Industri perunggasan tidak pernah bekerja dalam ruang-ruang yang terpisah. Setiap mata rantai saling memengaruhi dan saling menopang. Ketika salah satu pondasi melemah, kestabilan keseluruhan bangunan ikut terancam.
Industri perunggasan merupakan ekosistem yang mempertemukan banyak kepentingan. Sektor ini dihidupi oleh berbagai perusahaan pembibitan, pakan, kesehatan hewan, peternak, akademisi, hingga pemerintah yang sama-sama memegang andil besar menjaga ketersediaan protein hewani unggas bagi masyarakat. Namun menyatukan berbagai kepentingan tersebut tentu bukan perkara sederhana. Dibutuhkan komunikasi, kepercayaan, dan kesediaan untuk mencari titik temu demi kepentingan yang lebih besar.
Pandangan itulah yang selama ini menjadi benang merah pemikiran Achmad Dawami. Sepanjang kiprahnya menakhodai Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), ia meyakini bahwa fungsi organisasi ini tidak sebatas menjadi wadah berhimpun para pelaku usaha pembibitan, tetapi juga jembatan yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun industri perunggasan nasional yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
“Semua orang pasti memiliki conflict of interest. Tetapi kalau sudah menjadi pemimpin yang membawahi banyak ragam dan macam-macam manusia, kita harus semaksimal mungkin untuk bisa berbuat adil. Pemimpin juga harus pintar. Bukan sekadar pintar teori, tetapi pintar melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan yang bisa diterima semua pihak,” ujar Dawami saat ditemui di kediamannya, Senin (22/6).
Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu mengambil keputusan. Pemimpin juga harus mampu merangkul berbagai kepentingan, membangun kepercayaan, dan menghadirkan solusi yang dapat diterima bersama. Dari cara berpikir inilah lahir berbagai gagasan yang terus ia perjuangkan, terutama mengenai pentingnya kolaborasi dan keselarasan antar stakeholder.
Lahirnya Jiwa Kepemimpinan
Lebih dari empat dekade berkecimpung di industri perunggasan membuat Dawami memahami berbagai persoalan sektor ini. Pengalaman yang ia jalani mencakup hampir seluruh mata rantai usaha, mulai dari pembibitan, peternakan komersial, hingga pengolahan hasil unggas. Perspektif yang terbentuk dari perjalanan panjang tersebut kemudian menjadi amunisi saat dipilih sebagai Ketua Umum GPPU sejak tahun 2018 silam. Di saat yang sama, ia juga mengemban tanggung jawab sebagai Senior Vice President Deputy Head of Commercial Poultry Division dan Head of Marketing Commercial Poultry Division di Grup JAPFA.
Yang menarik, benih-benih kepemimpinan itu justru mulai tumbuh sejak masa kuliah. Tahun pertama di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan yang sebenarnya bukan pilihan utamanya, diwarnai rasa kecewa dan frustrasi. Memasuki tahun kedua, keinginannya untuk meninggalkan Fakultas Peternakan belum juga surut. Ia kembali meminta izin kepada sang Ayah untuk berpindah jurusan, namun sekali lagi permintaannya ditolak. Karena merasa tidak punya pilihan, Dawami justru mencari cara untuk menyukai waktunya di kampus. Ia mulai aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dengan menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa, Ketua Softball UGM, Ketua Karate UGM, serta terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi lainnya.
Ada nasihat sang Ayah yang mengubah cara pandangnya. Dimana untuk menjadi orang yang sukses, penentunya lebih kepada sikap dan kebiasaan di masyarakat. Maka dari itu, fokusnya bukan lagi hanya mencari ilmu dari pelajaran di kelas, melainkan membangun sikap, komunikasi, dan kemampuan hidup bermasyarakat. Pesan itulah yang membuatnya menikmati proses kuliah hingga lulus pada 1980. Pengalaman berorganisasi selama di kampus pun menjadi bekal awal dalam membentuk jiwa kepemimpinannya.
Merawat Kolaborasi 
Salah satu gagasan yang paling konsisten ia suarakan adalah pentingnya kolaborasi. Menurut Dawami, industri perunggasan tidak pernah bekerja dalam ruang-ruang yang terpisah. Setiap mata rantai saling memengaruhi dan saling menopang. Ketika salah satu pondasi melemah, kestabilan keseluruhan bangunan ikut terancam. Karena itu, membangun industri tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Perunggasan tidak bisa berdiri sendiri. Baik itu breeding, feedmill, obat-obatan, farm komersial, atau plasma, tidak bisa sendiri. Harus ada kolaborasi bersama karena kita menuju satu tujuan yang sama,” tegasnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.