Chick Day merupakan acara tahunan yang tidak pernah Ceva Animal Health tinggalkan. Tidak hanya produk, informasi demi informasi selalu Ceva berikan kepada para pelanggannya. Pasalnya Ceva ingin semua stakeholders perunggasan khususnya di Indonesia agar tidak ketinggalan dengan update teknologi yang berkembang di negara maju, bahkan harapannya, bisa dengan cepat diadopsi di Indonesia.
Bertempat di Hotel Santika Premier, Bintaro, Jakarta, Ceva menggelar seminar “Chick Day 2019”, Selasa (09/04). Menurut Edy Purwoko selaku Country Manager Ceva Indonesia, Chick day merupakan event tahunan yang menjadi salah satu apresiasi Ceva kepada para pelanggan setianya. Pada Chick Day 2018 lalu Ceva mengusung tema tentang “Raising Broiler without Antibiotics” dan di tahun 2019 ini Ceva kembali hadir dengan tema “Smart Poultry Farming”. “Intinya Ceva selalu berusaha membawa yang baru, teknologi baru, wacana baru, yang harapannya kalau diadopsi bisa membawa keuntungan yang lebih baik, efisiensi yang lebih baik untuk para peternak, terutama untuk para pelanggan,” ungkap Edy.
Indonesia perlu program vaksin baru
Selaku Asia Veterinary Services Manager Ceva Animal Health Asia, Jessica Lee, DVM dalam seminar tersebut menyampaikan ucapan terima kasih atas support-nya, karena Ceva sudah dipercaya dengan baik di Indonesia. Sebagai leader di hatchery vaccination, produk unggulan nya yaitu Transmune sudah 10 tahun sudah membawa nilai-nilai untuk peternak di Asia.
Di tahun 2008, tercatat sebanyak 20% IBD new vaccine technology yaitu IBD hatchery vaccine digunakan di Indonesia, sisanya sebanyak 80% masih menggunakan vaksin konvensional. Dan di tahun 2018 sudah sebanyak 80% yang menggunakan IBD hatchery vaccine. Hal ini membuktikan Transmune telah menajadi pionir dan leader di hatchery vaccination di Indonesia.
Dalam hal ini, Ceva mengembangkan metode quality control untuk produk Transmune ini secara spesifik, yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain. Metode spesifik ini disebut sebagai CID50 (Chicken Infective Dose 50). Metode ini digunakan untuk memastikan bahwa potensi yang di produksi atau vaksin yang dijual diketahui secara tepat. Transmune ini juga sudah digunakan lebih dari 342 hatchery di Asia. Dan lebih dari 4,2 miliyar ayam sudah di vaksin dengan Transmune di Asia selama tahun 2018 ini.
Dalam kesempatan yang sama, Technical and Marketing Manager Ceva Animal Health Indonesia, Ayatullah M. Natsir menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dihimpun oleh tim Ceva pada tahun 2018, dari 721 penyakit yang terjadi di peternakan, Newcastle Disease (ND) menunjukkan kasus penyakit dengan jumlah yang paling besar. Dalam situasi seperti ini, Ceva memperkenalkan produk vector vaccine-nya yaitu Vectormune ND. Vectormune® ND adalah sel asosiasi live rekombinan turkey herpesvirus (HVT) yang mengekspresikan fusion protein dari Newcastle diseases virus D-26 lentogenic strain. Vector vaccine ini juga bisa diaplikasikan di vaksinasi telur menggunakan in-ovo vaccination. Produk ini sudah dipakai di 78 negara, dan akan segera hadir di Indonesia.
Pascal Paulet, Poultry Corporate Franchise Director, Ceva Sante Animale France yang juga merupakan salah satu pemateri mengatakan, Ceva berinovasi mulai dari di hatchery, di farm, hingga di slaughter house. Untuk di farm inovasinya berupa memonitor kejadian penyakit di lapangan dengan teknologi yang sudah ditawarkan. Untuk di hatchery inovasinya berhubungan dengan bagaimana cara mengaplikasikan vaksin dengan baik, serta bagaimana menghasilkan DOC yang optimal. Selain itu, ia menjelaskan mengenai solusi Ceva untuk penyakit Infectious Bronchitis (IB) yaitu Cevac IBird.
Chalermchai Skulphuek selaku Vaccination Services and Equipment Manager, Ceva Animal Health Asia, juga ikut menambahkan bahwa sistem otomasi vaksin memiliki keunggulan untuk menghasilkan output yang maksimum. Dalam hal ini, Ceva memiliki alat yaitu Laser Life Candling dan Egginject. Laser life candling adalah generasi terbaru alat candling yang mampu mendeteksi dan membedakan telur tetas dalam kondisi baik dengan telur tetas yang busuk, infertile ataupun early dead, mid dead ataupun late date. Sedangkan Egginject ditujukan untuk alat vaksinasi pada telur. Dan dapat digunakan untuk penggunaan vector vaccine. Vaksinasi dilakukan ditelur memiliki keunggulan lebih aman, konstan dan juga lebih akurat.
Para peserta memadati ruangan seminar Chick Day 2019
Sudah saatnya cerdas dalam beternak
Dalam seminar Ceva dengan tema “Smart Poultry Farming” kali ini, Ceva ingin bisa meningkatkan keuntungan di industri perunggasan ini, serta bagaimana bisa meningkatkan kenyamanan dan kesehatan ayam. Prof. Dr. E. (Lenny) van Erp-van der Kooij, dari HAS University, the Netherlands yang merupakan salah pemateri dalam seminar menjelaskan bahwa intinya terhadap dua hal penting dalam mewujudkan “Smart Poultry Farming”, yaitu dengan manajemen data dan kemajuan teknologi.
Data menajemen di sini diperlukan untuk mengevaluasi hasil kerja, dan bisa digunakan untuk menganalisa lebih dini apabila ada kejadian yang tidak sewajarnya pada ayam. Selain itu ada salah satu jenis teknologi baru yang diperkenalkan yaitu sensor kamera. Dimana sensor kamera ini mampu mengontrol 24 jam kondisi ayam di kandang, tanpa kita harus masuk ke kandang.
Selain sensor kamera, Lenny juga berbicara tentang sensor suara. Sensor ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi alat pernafasan ayam. Yang lebih menarik adalah adanya teknologi seperti robot yang bisa bekerja di dalam kandang. Robot ini bisa bekerja untuk mengurangi kadar amonia dalam kandang, sehingga kondisi lingkungan kandang bisa nyaman untuk ayam. “Dengan kita bisa mendeteksi kondisi ayam sedini mungkin, itu sangat berarti untuk menentukan performa ayam selanjutnya. Dan kami berharap tidak lama lagi ini bisa cepat diterapkan peternakan di Indonesia, sehingga bisa meningkatkan kemakmuran peternak, dan memajukan industri peternakan di Indonesia,” tandas Lenny.
Ceva peduli penyakit stunting
Tidak hanya membawa teknologi yang baru, dalam Chick Day kali ini Ceva juga ikut menyerukan pencegahan penyakit stunting, dengan membawa jargonnya yaitu “Embrace Chicken and Eggs, to Break the Cycle of Child Stunting”. Ini merupakan salah satu acara yang diinisiasi oleh para generasi muda di Ceva, dimana acara ini merupakan program CSR yang diselenggarakan tidak hanya di Indonesia saja, namun diserukan di 9 negara Asia. Gerakan yang sudah di launching pada pameran VIV di Bangkok tanggal 13-15 Maret 2019 ini, merupakan social movement dari Ceva Animal Health Asia “Tahap awal kita campaign lewat media sosial, dengan foto dan video. Dari sini kita ingin bisa mengajak masyarakat untuk lebih peka dan aware pada isu stunting pada anak, yaitu dengan menyediakan informasi-informasi bagaimana kita bisa mencegah stunting, salah satu nya dengan cara mengonsumsi ayam dan telur,” tambah Adhysta Prahaswari, Marketing Executive Ceva Animal Health Indonesia.