POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pemerintah mewaspadai tekanan harga di sektor peternakan unggas, khususnya ayam ras dan telur, yang kini berada di bawah harga acuan pembelian (HAP). Kondisi ini dinilai mengancam keberlangsungan usaha para peternak jika tidak segera ditangani.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan bahwa harga ayam pedaging hidup di tingkat produsen rata-rata secara nasional berada di angka Rp 22.783 per kilogram per 17 Mei lalu. Angka itu 8,87 persen di bawah HAP yang ditetapkan sebesar Rp 25.000 per kilogram. Kondisi serupa terjadi pada telur ayam ras, yang harganya menyentuh Rp 24.356 per kilogram atau 8,09 persen di bawah HAP Rp 26.500 per kilogram.
“Ini sudah berteriak teman-teman peternak. Harga sudah di bawah HAP, dan kami akan dorong untuk mengembalikan kewajaran harga ini,” ujar Ketut.
Di sisi lain, harga ditingkat konsumen justru mencatat tren positif. Data perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu kedua Mei menunjukkan bahwa daging ayam ras mengalami penurunan IPH di 232 kabupaten/kota, sementara telur ayam ras mencatat penurunan di 246 kabupaten/kota. Kedua komoditas ini juga sempat mencatatkan deflasi pada April lalu.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang memimpin Rapat Pengendalian Inflasi di Jakarta, Minggu (18/5), mengapresiasi capaian tersebut. “Daging ayam ras relatif terkendali. 232 daerah mengalami penurunan harga. Ini cukup baik, artinya intervensi dari Bulog maupun Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pertanian sudah berjalan bagus,” katanya.
Namun pemerintah tetap bergerak cepat agar penurunan harga tidak semakin dalam di tingkat peternak. Bapanas bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyiapkan langkah stabilisasi harga telur di tingkat produsen. Salah satu upaya yang dijalankan adalah bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional untuk menyerap hasil produksi langsung dari peternak.
Sebagai penopang, pemerintah juga menggelontorkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan, yang membantu menekan biaya produksi para peternak unggas. Melalui program ini, jagung pakan disalurkan seharga Rp 5.000 per kilogram di gudang Bulog, jauh lebih rendah dari harga pasar yang berkisar Rp 6.700-an per kilogram.
“Hingga 17 Mei, Bulog telah menyalurkan 5,97 ribu ton jagung pakan, dengan Jawa Timur menjadi wilayah penyaluran terbesar sebanyak 4,39 ribu ton. Dengan bantuan SPHP jagung ini, harapannya peternak masih bisa menikmati keuntungan yang wajar,” kata Ketut.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia









