POULTRYINDONESIA, Yogyakarta — Dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-80, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) menggelar seminar nasional bertajuk “Outlook Perunggasan 2026–2027: Resiliensi, Kedaulatan, dan Keberlanjutan Industri Unggas Nasional” di Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas tantangan serta masa depan industri perunggasan di tengah dinamika global.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKH UGM, Prof Agung Budiyanto, menegaskan bahwa industri perunggasan memiliki nilai ekonomi sangat besar dan berperan penting dalam menopang ketahanan pangan nasional. Namun, sektor ini dihadapkan pada kompleksitas tinggi akibat berbagai faktor global maupun domestik.
“Perunggasan adalah sektor dengan perputaran ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Di tengah situasi global yang dinamis, kita dihadapkan pada banyak variabel yang sulit diprediksi, mulai dari fluktuasi harga, penyakit, hingga gangguan rantai pasok,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pelaku usaha kerap menghadapi kondisi yang tidak menentu. Harga pakan, kesehatan ternak, dan harga jual di pasar sering kali tidak berjalan seiring. Kompleksitas ini menuntut pelaku industri untuk semakin adaptif dan memiliki ketahanan (resiliensi) yang kuat.
Sementara itu, Ketua Umum Keluarga Alumni FKH UGM (Gamavet), Teuku Sahir Syahali, menyoroti pentingnya memahami dinamika industri secara komprehensif. Menurutnya, industri perunggasan tidak hanya dipengaruhi faktor teknis, tetapi juga kondisi global seperti konflik geopolitik dan fluktuasi harga energi.
“Sering kali kita berada dalam situasi we need to know what we don’t know. Banyak variabel yang tidak bisa diprediksi, sehingga membuat industri ini sangat kompleks,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa industri perunggasan terus mengalami siklus pasang surut, mulai dari krisis ekonomi, pandemi COVID-19, hingga fluktuasi harga saat ini. Ketika harga tinggi, produksi meningkat, yang pada akhirnya kembali memengaruhi keseimbangan pasar.
“Pada akhirnya akan terjadi titik keseimbangan. Pertanyaannya, siapa yang mampu bertahan, siapa yang jatuh, dan siapa yang bisa sustain,” jelasnya.
Teuku juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah (ABG) dalam merumuskan solusi berbasis ilmiah. Kampus dinilai sebagai ruang yang tepat untuk diskusi yang objektif dan konstruktif.
Direktur Kemitraan dan Relasi Global UGM, Prof Puji Astuti, menegaskan bahwa industri unggas merupakan sektor strategis yang tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga stabilitas ekonomi dan sosial.
“Industri unggas memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pangan sekaligus berkontribusi pada stabilitas ekonomi dan bahkan politik, karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan sektor ini memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi. Dukungan terhadap peternak mandiri menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan industri. Akademisi, lanjutnya, memiliki peran strategis sebagai pihak independen yang dapat menjembatani berbagai kepentingan sekaligus memberikan solusi berbasis riset.

Dalam forum yang sama, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof Ali Agus, menegaskan bahwa sektor peternakan merupakan pilar utama dalam penyediaan pangan bergizi, khususnya protein hewani seperti daging, telur, dan susu.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan empat prioritas utama pembangunan, yakni swasembada pangan, penyediaan makanan bergizi, ketahanan energi, serta hilirisasi dan penguatan industri.
“Peternakan menjadi kunci dalam pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, kebijakan yang diambil tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga hilirisasi dan penguatan ekosistem industri,” jelasnya.
Program strategis yang dijalankan mencakup optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, revitalisasi irigasi, penguatan petani milenial, hingga peningkatan investasi di sektor pertanian dan peternakan. Ia juga menekankan pentingnya kemandirian pangan berbasis wilayah, di mana setiap pulau didorong untuk mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri guna mengantisipasi gangguan distribusi maupun wabah penyakit.
Dalam sektor perunggasan, Indonesia dinilai telah mencapai tingkat kemandirian yang cukup baik, bahkan menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk daging ayam dan telur. Namun, tantangan masih muncul, terutama terkait ketergantungan bahan baku pakan impor dan ketimpangan distribusi produksi.
“Saat ini sekitar 63% produksi unggas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini menjadi risiko besar jika terjadi gangguan seperti wabah penyakit,” ungkapnya.
Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan industri perunggasan di luar Jawa melalui pembangunan klaster produksi di berbagai wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Seminar ini juga menghadirkan sejumlah tokoh perunggasan nasional, di antaranya Achmad Dawami (Ketua Umum GPPU), Bagus Pekik (CMO Haida), Singgih Januratmoko (Ketua Umum Pinsar Indonesia), I Ketut Wirata (Dirkesmavet Kementan), Prof. Michael Hariyadi (Guru Besar FKH UGM), serta Desianto B. Utomo (Ketua Umum GPMT).
Melalui forum ini, FKH UGM menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu veteriner dan perunggasan yang berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha diharapkan mampu menghasilkan strategi konkret untuk memperkuat industri perunggasan nasional yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia