Penyerahan cinderamata persembahan Adisseo kepada para narasumber.
Adisseo bekerja sama dengan PT Romindo Primavetcom menyelenggarakan seminar dengan tema “Optimising gut health through sustainable alternatives.” Seminar sekaligus launching produk Alterion ini berlangsung pada 2 Juli 2018 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Hadirnya seminar tersebut masih dalam rangka menghadapi pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) khususnya di Indonesia.
Meiti Ifianti, Country Manager Adisseo Indonesia, mengatakan bahwa Alterion merupakan inovasi terbaru dari Adisseo. Produk ini telah terlebih dahulu diluncurkan di Eropa pada Januari 2016. “Saat ini kita membawa produk tersebut ke Indonesia dengan harapan bisa membawa manfaat untuk peternak dan juga produk ini memiliki strain yang unik yang bisa memberikan performa konsisten khususnya untuk ayam,” ungkap Meiti.
Sementara itu, Lukas Agus Sudibyo, Direktur Marketing PT Romindo Primavetcom berujar bahwa dalam menghadapi pelarangan AGP, para pelaku usaha di industri perunggasan terus berupaya mencari produk alternatif yang tepat . “Salah satunya adalah dengan probiotik sebagai pengganti AGP . Probiotik dari Adisseo ini dari generasi yang terbaru. Harapannya, penggunaan produk ini dapat memberikan manfaat yang besar,” ujar Lukas dalam sambutannya.
Adisseo merupakan perusahaan yang berpusat di Prancis dan memiliki komitmen untuk memberikan nutrisi yang terbaik bagi unggas, swine, dan ruminansia. Pada awal tahun ini, Adisseo telah resmi mengakuisisi Nutriad yang merupakan salah satu perusahaan terkemuka di bidang nutrisi dan kesehatan hewan. “Integrasi dengan Nutriad ini ditujuan untuk menambah kelengkapan product range kami,” terang Meiti.
Adisseo sendiri memiliki dua tipe produk yang telah tersedia di market Indonesia, yaitu Performance Product yang terdiri dari metionin dan vitamin. Sedangkan untuk Specialties Product tersedia enzim (Rovabio), selenium organik (Selisseo), dan probiotik (Alterion).
Strategi manajemen peternakan di era AGP-free
Peserta seminar yang datang dari berbagai daerah.
Selama ini penggunaan AGP di industri peternakan digunakan sebagai pemacu pertumbuhan dinilai mumpuni untuk meningkatkan performa. Namun, kesadaran masyarakat akan bahaya resistensi akibat penggunaan AGP semakin meningkat karena dapat mengancam kesehatan hewan dan manusia. Prof. drh. Charles Rangga Tabbu, M.Sc, Ph.D dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam presentasinya menjelaskan bahwa penggunaan antibiotik secara berlebihan dan pemberian antibiotik yang tidak tepat menjadi beberapa faktor yang dapat menimbulkan resistensi antibiotik khususnya pada unggas.
Kesadaran akan bahaya resistensi yang semakin meningkat ini pada akhirnya membawa Indonesia pada penetapan regulasi pelarangan penggunaan AGP yang sudah diterapkan sejak awal tahun 2018. Charles memaparkan kesimpulan hasil pengamatan lapangan yang dilakukannya pada sejumlah peternakan broiler dan layer komersial terkait dampak regulasi pelarangan penggunaan AGP. Hasilnya, banyak ditemukan gangguan pertumbuhan hingga kejadian penyakit bakterial dan koksidiosis meningkat disertai penyakit turunannya. Hal tersebut juga tidak disertai manajemen yang tidak optimal. “Sementara pada peternakan broiler dengan manajemen yang optimal, tidak ditemukan dampak yang signifikan pada performa maupun kesehatan,” ujar Charles.
Pada akhirnya, strategi manajemen peternakan ayam yang tepat di era bebas AGP adalah dengan menerapkan best practice in farm management. “Penerapan manajemen yang baik harus dilakukan secara holistik atau terpadu,” ungkapnya. Misalnya, memberikan pakan yang lengkap dan berimbang dengan tingkat pencemaran bakteri dan mikotoksin yang rendah serta manajemen pemeliharaan, sistem perkandangan, peralatan, dan sumber air minum yang mendukung pertumbuhan dan produksi maksimal.
Tidak hanya itu, dibutuhkan penggunaan produk alternatif sebagai pengganti AGP, seperti probiotik, prebiotik, sinbiotik, enzim, dan lainnya. “Penggunaan produk alternatif ini dapat mendukung performa yang lebih baik dan kondisi kesehatan yang optimal,” ujar Charles.
Alterion: probiotik dengan strain unik
Elemen nutrisi, mikrobiota, dan host mucosa yang seimbang mengindikasikan usus yang sehat. Akan tetapi, tantangan dapat muncul sewaktu-waktu, seperti dysbacteriosis yakni kondisi tidak seimbang dengan berbagai variasi dengan adanya gangguan mikrobiota usus. Tanda-tanda kondisi ini, diantaranya tight junction rusak hingga penurunan panjang villi dan rasio villi/crypt.
Dr. Pierre-Andre Geraert, PhD Director Scientific Marketing Adisseo France mengatakan, solusi secara nutrisi untuk mencegah dysbacteriosis pada usus harus memperhatikan ekologi usus atau saluran pencernaan secara keseluruhan dan ekologi nutrisi. Faktor kunci untuk mendukung performa adalah integritas usus, mikrobiota yang seimbang dan beragam, dan didukung dengan bantuan enzim, probiotik, dan solusi lainnya. “Tetapi, berbagai solusi altenatif tersebut harus jelas kegunaannya. Cara kerjanya harus presisi dan mendukung serta memberikan manfaat secara maksimal dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya,” ujar Pierre.
Untuk menciptakan kondisi yang seimbang dalam usus, maka perlu mikrobiota baik yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Adisseo dalam hal ini melakukan penelitian untuk menciptakan formula nutrisi yang baik untuk hewan.
“Kami menseleksi strain unik untuk menawarkan probiotik terbaik, agar dapat bekerja secara aktif dan stabil, meningkatkan performa, bekerja optimal terhadap kesehatan usus, dan aman digunakan,” terang Dr. Sumit Saxena, MSc. MBA, Manager of Alterion Business in Adisseo Asia Pacific. Hingga akhirnya hadir produk Alterion dengan kandungan B. Subtilis 29784.
Strain yang dimiliki Alterion bekerja secara spesifik dan berdampak positif pada kesehatan usus melalui mekanisme secara langsung maupun tidak langsung. B.Subtilis dalam Alterion telah teruji memberikan hasil positif pada beberapa hal jika dibandingkan dengan produk lainnya yang serupa, diantaranya anti-C perfringens, anti-E. coli, stabilitas lebih terjaga, hemolysis, AB gene resistance, dan anti-inflamasi. “Pada performa, hasilnya terbukti konsisten, sedangkan pada kesehatan usus bekerja terhadap dysbacteriosis/NE,” papar Sumit.
Alterion memiliki 3 area yang menjadi sasarannya, yaitu mikrobiota dan patogen, dinding intestinal, dan sistem imunitas. Pada suatu percobaan, Alterion telah terbukti efektif dan ekonomis. Pada percobaan lainnya, produk ini telah teruji mampu memberikan performa yang konsisten pada ayam. Alterion adalah alat untuk membantu pelaku usaha di industri perunggasan dalam mengelola kesehatan usus unggas, terutama ketika AGP dihapuskan.
Tim Adisseo dalam acara peluncuran Alterion di Jakarta.