“Tepat saat pandemi COVID-19 melanda dan kesadaran kesehatan masyarakat meningkat, saya mendirikan bisnis ini dengan misi ambisius: menjadikan ayam asli Indonesia sebagai raja di rumah sendiri.”
Keyakinan itu menjadi titik awal perjalanan Febroni Purba, CEO Ayam Kampung Andalas, dalam membangun bisnis berbasis ayam lokal. Berbekal latar belakang pendidikan peternakan dan pengalaman panjang di industri unggas, ia melihat potensi ayam lokal yang sering kali luput dari perhatian.
“Perjalanan saya membangun Ayam Kampung Andalas bermula dari perpaduan antara keresahan intelektual dan kebanggaan nasional,” ujarnya dalam wawancara tertulis, Sabtu (21/2).
Selama bertahun-tahun, ayam lokal atau ayam kampung sering diposisikan hanya sebagai komoditas sampingan. Sistem pemeliharaannya banyak dilakukan secara tradisional, sehingga salah satu misi besarnya adalah mengembangkan produk ayam asli Indonesia melalui sistem yang lebih modern, profesional, dan terstandarisasi.
Potensi Hilir Ayam Kampung
Sedari awal menyelami usaha ini, Roni melihat persoalan klasik dalam konsumsi ayam kampung. Banyak konsumen menyukai rasa dan nilai gizi yang ditawarkan, tetapi terhambat oleh kesulitan mengolah. Tekstur yang dianggap lebih alot dibanding ayam ras serta harga yang tidak selalu stabil pun membuat sebagian konsumen ragu membeli ayam kampung secara rutin.
Alih-alih hanya menjual ayam hidup seperti penjual ayam kampung pada umumnya di pasar tradisional, ia mengambil langkah berbeda. Ayam kampung dari peternak diolah menjadi berbagai produk, mulai dari karkas beku, potongan tertentu (parting), hingga fillet. Selain itu, produk inovatif turut dikembangkan seperti bone broth dan minyak ayam yang menyasar konsumen dengan gaya hidup sehat.
“Disini kami mengubah persepsi ayam kampung menjadi produk premium yang praktis, higienis, dan memiliki nilai tambah tinggi melalui sertifikasi Halal dan NKV. Kami mengolahnya menjadi karkas standar ritel, produk parting, hingga inovasi seperti bone broth dan minyak ayam untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup sehat masyarakat urban,” jelasnya.
Setidaknya ada tiga alasan strategis mengapa ia memilih fokus di jalur ini. Pertama, menghindari persaingan pasar yang terlalu padat. Menurut Roni, industri ayam ras telah menjadi pasar komoditas yang sangat kompetitif (red ocean), dengan persaingan harga yang ketat dan didominasi oleh perusahaan integrator besar. Karena itu, fokus pada ayam kampung yang masih berada dalam ruang pasar spesifik akhirnya dipilih.
“Saya memilih ayam kampung karena ini adalah blue ocean, dimana pasarnya spesifik, konsumennya loyal, dan memiliki pertimbangan nilai emosional serta kesehatan yang jauh lebih tinggi. Kami tidak ingin sekadar ikut berkompetisi di harga murah, tapi memimpin di kategori kualitas dan nilai tambah,” tegasnya.
Kedua, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan. Ia menilai masyarakat urban kini semakin selektif dalam memilih sumber pangan. Produk yang bebas hormon pertumbuhan, rendah lemak, serta dipelihara dengan memperhatikan kesejahteraan hewan semakin dicari. Dan ayam kampung asli Indonesia secara alami memenuhi kriteria tersebut. 
“Dengan fokus pada pengolahan produk turunan (hilirisasi), kami menghapus stigma bahwa ayam kampung itu ‘sulit diolah’ atau ‘hanya untuk masakan tradisional’, sehingga produk kami bisa masuk ke gaya hidup sehat modern,” imbuhnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.