POULTRYINDONESIA, Yogyakarta — Peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya ayam dan telur sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran strategis industri perunggasan dalam mendukung ketahanan pangan, gizi, dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Semangat tersebut menjadi bagian utama dalam kegiatan Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia, yang digelar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Yogyakarta, pada 9 September 2026.
Dalam sambutannya, Ricky Bangsaratoe, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia yang mewakili Ketua Umum PINSAR Indonesia, menyampaikan bahwa HATN bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya protein hewani, khususnya ayam dan telur.
“Peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional bukan hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga merupakan bagian dari gerakan bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya protein hewani, khususnya daging ayam dan telur, bagi kesehatan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Ricky.
Menurutnya, ayam dan telur merupakan sumber protein hewani berkualitas yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Karena itu, keberadaan industri perunggasan memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
“Sektor perunggasan memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi nasional, tetapi juga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi serta keberlanjutan mata pencaharian jutaan masyarakat yang terlibat di sepanjang rantai industri perunggasan,” lanjutnya.
Dalam konteks tersebut, tema “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia” menjadi relevan untuk melihat bagaimana industri dapat terus berkembang sekaligus menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat dan dinamika pasar.
Ricky menyampaikan bahwa berbagai pembahasan dalam kegiatan tersebut, mulai dari penerapan sistem cage-free, strategi pencegahan penyakit unggas, manajemen pakan dan efisiensi nutrisi, hingga perkembangan teknologi perkandangan, merupakan bagian penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang lebih maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Dalam semnas ini, turut hadir sebagai pembicara Sandi Dwiyanto, Lead of Supply Chain Lever Foundation, Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP, Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas Tbk, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MP., Guru Besar FKH UGM, drh. Henri E. Prasetyo, M.Vet., Nutritionist & Business Development Manager DMC, dan drh. Kokot Februhadi, Sales Specialist Kaleter.
Ricky menegaskan bahwa kemajuan industri perunggasan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak. Kolaborasi antara peternak, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, tenaga kesehatan hewan, komunitas, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan industri dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Perguruan tinggi juga dinilai memiliki peran penting dalam menghasilkan inovasi dan riset yang dapat diterapkan oleh industri, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan sektor perunggasan di masa mendatang.
“Kami berharap seminar ini tidak berhenti sebagai ruang untuk bertukar pengetahuan. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi, melahirkan gagasan-gagasan baru, dan mendorong langkah nyata untuk memperkuat industri perunggasan nasional sekaligus meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia,” kata Ricky.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk melihat sektor perunggasan sebagai bidang yang masih memiliki peluang luas untuk dikembangkan, mulai dari peternakan, kesehatan hewan, teknologi, nutrisi, pengolahan hasil, pemasaran, hingga kewirausahaan.
Melalui peringatan HATN 2026, pesan yang dibawa tidak berhenti pada pentingnya mengonsumsi ayam dan telur sebagai sumber protein hewani. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap produk ayam dan telur terdapat rantai industri yang melibatkan peternak, tenaga kesehatan hewan, akademisi, pelaku usaha, pekerja, hingga berbagai pihak lainnya. Karena itu, penguatan industri perunggasan perlu dilakukan secara bersama-sama agar mampu memenuhi kebutuhan protein masyarakat sekaligus menciptakan industri yang sehat, efisien, inovatif, berkelanjutan, dan berdaya saing.