POULTRYINDONESIA, Tangerang Selatan – Industri perunggasan global tengah berada dalam fase transisi. Di satu sisi, tekanan biaya produksi terus meningkat, terutama akibat mahalnya bahan baku pakan. Di sisi lain, tuntutan terhadap praktik produksi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan aman bagi kesehatan manusia semakin menguat. Dalam konteks ini, pendekatan terhadap nutrisi unggas tidak lagi dapat mengandalkan pola konvensional semata.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum bertajuk Masterclass yang diselenggarakan oleh Huvepharma di Tangerang Selatan pada Selasa (5/5), yang menghadirkan berbagai pandangan mengenai arah baru nutrisi unggas modern.
Dutch Feed Consultancy, Rik Pieterse menekankan bahwa formulasi konvensional dalam nutrisi unggas yang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrien minimum sudah tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan industri saat ini.
“Sudah saatnya kita mempertimbangkan interaksi antar nutrien, efisiensi metabolisme, juga dampak ekonomi dari setiap formulasi pakan. Formulasi pakan modern harus mampu mengoptimalkan performa unggas tanpa mengorbankan efisiensi biaya produksi”.
Selanjutnya, Lode Nollet selaku Global Product Manager Poultry Enzymes Huvepharma dalam paparannya menyoroti sebagian besar fosfor dalam jagung dan bungkil kedelai berada dalam bentuk yang tidak dapat dicerna secara langsung oleh unggas. Tanpa bantuan enzim, fosfor tersebut akan terbuang dan tidak memberikan kontribusi apapun dalam nutrisi unggas.
“Pemanfaatan enzim phytase dalam formulasi pakan akan meningkatkan efisiensi nutrisi sekaligus menekan biaya produksi. Di tengah tingginya bahan baku, khususnya sumber fosfor anorganik seperti DCP dan MCP, penggunaan enzim phytase sudah seharusnya dilakukan,” jelasnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Veerle Hautekiet selaku Global Marketing Director Huvepharma menyebutkan bahwa pada tahun 2020 terdapat sekitar 1,3 juta kematian pada manusia yang berkaitan dengan AMR, dan angka ini diproyeksikan dapat meningkat hingga 10 juta pada 2050. Salah satu faktor yang disinyalir berkontribusi adalah residu antibiotik, termasuk yang berasal dari sektor perunggasan.
“Peternakan tidak boleh hanya berfokus pada produksi, harus lebih memperhatikan kesehatan kita manusia sebagai konsumen akhir. Dulu antibiotik dikembangkan sebagai solusi untuk berbagai penyakit yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Tapi sekarang, banyak negara termasuk Indonesia yang melarang penggunaan antibiotik, khususnya dalam produksi unggas”.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia