POULTRYINDONESIA, JAKARTA – Program Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) kembali mempertemukan dunia pendidikan dan industri perunggasan melalui kegiatan Meet & Greet CPBSA Batch 7 yang diselenggarakan di Novotel, Mangga Dua Square Jakarta 13 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program setelah para peserta menyelesaikan masa magang selama kurang lebih satu setengah bulan di berbagai unit bisnis PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, pimpinan dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, para mentor, serta mahasiswa peserta CPBSA Batch 7. Selain menjadi ajang pertemuan, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk mendapatkan gambaran lebih luas mengenai perkembangan industri perunggasan sekaligus arah yang perlu mereka persiapkan sebagai generasi penerus.
Dalam laporannya, Ika K. Sesaria selaku Ketua Pelaksana Program CPBSA Batch 7 menyampaikan bahwa CPBSA telah berjalan sejak 2017 dan terus berkembang dari tahun ke tahun. Program yang pada awalnya melibatkan enam universitas tersebut kini telah menjangkau 19 universitas di Indonesia.
Pada Batch 7, sebanyak 22 mahasiswa terpilih dari lebih dari 140 pendaftar dari berbagai Universitas di Indonesia. Para peserta harus melewati beberapa tahapan seleksi, mulai dari psikotes, wawancara, group discussion, hingga pembuatan video Why Me, yang menunjukkan ketertarikan dan passion mereka terhadap dunia agribisnis, khususnya industri perunggasan.
Setelah dinyatakan lolos, peserta mengikuti pembekalan secara daring mengenai metode analisis dan pemecahan masalah. Pembekalan kemudian dilanjutkan secara langsung mengenai industri perunggasan sebelum mereka menjalani program magang di berbagai unit bisnis PT Charoen Pokphand Indonesia.
Selama magang, peserta tidak hanya belajar mengenai pekerjaan di dalam perusahaan. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai aktivitas dan proyek, sekaligus mengasah kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan profesionalisme.
“Peserta juga didorong untuk membagikan pengalaman magang melalui media sosial sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya,” jelas Ika. Sebagai bentuk apresiasi, CPBSA Batch 7 memberikan tiga penghargaan, yaitu Best CPBSA Ambassador, Best CPBSA Project, dan Best CPBSA Intern.
Berawal dari Kebutuhan Industri
Perjalanan CPBSA yang telah memasuki batch ketujuh menjadi perhatian tersendiri bagi Jemmy Wijaya selaku Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Dalam sambutannya, ia kembali mengingat bagaimana program tersebut pertama kali digagas.
Menurut Jemmy, sekitar tujuh tahun lalu industri masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan tenaga kerja terdidik yang benar-benar memahami bidang peternakan sekaligus siap masuk ke dunia kerja.
Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mempertemukan industri dengan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak cukup hanya mendapatkan pengetahuan dari bangku kuliah, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk mengenal dunia industri secara langsung. “Harus ada rangkaiannya. Minatnya harus tumbuh, tapi harus ada juga ruang praktiknya,” kata Jemmy.
Dari awal yang hanya melibatkan beberapa universitas, program tersebut kemudian berkembang secara bertahap. Hingga Batch 7, CPBSA telah melahirkan alumni yang kemudian melanjutkan karier di industri, meneruskan pendidikan, bahkan menduduki posisi manajerial.
Jemmy menyebut, dari sekitar 150 alumni CPBSA, kurang lebih 60% di antaranya kini telah bekerja. Sementara sekitar 10% atau sekitar 15 orang sudah berada pada posisi manajerial.
Bagi Jemmy, capaian tersebut menjadi bukti bahwa program CPBSA bukan sekadar kegiatan untuk mencari tenaga kerja baru. Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sektor pangan dan keberlanjutan industri di Indonesia.
“Kita betul-betul cuma ingin menginspirasi generasi muda supaya pangan itu diurus. Jangan sampai pangan itu ada orang lain yang mengurus,” ujarnya.
Belajar dari Perkembangan Teknologi Global
Setelah menyelesaikan rangkaian program di Indonesia, peserta CPBSA Batch 7 juga mendapatkan kesempatan mengikuti poultry excursion ke China. Dalam agenda tersebut, peserta akan mengunjungi sejumlah tempat yang berkaitan dengan perkembangan industri dan teknologi perunggasan, termasuk Famsun di Yangzhou, Xi’an Jiaotong-Liverpool University di Suzhou, serta menghadiri pameran VIV di Shanghai.
Jemmy meminta peserta tidak sekadar menikmati perjalanan tersebut sebagai pengalaman baru. Menurutnya, kesempatan tersebut harus digunakan untuk melihat lebih dekat perkembangan teknologi yang telah diterapkan di negara lain.
Ia berharap para peserta dapat membawa pulang ide dan semangat untuk mengembangkan hal-hal serupa di Indonesia. “Bawa pulang minimal idenya, minimal keinginannya untuk mencapai di tahap seperti itu,” pesannya.
Menurutnya, perkembangan teknologi menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi industri perunggasan nasional. Karena itu, kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan negara lain menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
Menjaga Pangan, Menjaga Integritas
Dalam kesempatan tersebut, Jemmy juga mengingatkan bahwa industri perunggasan memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebutuhan pangan masyarakat. Ayam dan telur, menurutnya, merupakan sumber protein yang memiliki peran penting karena dapat dijangkau masyarakat dan tersedia di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, keberlangsungan industri perunggasan pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bisnis, tetapi juga mengenai bagaimana kebutuhan pangan masyarakat dapat terus terpenuhi.
Namun, perjalanan industri tidak selalu mudah. Berbagai tantangan terus muncul, mulai dari perubahan cuaca, persoalan bahan baku, hingga penyakit yang dapat mengganggu produktivitas ternak. Kondisi tersebut membuat industri membutuhkan sumber daya manusia yang mau terus belajar dan tidak cepat merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki.
“Selalu jaga rasa ingin tahu. Jangan pernah puas bahwa apa yang Anda pelajari itu sudah selesai pada hari ini. Selalu ada yang baru,” tutur Jemmy. Selain rasa ingin tahu, ia juga menitipkan pesan mengenai pentingnya integritas kepada para peserta.
Menurutnya, integritas menjadi hal yang sangat penting karena industri yang mereka pilih berkaitan langsung dengan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Menjaga kualitas dan memenuhi standar bukan hanya persoalan aturan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap konsumen.
Menyiapkan Generasi Penerus
Jemmy berharap para peserta CPBSA Batch 7 dapat melihat pengalaman yang mereka dapatkan selama program sebagai bekal untuk perjalanan berikutnya. Ia mengibaratkan perjalanan industri seperti sebuah tongkat estafet. Generasi yang saat ini memegang peranan di industri pada akhirnya akan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada generasi berikutnya.
“Pada saatnya nanti kalian yang harus mengambil alih fungsi itu, kalian yang harus meneruskan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat perjalanan PT Charoen Pokphand Indonesia yang telah berkembang selama puluhan tahun. Jemmy mengingatkan peserta bahwa perusahaan besar tidak lahir dalam waktu singkat dan tidak dibangun oleh satu orang saja.
Di balik perkembangan perusahaan terdapat banyak orang yang bekerja, belajar, dan memberikan kontribusi pada zamannya. Hal yang sama diharapkan dapat dilakukan oleh generasi muda yang saat ini mengikuti CPBSA.
Rangkaian Meet & Greet kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari para penerima Best Awards CPBSA Batch 7, yaitu Sisilia Anggraeni dari Universitas Diponegoro sebagai Best CPBSA Ambassador, Ida Bagus Ketut Satya Wira Darma dari Universitas Indonesia sebagai Best CPBSA Project, dan Rayner Tanafi Budiharja dari Institut Teknologi Bandung sebgai Best CPBSA Intern. Ketiganya mempresentasikan hasil yang telah mereka kerjakan selama mengikuti program magang.
Melalui pelaksanaan CPBSA Batch 7, PT Charoen Pokphand Indonesia kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi. Tidak hanya untuk membuka kesempatan bagi mahasiswa mengenal dunia kerja, tetapi juga untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan industri perunggasan di masa mendatang.