Industri 4.0 akan menghasilkan pabrik pintar yang beroperasi mandiri (Ilustrasi oleh : tij.co.jp)
Oleh : Elis Helinna
Saat ini, kita berada di tengah-tengah transformasi yang sangat signifikan berkenaan dengan cara kita memproduksi produk, berkat digitalisasi manufaktur. Beberapa menyebutnya revolusi industri keempat, atau Industri 4.0. Apa pun sebutannya, revolusi keempat ini mewakili kombinasi sistem siber-fisika, the Internet of Things, dan the Internet of Systems. Singkatnya, ini merupakan ide pabrik cerdas di mana mesin-mesin dihubungkan dengan web dan dikoneksikan dengan sistem yang bisa memvisualisasikan seluruh rantai produksi dan membuat keputusan sendiri.

Pertama mekanisasi dengan tenaga uap dan air, kemudian tenaga listrik dan produksi massal pada industri, lantas komputerisasi dan otomatisasi. Berikutnya, bentuk apalagi yang dihadirkan oleh revolusi industri masa depan?

Ketika komputer diperkenalkan dalam Industri 3.0, saat itu dianggap sebagai hal asing yang kemudian menjadi sesuatu yang ditambahkan pada teknologi yang sama sekali baru. Sekarang, dan pada waktu-waktu mendatang seiring dengan kian terbukanya Industri 4.0, komputer-komputer akan berkomunikasi satu sama lain untuk pada akhirnya membuat keputusan tanpa campur tangan manusia. Kendati ada yang menyebut bahwa revolusi Industri 4.0 ini hanyalah bahasa pemasaran (marketing), namun terjadi perubahan-perubahan dalam cara produksi dan manufaktur yang mau tak mau menarik perhatian kita.
Baca Juga : Industri 4.0 pada Perunggasan
Dalam revolusi keempat ini, kita menghadapi serangkaian teknologi baru yang mengombinasikan dunia fisika, digital, dan dunia biologi. Teknologiteknologi baru ini akan berdampak pada semua disiplin, ekonomi dan industri, bahkan akan menantang ide kita tentang arti manusia. Teknologi ini memiliki potensi besar menghubungkan miliaran manusia melalui web, meningkatkan efisiensi bisnis dan organisasi secara drastis, dan membantu regenerasi lingkungan alami melalui manajemen aset yang lebih baik, mengurangi kerusakan yang diakibatkan revolusi industri sebelumnya.
Namun demikian, ada juga potensi risikonya. Professor Klaus Schwab, Pendiri dan Executive Chairman the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution menyebutkan, bahwa organisasi-organisasi bisa jadi tak mampu atau tak mau mengadaptasi teknologi baru ini dan pemerintah mungkin gagal meregulasi teknologi ini secara layak. Dalam bukunya, Schwab berteori bahwa perubahan daya akan menciptakan masalah-masalah keamanan yang penting, dan kesenjangan bisa jadi akan kian membesar, bukannya berkurang jika segala sesuatunya tidak diatur secara benar.
Baca Juga : Produk Olahan, Pasar Besar dan Potensial Masa Depan
Sebagai misal, seiring dengan meningkatnya otomasi, komputer dan mesin akan menggantikan pekerja di banyak spektrum dari industri, mulai dari sopir, akuntan, agen properti hingga agen asuransi. Diperkirakan sebanyak 47% dari lapangan kerja di Amerika Serikat akan terancam akibat otomatisasi. Banyak ahli mengindikasikan bahwa revolusi Industri 4.0 akan lebih menguntungkan kalangan kaya daripada kalangan miskin, terutama karena hilangnya pekerjaan-pekerjaan bergaji rendah yang hanya memerlukan ketrampilan rendah, karena digantikan oleh mesin-mesin otomatis. Namun itu bukan hal baru. Secara historis, revolusi industri selalu diawali dengan jurang kesenjangan yang besar sebelum diikuti oleh periode perubahan politik dan institusional. Penulis merupakan koresponden Poultry Indonesia di New York
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 60  dengan judul “Revolusi Industri 4.0, Siapkah Kita?”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153