Sektor budidaya unggas lokal menjadi fokus dalam meningkatkan perekonomian (Sumber foto : Guardian.ng)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tingkat kemiskinan di dunia terus menjadi perhatian berbagai pihak, tak terkecuali bagi World Bank yang ikut memantau dan mencari solusi terkait hal ini. Melalui laporan Poverty and Shared Prosperity 2018 yang dirilis oleh World Bank, terdapat 736 juta orang atau 10% populasi manusia di dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan pada 2015. Hal itu ditentukan menurut purchasing power parity (PPP) saat itu yakni sebesar US $1,90 atau tak lebih dari Rp30.000 per hari.

Ketika industrialisasi perunggasan sering dianggap sebagai solusi utama perbaikan ekonomi, sebagian negara justru kembali menggiatkan budi daya ayam lokal dengan metode tradisional. Produksi di level akar rumput dinilai mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi secara merata.

Tahun 2015 masih menjadi acuan World Bank dalam menilai pertumbuhan ekonomi dunia, karena adanya program pengentasan kemiskinan dalam jangka 15 tahun hingga 2030. World Bank menargetkan pada tahun 2030 kelak jumlah kemiskinan tak lebih dari 3% jumlah populasi manusia di dunia. Mereka optimis bisa mengurangi kemiskinan sebesar 7% melalui ragam cara termasuk the Sustainable Development Goals (SDGs). Keyakinan itu juga berdasar pada penurunan jumlah kemiskinan yang terjadi sejak tahun 1990. Saat itu, setidaknya terdapat 1,9 miliar orang yang hidup dalam bayang-bayang kemiskinan.
Baca Juga : Afrika Selatan Terus Berbenah Hadapi Tantangan Perunggasan
Sebuah media dalam jaringan (daring) di Nigeria, Guardian.ng, melansir keterangan Spesialis Komunikator the United Nations Children’s Fund (UNICEF) Afrika Barat Doune Porter tekait ancaman malagizi. Menurut Porter, terdapat 90.000 anak-anak terancam meninggal karena kekurangan gizi akut pada tahun 2018, dan lebih banyak lagi pada tahun 2019 yakni sekitar 240 kematian setiap hari. Hal itu bisa dicegah jika masyarakat global mengambil tindakan cepat. Perlu juga diperhatikan, bahwa dalam belenggu kemiskinan ini, anak-anak dan perempuan adalah yang sangat rentan terpapar malagizi dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Merespons hal itu, Poultry Association of Nigeria (PAN) mengajak warga untuk membudidayakan ayam Broiler, yakni ayam lokal Nigeria yang berfungsi sebagai penghasil daging dan juga telur. Program ini diyakini dapat mengentaskan kemiskinan dan menanggulangi masalah malagizi yang banyak terjadi di Nigeria.
Baca Juga : Gambaran Peta Persaingan Produk Pertanian AS Brazil
Menurut Dr. Ayoola Oduntan yang mewakili PAN, program budi daya ayam noiler ini bekerja sama dengan Amo Farm Sieberer Hatchery yang telah secara aktif mengembangkan potensi ayam noiler sejak 2003 lalu. “Inisiatif ini dikembangkan untuk level akar rumput di Nigeria dan Afrika pada umumnya. Ayam noiler ini merupakan unggas yang bisa dibudidayakan di halaman belakang dan mereka telah dikembangkan sebagai sumber daging dan telur untuk mengatasi malagizi,” ujar Oduntan, dilansir oleh Guardian.ng, Kamis (18/4). Ia menambahkan, bahwa bibit ayam ini dijual dengan harga terjangkau, pemeliharaannya mudah, serta produktivitasnya cepat jika dibandingkan dengan ayam lokal Nigeria jenis lainnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul “Peran Ayam Lokal Memutus Rantai Kemiskinan dan Malagizi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153