Big Dutchman (BD) Agriculture, BEC Feed Solutions, dan Hendrix Genetics kembali menggelar Layer Solutions Day (LSD) di Payakumbuh, Sumatera Barat, Kamis (13/8). Dengan mengusung tema “Mencapai Performa Produksi Ayam Petelur yang Optimal Melalui Perbaikan Manajemen”, acara ini mempertemukan peternak layer mandiri dengan para pakar di bidang peralatan kandang, nutrisi, dan genetik ayam.

Agenda dibuka dengan sambutan hangat dari masing-masing perusahaan. Mewakili PT Big Dutchman Agriculture Indonesia, Ansyar Jalaludin selaku Area Sales Manager of Sumatera, menyambut para peternak yang telah menyempatkan hadir di sela-sela aktivitas untuk berdiskusi bersama. Mengingat kondisi harga telur yang tengah menjadi perhatian para peternak, ia mengajak peserta untuk tidak sungkan bertanya dan berdiskusi mengenai persoalan di masing-masing kandang.

Dari PT BEC Feed Solutions Indonesia, Anjas Morodiono selaku National Sales & Marketing Manager, mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para peternak dari berbagi daerah yang telah datang ke Payakumbuh. Ia pun mengingatkan bahwa kehadiran tiga perusahaan sekaligus dalam kegiatan ini dapat memberikan solusi yang lebih lengkap, mulai dari sisi kandang, nutrisi, hingga genetik. 

Sementara itu, Technical Manager Hendrix Genetics for Indonesia & Philippine, Erwan Julianto, menyampaikan rasa senangnya berpartisipasi dalam kegiatan rutin kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa forum ini hadir untuk memberikan solusi nyata di tengah tantangan bisnis layer yang semakin kompleks.

Peran Teknologi di Tengah Tantangan Suhu

Pembahasan pertama menyoroti tentang tantangan pengendalian suhu kandang serta peran teknologi ventilasi dalam menjaga kondisi lingkungan tetap optimal bagi ayam petelur. Area Sales Manager of West Java PT BD Agriculture Indonesia, Edi Hidayat, memaparkan bahwa ada tiga aspek yang berpengaruh dalam memaksimalkan potensi HDP (Hen Day Production) ayam petelur, yaitu lingkungan, nutrisi, dan kesehatan. Khususnya dalam aspek lingkungan, peternak wajib menyediakan fasilitas yang dibutuhkan ayam, termasuk salah satunya kebutuhan sirkulasi udara.

Edi menyebut suhu nyaman bagi ayam berada pada kisaran 18–24 derajat Celsius. Apabila suhu di luar kisaran tersebut, konsumsi pakan dan air minum akan terganggu. Ketika suhu terlalu rendah, misalnya, feed intake-nya akan meningkat. Pakan yang dikonsumsi ayam juga jadi lebih banyak untuk mempertahankan suhu tubuh, bukan untuk mendukung produksi. Sebaliknya, ketika suhu di atas kisaran ideal, feed intake akan menurun dan berdampak pada produksi telur. Di kondisi yang lebih parah, ayam dapat mengalami heat stress dengan risiko mortalitas yang juga meningkat.

“Persoalan suhu menjadi semakin penting di wilayah tropis seperti Payakumbuh. Berdasarkan pemetaan kondisi iklim Payakumbuh selama setahun menggunakan perangkat lunak Meteonorm, ayam hanya berada dalam zona nyaman selama sekitar 2,5% waktu dalam setahun. Sementara itu, 35% berada dalam zona alert, 53,5% dalam zona danger, dan 9% dalam zona emergency,” jelasnya.

Dari temuan tersebut, ia menekankan pentingnya strategi ventilasi sesuai kondisi suhu dan kelembapan di masing-masing daerah. Pengendalian suhu tidak cukup mengandalkan ventilasi secara konvensional, sehingga diperlukan penanganan melalui pengaturan ventilasi. Dengan sistem closed house, temperatur kandang dapat dijaga pada level yang optimal sepanjang tahun sehingga kesehatan dan produktivitas ayam tetap terjaga, performa dan konversi pakan lebih baik, serta mortalitas dapat ditekan.

Masih mengenai suhu di kandang, Tommy Lim, Product Sales Manager for Climate BD Agriculture Malaysia, mengangkat konsep kandang sebagai satu kesatuan sistem yang mendukung performa ayam. Menurutnya, efektivitas pengendalian suhu tidak hanya bergantung pada sistem ventilasi, tetapi juga pada kemampuan konstruksi kandang dalam menahan panas dari luar. 

Dari beberapa jenis material yang ada, seperti bata (brick), beton (concrete), kayu, vinyl wall, glass wool, dan PU panel, Tommy menjelaskan bahwa pemilihan material dinding kandang sangat menentukan seberapa besar panas dari luar dapat menembus ke dalam kandang. Bahkan, ia memperlihatkan perbedaan suhu pada dinding luar dan dalam kandang melalui pengukuran kamera infrared. 

“Insulasi yang bagus itu sangat penting. Jika insulasinya bagus, panas dari luar tidak mudah masuk ke dalam kandang. Saya sarankan gunakan dua lapis insulasi pada atap dan dinding untuk mengurangi beban kerja sistem ventilasi dan cooling. Dengan begitu, penggunaan energi pun menjadi lebih efisien. Tetapi, pemasangannya juga harus diperhatikan karena sambungan panel yang tidak rapat dapat menjadi celah masuknya panas meski material kandang sudah bagus,” tegasnya.

Performa Optimal, Untung Maksimal

Bukan hanya dari faktor lingkungan, performa ayam petelur juga berkaitan erat dengan asupan nutrisi dan manajemen pemeliharaan yang tepat. Mega Saragi, Nutritionist and Technical Manager PT BEC Feed Solutions Indonesia melanjutkan sesi materi dengan menjelaskan bagaimana strategi nutrisi dapat mengoptimalkan penggunaan pakan dan meningkatkan keuntungan peternak.

“Fokus kita adalah bagaimana strategi supaya pakan yang kita kasih ke ayam bisa menghasilkan performa. Performa tidak hanya diukur dari tingginya produksi telur, tetapi juga bobot dan kualitas telur. Namun, pakan yang dikonsumsi ayam tidak serta-merta menjadi keuntungan karena harus melalui proses pencernaan, penyerapan, dan metabolisme. Sebagian nutrien dapat menjadi telur, sementara sebagian lainnya terbuang sebagai feses atau digunakan sebagai energi,” ujarnya.

Untuk menghasilkan pakan yang sesuai, Mega menjelaskan bahwa formulasi perlu diawali dengan penentuan spesifikasi nutrien berdasarkan kebutuhan produksi, kemudian disesuaikan dengan ketersediaan dan kualitas bahan baku. Rekomendasi dari perusahaan pembibitan dapat menjadi titik awal, tetapi formulasi tetap perlu diadaptasi dengan kondisi daerah setiap peternakan. 

“Termasuk ketika menggunakan bahan baku alternatif, penting untuk waspada terhadap anti-nutrisi dan mikotoksin di dalamnya. Apalagi bahan baku alternatif ini belakangan semakin sering digunakan peternak. Selain kandungan nutrien, harga dan kestabilan kualitas bahan baku juga perlu diperhatikan,” ujarnya.

Ketepatan nutrisi pada akhirnya dapat dilihat dari performa ayam dan kualitas telur yang dihasilkan. Ketika produksi atau bobot telur tidak sesuai harapan, ia menyarankan peternak mengevaluasi kebutuhan energi dan asam amino, termasuk kecernaan dan keseimbangannya, bukan sekadar melihat persentase protein kasar. Tak hanya itu, kesehatan hati dan saluran pencernaannya juga perlu diperhatikan agar nutrisi tidak banyak digunakan untuk pertahanan tubuh dan bisa dimanfaatkan untuk produksi secara optimal.

Di kesempatan yang sama, Erwan Julianto selaku Technical Manager Hendrix Genetics for Indonesia & Philippine, mengaitkan manajemen peternakan langsung dengan potensi keuntungan yang bisa diraih peternak. Menurutnya, meski harga telur dan bahan baku berada di luar kendali peternak, manajemen dan performa kandang tetap sepenuhnya dapat dikendalikan.

Ia kemudian memperkenalkan formula sederhana namun krusial bagi peternak layer, yaitu 5-16-300. Angka 5 merujuk pada standar bobot badan umur lima minggu yang harus dikejar bersama keseragamannya, angka 16 adalah keseragaman bobot pada umur 16 minggu sebelum stimulasi cahaya dilakukan, sementara angka 300 adalah tambahan bobot dari 1,5 kilogram menjadi 1,8 kilogram menjelang masa produksi. 

“Kalau bobot ayam belum seragam, jangan dipaksakan untuk melakukan stimulasi cahaya. Lebih baik menunggu satu atau dua minggu daripada memaksakan ayam yang masih kecil, karena efeknya bisa sampai akhir produksi. Yang perlu diingat, data berat telur adalah indikator tercepat mendeteksi masalah nutrisi, karena ayam cenderung mempertahankan jumlah produksi lebih dulu sebelum mengorbankan berat telurnya,” jelasnya.

Tak hanya sesi materi, diskusi, dan tanya jawab, acara ini juga dimeriahkan dengan kegiatan kuis dan doorprize sehingga sangat berkesan bagi para peserta. Melalui kolaborasi dalam kegiatan ini, Big Dutchman (BD) Agriculture, BEC Feed Solutions, dan Hendrix Genetics berharap dapat terus mendampingi peternak layer di Indonesia untuk mencapai produksi yang lebih optimal dan efisien di tengah dinamika industri perunggasan. ADV