POULTRYINDONESIA, Tangerang – Inovasi nutrisi presisi serta teknologi pintar seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) mengemuka dalam Seminar Nasional MIPI-WPSA Indonesia di tengah topik diskusi ketahanan industri perunggasan. Turut dihadiri oleh akademisi, peneliti, dan praktisi, forum ini dilaksanakan sebagai bagian dari gelaran pameran AGRIMAT di NICE PIK 2, Rabu (6/5).
Salah satu inovasi teknologi yang dipaparkan ialah LENTERA, smart farming berbasis AI dan IoT hasil pengembangan civitas akademika Universitas Brawijaya untuk membantu memaksimalkan performa broiler. Danung Nur Adli, S.Pt., M.Sc., M.Pt., Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, menyebut teknologi ini sebagai jawaban atas persoalan ketidakseragaman bobot ayam yang masih sering terjadi di kandang, meskipun strain, pakan, hingga manajemen pemeliharaan sudah dibuat seragam.
“Meskipun fasilitas, suhu, hingga standar pemeliharaan sudah dibuat sama, tetapi bobot ayam tetap tidak seragam. Ini yang menjadi masalah peternak, sehingga kita kembangkan teknologi yang dapat mendeteksi bobot ayam, kondisi kesehatan, hingga potensi kompetisi pakan antarayam hanya dengan memanfaatkan sensor suhu dan kelembapan,” ujar Danung.
Sistem ini dibuat terhubung ke cloud, dashboard monitoring, serta drone berbasis vision image untuk memetakan kondisi kandang secara otomatis. Dengan begitu, peternak atau petugas di lapangan tidak harus keluar masuk kandang dan biosecurity jadi lebih terjaga.
“Dengan drone, kita akan terbangkan secara otonom untuk merekam kondisi kandang. Dari situ petugas bisa melihat kalau ternyata ada masalah, sehingga kita bisa melakukan pengambilan keputusan lebih cepat,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Dr. Ir. Cecep Hidayat, S.Pt., M.Si., IPM., ASEAN Eng., memaparkan pentingnya penerapan nutrisi presisi untuk mendukung keberlanjutan industri perunggasan. Menurutnya, kebutuhan nutrien ayam pedaging modern berubah setiap hari mengikuti pertumbuhan genetiknya, sehingga sistem pemberian pakan konvensional dinilai sudah tidak lagi cukup presisi.
Sebagai subsektor peternakan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, industri unggas global juga dihadapkan pada berbagai tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan produksinya. Cecep menyebut, berdasarkan kajian internasional yang dipublikasi pada tahun 2021, terdapat delapan tantangan utama yang harus diselesaikan.
Tantangan tersebut berupa meningkatnya permintaan daging unggas global, tingginya biaya pakan, keterbatasan sumber daya alam dan kompetisi pangan, dampak lingkungan dari produksi pakan dan limbah unggas, ekskresi nitrogen dan fosfor, batas biologis efisiensi genetik ayam modern, kesejahteraan hewan dan kualitas daging, serta sistem produksi alternatif dan stres lingkungan.
“Sebagai nutrisionis, saya melihat salah satu solusi utama untuk menghadapi tantangan ini adalah penerapan nutrisi presisi. Inti dari nutrisi presisi adalah menyelaraskan suplai nutrisi dengan kebutuhan individu hewan secara real-time atau berdasarkan kebutuhan hariannya, sehingga tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan nutrien,” ujar Cecep.
Ia menjelaskan, sistem pemberian pakan tiga fase seperti starter, grower, dan finisher masih menyisakan celah antara kebutuhan nutrisi ayam dengan kandungan nutrien dalam pakan. Kondisi tersebut dinilai menyebabkan pemborosan nutrien, meningkatkan biaya produksi, hingga memicu ekskresi nitrogen dan amonia yang berdampak pada pencemaran lingkungan kandang.
“Ada beberapa ruang lingkup nutrisi presisi, mulai dari penentuan kebutuhan nutrien harian, karakterisasi bahan pakan secara akurat, formulasi ransum presisi, pemberian pakan presisi, hingga pemberian pakan dinamis berbasis harian atau multi-phase. Metode ini memberikan nutrisi dengan jumlah, waktu, sumber, dan biaya yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri unggas,” jelas Cecep. Anggi
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia