh dalam diri mengantarnya menjadi lulusan terbaik di sekolahnya.

Kegigihan dan ketekunan adalah kunci dalam penelitian. Hasil nyata sebuah penelitian manakala manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas.

Memasuki akhir tahun 1971, Budi Tangendjaja diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Selama kurang lebih empat tahun menempuh masa studi, ia lulus menjadi seorang insinyur bidang teknologi pangan. “Setelah lulus sarjana tahun 1976, saya mendapatkan beasiswa untuk lanjut sekolah master di IPB,” kenangnya. Baru satu tahun menjalani masa studi, ia diterima kerja di Balai Penelitian Ternak (Balitnak). Saat menjalani masa kuliah sekaligus bekerja di Balitnak, hal itu yang membuatnya banyak berkenalan dengan para peneliti asing. “Saat itu banyak kerja sama penelitian dengan Australia, akhirnya itu juga yang membuat saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah master lagi di Australia pada tahun 1978,” tutur Budi.
Kecerdasan yang ia miliki membuatnya kembali mendapat beasiswa untuk program doktoral di negara yang sama. Selepas pulang dari Australia pada tahun 1983, ia kembali menjalani aktivitas meneliti di Balitnak. Lagi-lagi berkat ketekunan dalam belajar, ia memperoleh kesempatan untuk kuliah post-doctoral di University of Arcansas, Amerika Serikat pada tahun 1986. “Waktu itu saya belum menikah, baru pada tahun 1988 saya menikah dengan sesama pegawai Balitnak,” tuturnya.
Arti penting keluarga
Aktivitas Budi yang sangat sibuk tak membuatnya melupakan waktu untuk keluarga. Baginya, keberhasilan seseorang merupakan bentuk saling mendukung antarpihak, baik suami kepada istri maupun istri kepada suami. Saling bantu dalam rangka membina keluarga adalah sebuah keharusan yang tak bisa terpisahkan dalam kehidupan. “Bagi kami anak-anak adalah perekat, mendidik anak sampai selesai sekolah merupakan suatau pencapaian tertinggi,” ujarnya.
Baca Juga : Hardiyat Heru Nugroho Menjadi Pengusaha Karena Terpaksa
Dalam membagi waktu, ia mengaku mempunyai cara khusus dengan mengajak anak atau istri untuk sekadar jalan-jalan saat akhir pekan. Dalam prinsipnya ia enggan diatur oleh waktu, akan tetapi waktulah yang harus ia atur. “Kita yang harus bisa mengatur waktunya, jangan waktu yang malah mengatur kita. Jadwal harus diatur dengan baik, kalau ada yang bentrok maka skala prioritas yang dikedepankan,” terang Budi.
Memiliki istri yang aktivitasnya sama sebagai seorang peneliti, tentu harus bisa menyelaraskan waktu sehingga tidak sibuk dengan dunianya masing-masing. Komunikasi dan meluangkan waktu adalah sesuatu hal yang wajib dikerjakan. “Biasanya saya mengajak istri juga kalau ada undangan entah seminar atau apa di luar negeri, kebetulan sama-sama peneliti jadi bisa menjadi teman diskusi juga,” tutupnya mengakhiri wawancara.
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 168 dengan judul “Dilema Pemberantasan Koksidiosis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153