Usaha ayam petelur nasional tengah menghadapi paradoks, dimana produksi melimpah, tetapi harga di tingkat peternak justru tertekan di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
Usaha ayam petelur nasional dalam beberapa tahun ke belakang terus mengalami tren peningkatan. Namun, sebagaimana bisnis komoditas lainnya, usaha ayam petelur nasional juga memiliki dinamika yang tidak selalu berjalan mulus. Seperti halnya yang terjadi beberapa waktu ke belakang, pertumbuhan produksi yang tidak berjalan seirama dengan kemampuan pasar menyerap telur membuat peternak harus menghadapi tekanan harga yang berulang.
Supply, Demand dan Dinamika Harga
Dalam beberapa tahun terakhir, usaha ayam petelur nasional menunjukkan kecenderungan ekspansi. Populasi ayam produktif bertambah, sementara investasi baru maupun ekspansi kandang lama terus berlangsung. Pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai faktor. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, ikut membentuk ekspektasi baru terhadap pasar telur. Hal ini pun diamini oleh para stakeholders perunggasan nasional yang menyebutkan bahwa adanya peningkatan minat investasi pada usaha layer karena program tersebut. 
Berdasarkan prognosa Ditjen PKH, produksi telur ayam ras nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 7,33 juta ton, sementara total kebutuhan bulanan yang tercantum dalam proyeksi mencapai 6,47 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 856 ribu ton atau 13,23% sepanjang tahun 2026.
Hal ini diamini oleh Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad. Menurutnya angka surplus tersebut menjadi lebih mencolok ketika dilihat secara bulanan. Pada Juni 2026, surplus disebut mencapai hampir 18%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata surplus bulan lainnya.
“Program MBG sejatinya memang memberikan harapan baru bagi peningkatan serapan telur. Dimana program ini akan meningkatkan serapan telur. Namun, seberapa besar tambahan permintaan yang benar-benar dapat diberikan program tersebut masih perlu dihitung kembali. Dan persoalannya, jika penyerapan MBG tidak sesuai dengan ekspektasi, sementara produksi tetap tinggi, surplus justru berpotensi kembali melebar. Terlebih apabila terdapat perubahan atau pengurangan anggaran yang berdampak terhadap volume penyerapan dari program ini,” jelasnya dalam sebuah acara diskusi di Jakarta pada Rabu (15/7).
Di sisi lain, dinamika permintaan selama Mei–Juni turut memperburuk tekanan pasar. Tauhid melihat adanya indikasi pelemahan daya beli masyarakat pada periode tersebut. Sejumlah indikator ekonomi, seperti indeks keyakinan konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI), pertumbuhan kredit, hingga kenaikan non-performing loan (NPL), terutama pada kelompok masyarakat bawah dan UMKM, menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan kuartal pertama.
“Kondisi tersebut juga penting untuk diperhatikan, karena sekitar 90% permintaan telur berasal dari konsumsi masyarakat umum, sementara sekitar 10% berasal dari lainnya. Dengan demikian, sedikit saja pelemahan pada konsumsi rumah tangga dapat memberikan pengaruh cukup besar terhadap keseimbangan pasar,” tambahnya.
Ketidakseimbangan supply-demand tersebut dirasakan langsung oleh peternak di lapangan. Pardjuni, peternak asal Solo, mengungkapkan bahwa produksi telur saat ini relatif melimpah. Kondisi surplus tersebut kemudian meningkatkan tekanan perdagangan, sehingga posisi tawar peternak terhadap pedagang menjadi semakin lemah. Alhasil, harga telur di tingkat peternak terus tertekan dan bahkan jatuh jauh di bawah HPP.
“Di samping itu, mungkin karena bulan Juni-Juli bertepatan dengan momen Suro. Kalau di Jawa, biasanya aktivitas masyarakat sedikit menurun. Ditambah lagi program MBG yang pada waktu itu memang sedang off. Kondisi tersebut juga membuat konsumsi dari masyarakat turun,” jelasnya di Jakarta, Rabu (15/7).
Menurut Pardjuni, tekanan harga tersebut semakin berat karena biaya produksi justru terus meningkat. Saat ini, HPP ayam petelur berada di kisaran Rp23.000–Rp24.000/kg dan berpotensi menembus di atas Rp24.000/kg seiring kenaikan harga pakan. Di sisi lain, harga telur sempat terpuruk hingga Rp17.000–Rp18.000/kg dan hingga kini baru bergerak ke kisaran Rp20.000–Rp21.000/kg.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.