Promosi konsumsi unggas sudah bukan lagi sekadar urusan selera atau gaya hidup, tetapi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas generasi bangsa.
Ayam dan telur telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari menu keluarga Indonesia. Selain harganya relatif terjangkau, kedua bahan pangan ini juga mudah diolah menjadi beragam hidangan yang akrab di lidah masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Tak heran jika ayam dan telur menjadi sumber utama protein hewani bagi sebagian besar keluarga Indonesia.
Di balik kesederhanaannya, ayam dan telur menyimpan nilai gizi yang sangat tinggi. Keduanya merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam amino esensial, vitamin, serta mineral penting yang dibutuhkan tubuh. Beragam zat gizi tersebut berperan dalam mendukung pertumbuhan, memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga sistem kekebalan agar tetap optimal.
Di lain sisi, skala industri perunggasan nasional pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Produksi ayam dan telur di Indonesia berjalan hampir tanpa henti sepanjang tahun. setiap hari distribusinya berjalan dari peternak rakyat hingga perusahaan besar ke pasar becek hingga pasar modern. Kapasitas produksi yang besar ini menjadikan industri perunggasan sebagai salah satu tulang punggung ketahanan pangan hewani nasional, sumber protein yang selalu tersedia, tidak bergantung musim, dan relatif mudah dijangkau oleh berbagai kalangan ekonomi.
Namun, ironisnya, ketersediaan yang berlimpah ini belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat konsumsi masyarakat. Berbagai data menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani asal unggas di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan wawancara tertulis bersama Agung Suganda selaku Dirjen PKH yang diterima pada Kamis, (11/6) disebutkan bahwa konsumsi telur masyarakat Indonesia rata-rata baru sekitar 300 butir per kapita per tahun, sementara di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura angkanya bisa mencapai 500 hingga 600 butir per kapita per tahun. Untuk daging ayam, konsumsi Indonesia baru sekitar 12 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai 24 kilogram per kapita per tahun, dua kali lipat dari capaian kita.
Kabar baiknya, tren ini terus bergerak ke arah positif. Dimana konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia tercatat mengalami peningkatan pada 2025. Secara umum, konsumsi daging di Indonesia tumbuh sekitar 4–5 persen setiap tahun, dengan daging ayam tetap menjadi komoditas paling diminati dibandingkan daging sapi, kambing, maupun produk olahan lainnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya protein hewani sebenarnya sudah mulai tumbuh, hanya saja, lajunya masih perlu didorong lebih kuat lagi agar dapat mengejar standar gizi global.
Tantangan terbesar yang menghambat akselerasi ini tetap berkutat pada persoalan klasik seperti daya beli, fluktuasi harga, dan distribusi yang belum merata antar wilayah. Di sejumlah daerah, terutama yang jauh dari sentra produksi, harga ayam dan telur bisa melonjak signifikan akibat panjangnya mata rantai distribusi. Ketika harga naik, konsumsi rumah tangga terhadap protein hewani biasanya menjadi pos pengeluaran pertama yang dikorbankan, padahal justru di titik inilah dampak gizi paling terasa, khususnya bagi anak-anak di bawah lima tahun yang sedang dalam periode emas pertumbuhan.
Di tengah upaya mendorong konsumsi yang lebih baik, masyarakat justru masih sering dihadapkan pada berbagai misinformasi seputar produk unggas. Mulai dari keraguan soal kandungan hormon pada ayam broiler, anggapan bahwa telur menyebabkan kolesterol tinggi secara berlebihan, hingga kekhawatiran tentang residu antibiotik, semua ini beredar luas tanpa basis ilmiah yang kuat, namun ternyata cukup mempengaruhi keputusan konsumsi rumah tangga. Minimnya literasi pangan membuat sebagian masyarakat justru menjauhi sumber protein yang sebenarnya aman, bergizi, dan mereka butuhkan.
Atas dasar berbagai temuan inilah, Tim Poultry Indonesia mengangkat tema “Urgensi Promosi Konsumsi Produk Asal Unggas” sebagai fokus pembahasan. Untuk itu, bagaimana dinamika, tantangan, strategi, serta harapan dalam meningkatkan konsumsi produk unggas di Indonesia akan dibahas secara komprehensif dalam rubrik Laporan Utama edisi ini. Sabna
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.