Aturan larangan penggunaan kandang baterai tradisional yang kecil mulai diterapkan di Eropa pada tahun 2012. Secara bertahap, segala ukuran kandang baterai akan dilarang.
Sebelum di Amerika Serikat, tren konsumsi telur cage-free telah muncul di Eropa. Bahkan sejak 1999 Uni Eropa telah memberi arahan untuk melarang kandang baterai tradisional, dan mengharuskan produsen menggunakan kandang yang diperkaya (enriched cage) dengan ukuran tinggi sekurangnya 45 cm dan memiliki ruang setidaknya 7,5 m2, 6 m2 di antaranya bisa digunakan untuk mengais-ngais dan 1,5 m2 sisanya sarang untuk bertelur. Aturan larangan penggunaan kandang baterai tradisional yang kecil mulai diterapkan di Eropa pada tahun 2012. Secara bertahap, segala ukuran kandang baterai akan dilarang.

Saat ini, sekitar 16,8% telur yang diproduksi di AS adalah cage-free. Untuk memenuhi tuntutan peritel dan para pelaku usaha jasaboga yang menargetkan tahun 2025 sebagai batas waktu, jumlah ayam petelur perlu ditingkatkan secara signifikan.

Perancis, misalnya, akan mulai melarang penjualan telur dari kandang baterai pada tahun 2022. Semua telur segar yang dijual di supermarket harus berasal dari free-range. Sedangkan telur yang akan digunakan sebagai bahan baku olahan atau diproses masih boleh dipelihara di kandang baterai. Hal yang sama berlaku di Inggris dan beberapa negara Eropa lain yang telah mengumumkan komitmennya seperti Jerman, Italia, dan Spanyol. Belum lama ini Polandia juga menunjukkan peningkatan pasar telur cage-free yang cukup signifikan, terbesar setelah EU5. Pasar telur cage-free Polandia pada tahun lalu diperkirakan sebesar US$ 320 juta, dan hingga tahun 2025 diperkirakan akan tumbuh hampir US$ 500 juta.
Baca Juga : 
Pada awal tahun ini, Carrefour Taiwan menjadi supermarket pertama di Asia yang berkomitmen untuk hanya menjual telur cage-free. Human Society International (HSI) bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan makanan besar serta hotel & restoran besar dunia untuk mengadopsi dan mengimplementasikan kebijakan produk telur cage-free. Hasilnya, perusahaan-perusahaan besar Asia seperti SaladStop!, The Lo & Behold Group, Grand Hyatt Singapore, dan Andaz Singapore pun mulai mengadopsi kebijakan telur cage-free.
Di Asia Tenggara, Charoen Pokphand Foods (CP Foods) Thailand pada akhir 2017 lalu mengumumkan antusiasmenya bergabung dengan gerakan industri pangan untuk menggunakan telur cage-free. CP Foods, yang merupakan salah satu konglomerasi agroindustri dan pangan terkemuka di Asia Tenggara mengumumkan rencananya untuk menghapus penggunaan kandang baterai 100 persen dari peternakan-peternakan telur miliknya di Thailand. Mulai tahun depan, CP Foods akan meluncurkan kandang cage-free pertamanya, yang memberikan ruang bagi ayam petelur mereka untuk berjalan, terbang, dan mengepakkan sayap serta mengais-ngais tanah sesuai dengan tabiat alaminya. Dengan pengumuman ini, CP Foods bergabung dengan perusahaan lain seperti Betagro—yang telah meluncurkan lini telur cage-free mulai Maret tahun ini—dan Saeng Thong Saha Farm yang menyediakan produk telur cage-free untuk pasar Asia Tenggara. Penulis Merupakan Koresponden Poultry Indonesia di New York.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 48 dengan judul “Mengamati Tren Telur Cage Free”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153