POULTRYINDONESIA, Jakarta – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus didorong melalui sinergi antara semua pihak. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kunjungan dan kegiatan pelatihan yang diselenggarakan di fasilitas PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI), yang dihadiri oleh para Tenaga Ahli Komite II DPD RI.
Dalam sambutannya, Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Dr. (H.C.) Tjiu Thomas Effendy, S.E., MBA. menyampaikan bahwa CPI telah menjadi bagian dari perjalanan panjang modernisasi peternakan di Indonesia sejak berdiri pada 1972. Menurutnya, perusahaan terus berkomitmen dalam mengembangkan industri perunggasan nasional dari hulu hingga hilir, mulai dari pakan, breeding farm, hingga produk olahan.
Saat ini, CPI memiliki jaringan produksi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk berbagai breeding farm untuk memastikan distribusi DOC (Day Old Chick) yang merata dan berkualitas. Selain itu, Thomas menegaskan bahwa kemitraan dengan peternak lokal juga menjadi fokus utama dalam memperkuat ekosistem industri perunggasan nasional.
“Indonesia sudah berada pada kondisi surplus protein unggas. Tantangan kita ke depan adalah bagaimana memastikan distribusinya merata dan dapat menjangkau daerah-daerah yang masih membutuhkan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komite II DPD RI, Dr. Badikenita Br Sitepu, S.E., S.H., M.Si. menegaskan bahwa saat ini sektor pertanian dan peternakan merupakan prioritas strategis nasional. Ia mendorong agar setiap daerah mampu membangun kemandirian dalam penyediaan protein hewani, khususnya melalui komoditas unggas yang dinilai lebih stabil dalam distribusi dibandingkan komoditas lainnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan sektor swasta seperti CPI sangat penting dalam memberikan pendampingan kepada peternak lokal, mulai dari aspek teknis hingga manajemen usaha.
“Melalui kemitraan yang kuat, kita tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si. menyoroti besarnya potensi industri perunggasan nasional yang saat ini telah mencatat surplus produksi, baik untuk daging ayam maupun telur.
Ia menyebutkan bahwa industri ini memiliki perputaran ekonomi yang sangat besar dan menjadi salah satu sektor kunci dalam mendukung ketahanan pangan. Namun, tantangan yang dihadapi adalah masih terpusatnya produksi di Pulau Jawa, sehingga diperlukan dorongan untuk pengembangan di wilayah luar Jawa.
“Kami mendorong pelaku usaha, termasuk calon peternak, untuk melihat peluang di luar Jawa. Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai program pengembangan klaster peternakan di sejumlah provinsi,” jelasnya.
Selain itu, dirinya menegaskan bahwa pemerintah juga terus memperkuat perlindungan terhadap industri dalam negeri dengan membatasi impor produk unggas, serta mendorong peningkatan ekspor ke berbagai negara tujuan.
“Kunci ke depan adalah pemerataan produksi dan penguatan kolaborasi, sehingga Indonesia tidak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi pemain utama di pasar global,” tegasnya.