POULTRYINDONESIA, Bogor – Perwakilan peternak dari wilayah Bogor Raya dan Banten bersama empat asosiasi perunggasan nasional, yakni PINSAR, PPUN, GOPAN, dan PERMINDO menyepakati langkah bersama untuk memperkuat harga livebird (ayam hidup) dan menjaga stabilitas pasar.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat koordinasi yang digelar di Bogor pada Rabu (17/6). Pertemuan ini menjadi respons atas kondisi pasar yang masih menghadapi tekanan, sehingga diperlukan disiplin penjualan dan kekompakan seluruh pelaku usaha perunggasan.
Dalam rapat tersebut, peserta menyepakati penerapan harga penjualan livebird berdasarkan bobot ayam sebagai berikut:
• Ukuran 0,8–1,0 kg: Rp22.000/kg
• Ukuran 1,0–1,2 kg: Rp21.000/kg
• Ukuran 1,2–1,4 kg: Rp20.500/kg
• Ukuran 1,4–1,6 kg: Rp20.000/kg
• Ukuran di atas 1,6 kg: Rp19.500/kg
Perwakilan asosiasi menegaskan bahwa keberhasilan upaya perbaikan harga tidak cukup hanya mengandalkan kesepakatan yang telah dibuat. Yang lebih penting adalah komitmen seluruh pelaku usaha untuk menjalankannya secara konsisten di lapangan.
“Koordinasi, konsolidasi, dan kolaborasi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kesepakatan ini menjadi bukti bahwa peternak dan asosiasi siap bergerak bersama untuk menjaga keberlangsungan usaha perunggasan nasional,” disampaikan dalam forum tersebut.
Peserta rapat juga mengingatkan bahwa harga yang sehat merupakan syarat penting bagi keberlanjutan usaha peternak rakyat. Dalam beberapa waktu terakhir, peternak menghadapi tekanan yang tidak ringan akibat tingginya biaya produksi dan fluktuasi pasar yang terus berlangsung.
Melalui komitmen ini, empat asosiasi bersama peternak Bogor Raya dan Banten mengajak seluruh pelaku usaha perunggasan di berbagai daerah untuk menjaga solidaritas, disiplin dalam penjualan, serta mematuhi harga yang telah disepakati. Dengan demikian, upaya perbaikan harga diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata oleh peternak.
“Komit, kompak, dan konsisten. Hanya dengan kebersamaan, harga yang sehat dan usaha perunggasan yang berkelanjutan dapat terwujud.”
Para peternak berharap langkah perbaikan harga yang saat ini dijalankan dapat mulai menunjukkan hasil dalam beberapa hari ke depan. Namun apabila harga masih belum bergerak ke arah yang lebih baik dan peternak rakyat terus menanggung kerugian, asosiasi menilai keresahan di tingkat peternak akan semakin sulit dibendung.
Di sisi lain, ke empat asosiasi tersebut pada prinsipnya tetap mengedepankan dialog, koordinasi, dan penyelesaian bersama dengan seluruh pemangku kepentingan. Meski demikian, tekanan yang terus dialami peternak rakyat membuat ruang untuk menahan berbagai aspirasi di lapangan semakin terbatas apabila tidak segera hadir langkah-langkah konkret dalam memperbaiki kondisi harga.
Karena itu, seluruh pihak terkait diharapkan dapat mengambil langkah yang cepat, terukur, dan berpihak pada keberlangsungan usaha peternak rakyat sebagai salah satu pilar utama industri perunggasan nasional.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia