Pergeseran komitmen sejumlah restoran cepat saji ayam di Inggris terhadap kesejahteraan hewan dan dampak lingkungan memicu perdebatan. Meski menuai kritik, langkah ini sebenarnya mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh industri unggas.
Di Inggris Raya, daging ayam telah lama menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi. Harganya relatif terjangkau, mudah diolah, serta tersedia secara luas di berbagai jenis pasar, mulai dari ritel hingga restoran cepat saji. Kondisi tersebut menjadikan sektor unggas memegang peran penting dalam sistem pangan nasional, sekaligus menopang aktivitas rantai pasok industri makanan di negara tersebut.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri ayam di Inggris mulai menghadapi perdebatan baru mengenai bagaimana daging ayam seharusnya diproduksi. Isu kesejahteraan hewan, keberlanjutan lingkungan, serta stabilitas pasokan kini semakin sering dibahas bersamaan dalam menentukan arah pengembangan sektor ini.
Pergeseran Fokus Standar Kesejahteraan
Perdebatan tersebut kembali mengemuka setelah sejumlah jaringan restoran besar di Inggris memutuskan keluar dari gerakan inisiatif Better Chicken Commitment (BCC) dan beralih bergabung dengan forum bernama Sustainable Chicken Forum (SCF). Keputusan ini memicu diskusi luas mengenai pendekatan yang paling tepat untuk meningkatkan kesejahteraan ayam broiler tanpa mengabaikan tantangan produksi dan keberlanjutan industri.
Langkah pergeseran komitmen tersebut dilakukan oleh 8 kelompok perusahaan yang mengoperasikan atau memegang lisensi untuk 18 merek restoran ternama di Inggris. Beberapa di antaranya adalah KFC, Nando’s, Burger King, Popeyes, Wingstop, dan Wagamama. Sebelumnya, perusahaan-perusahaan ini telah berkomitmen mengikuti Better Chicken Commitment, sebuah standar yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan ayam pedaging melalui sejumlah perubahan dalam sistem produksi.
Salah satu prinsip utama dalam BCC adalah penggunaan strain ayam broiler yang tumbuh lebih lambat (slow-growing). Pendekatan ini diyakini dapat mengurangi berbagai masalah kesehatan yang kerap muncul pada ayam dengan pertumbuhan sangat cepat, seperti gangguan mobilitas, kelainan kaki, maupun tekanan pada organ tubuh akibat laju pertumbuhan yang terlalu tinggi. Selain itu, standar BCC juga mencakup kepadatan kandang yang lebih rendah, akses terhadap pencahayaan alami, serta penyediaan lingkungan kandang yang lebih mendukung perilaku alami ayam.
Namun bagi sebagian pelaku industri makanan, penerapan standar tersebut dinilai semakin sulit dilakukan dalam skala besar. Dengan permintaan daging ayam yang terus meningkat, perusahaan berada di bawah tekanan untuk menjaga kestabilan jumlah produksi sembari tetap memenuhi berbagai tuntutan keberlanjutan lingkungan dan efisiensi produksi.
Karena beberapa hal tersebut, perusahaan-perusahaan terkait memilih bergabung dengan Sustainable Chicken Forum, sebuah forum yang dipimpin industri dan dirancang untuk mendorong peningkatan kesejahteraan yang lebih luas, bukan hanya menggunakan strain ayam tertentu. Kesejahteraan hewan disini diukur berdasarkan pendekatan ilmiah dan dinilai lebih praktis.
Menurut CEO UK Hospitality, Allen Simpson, keputusan ini mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi pelaku usaha dan rantai pasok mereka. Ia menegaskan bahwa para pelaku usaha tetap berkomitmen meningkatkan upaya mereka dalam aspek kesejahteraan hewan dan lingkungan, serta memandang Sustainable Chicken Forum sebagai sarana untuk mendorong kemajuan sektor secara luas yang berbasis data di lapangan.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com

Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.