Infeksi Mycoplasma synoviae (MS) dan Mycoplasma gallisepticum (MG) masih menjadi salah satu tantangan penting dalam kesehatan unggas.
Tidak hanya berkaitan dengan gangguan respirasi dan performa ayam, kompleksitas karakteristik Mycoplasma membuat pengendaliannya membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi antara patogen, inang, vaksinasi, dan lingkungan.
Hal ini menjadi fokus seminar berjudul “Ecology and Host Response of MS and MG Infections in Chickens” yang diselenggarakan di Ruang Cendana 2 ICE BSD pada 17 September 2026 dalam rangkaian ILDEX Indonesia 2026. Seminar menghadirkan Prof. Dr. Chris Morrow, PhD., BDSc, selaku Senior Technical Advisor Bioproperties, sebagai narasumber utama.
Drh. Mulia Trisutandi, selaku Businness Manager Poultry Vaccine PT. Romindo Primavetcom, mengajak para peserta untuk meningkatkan awareness terhadap Mycoplasma synoviae dan pentingnya pengendalian yang tepat. “Mycoplasma synoviae harus kita kendalikan dengan tepat dan dengan solusi yang efektif,” ungkap Mulia.
Mycoplasma Bukan Infeksi Bakteri Biasa
Dengan pengalaman sekitar 40 tahun di bidang kesehatan unggas, Prof. Chris Morrow telah lama meneliti Mycoplasma. Beliau mulai melakukan penelitian mengenai Mycoplasma synoviae di Australia pada 1991 dan pada 1998 mengembangkan vaksin MS. Pengalaman tersebut menjadi dasar dalam pemaparannya mengenai karakteristik unik MS dan MG.
Menurut Prof. Chris Morrow, salah satu hal yang membuat Mycoplasma berbeda adalah pola infeksinya. Mycoplasma dapat ditularkan secara horizontal maupun vertikal dan infeksinya dapat bertahan sepanjang hidup ayam. Berbeda dengan banyak infeksi bakteri yang bersifat sementara, Mycoplasma dapat menjadi infeksi yang aktif dan kronis.
“Mycoplasma sangat tidak biasa dibandingkan dengan bakteri lain. Mereka memiliki transmisi horizontal dan vertikal. Setelah masuk ke dalam burung, mereka dapat tetap berada di dalam tubuh dan menjadi infeksi yang aktif dan kronis,” ungkap Chris.
Karakteristik lainnya adalah kemampuan Mycoplasma untuk beradaptasi terhadap respons imun. Perubahan protein permukaan memungkinkan organisme tersebut menghindari atau mengurangi efektivitas respons imun yang terbentuk.
“Ketika kita mencoba mengendalikan Mycoplasma, kita sebenarnya sedang mengejar target yang bergerak, karena Mycoplasma dapat mengubah protein permukaannya untuk menghindari respons imun,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Mycoplasma tidak cukup hanya dengan melihat respons antibodi. Interaksi antara patogen dan sistem imun jauh lebih kompleks dan perlu dipahami secara menyeluruh.
Menjaga Pertahanan Saluran Pernapasan
MS dan MG memiliki hubungan erat dengan sistem respirasi ayam, khususnya dengan silia pada saluran pernapasan. Kerusakan terhadap sistem pertahanan alami tersebut dapat memperburuk kondisi respirasi, terlebih apabila ayam menghadapi faktor predisposisi lainnya seperti kualitas udara yang buruk, kadar amonia tinggi, maupun infeksi respirasi lain.
Prof. Chris Morrow menjelaskan bahwa MS dan MG dapat berinteraksi dengan silia pada lokasi yang berbeda. Karena itu, pemahaman terhadap mekanisme infeksi menjadi penting dalam menentukan strategi pengendalian.
“MG dan MS berinteraksi dengan sistem respirasi dan silia. Ketika sistem ini terganggu, pertahanan alami saluran pernapasan ayam juga dapat ikut terganggu,” ujar Chris. Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa infeksi Mycoplasma dapat menjadi semakin kompleks ketika muncul bersama faktor penyakit atau stres lainnya.
Respons Imun Menjadi Kunci
Ia pun menjelaskan bahwa keberhasilan perlindungan terhadap Mycoplasma tidak dapat hanya dinilai berdasarkan kadar antibodi yang terukur. Respons imun mukosal pada trakea memiliki peranan penting, termasuk keterlibatan sistem imun T-cell dan B-cell. Vaksin hidup dapat membantu membentuk respons imun tersebut, tetapi proses pembentukannya membutuhkan waktu dan dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ayam.
“Pada Mycoplasma, respons antibodi tidak selalu menjadi indikator perlindungan yang paling relevan. Kami melihat bahwa imunitas mukosal pada trakea merupakan salah satu fitur penting dari perlindungan yang diperoleh melalui vaksinasi,” ungkapnya.
Ia juga dijelaskan bahwa kondisi imunosupresi, termasuk yang berkaitan dengan chicken anemia dan IBD, dapat memengaruhi kemampuan ayam dalam merespons vaksinasi. Oleh sebab itu, keberhasilan vaksinasi perlu dipandang sebagai bagian dari program kesehatan flok secara keseluruhan.
Selain vaksinasi, penggunaan antibiotik juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Prof. Chris Morrow menekankan bahwa penggunaan antibiotik di sekitar periode vaksinasi perlu dipertimbangkan dengan cermat, khususnya ketika menggunakan vaksin hidup.
Respons imun membutuhkan waktu untuk berkembang. Karena itu, penggunaan antibiotik antimikoplasma terlalu dekat dengan periode vaksinasi dapat mengganggu proses yang diharapkan dari vaksin hidup.
Pembahasan kemudian mengarah pada isu yang semakin penting di industri perunggasan, yaitu resistensi antimikroba. Ia pun menunjukkan adanya isolat Mycoplasma dari berbagai wilayah yang memperlihatkan resistensi terhadap beberapa kelompok antibiotik.
“Semakin banyak antibiotik yang kita gunakan, semakin banyak resistensi yang kita lihat berkembang. Karena itu, kita perlu bekerja dengan cara yang berbeda untuk mengendalikan Mycoplasma,” tambahnya.
Resistensi antibiotik tidak hanya terjadi melalui perubahan target antibiotik. Mekanisme lain seperti efflux dan pembentukan biofilm juga dapat berperan dalam kemampuan organisme bertahan terhadap paparan antimikroba. Maka dari itu, penting pendekatan pengendalian yang lebih terpadu, dengan menggabungkan vaksinasi, biosekuriti, manajemen lingkungan, monitoring kesehatan flok, serta penggunaan antibiotik secara bijaksana.
Seminar ini menjadi momentum bagi para pelaku industri unggas untuk melihat MS dan MG dari perspektif yang lebih luas. Pengendalian Mycoplasma bukan hanya mengenai bagaimana menangani ayam yang menunjukkan gejala klinis, tetapi juga bagaimana memahami ekologi infeksi, respons inang, efektivitas vaksinasi, kondisi imunitas, serta penggunaan antimikroba. ADV