POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menggelar Chicken & Egg Run 2026 di Yogyakarta, Minggu (18/7/2026). Kegiatan yang diikuti hampir 3.000 peserta ini menjadi acara puncak dari rangkaian peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) sekaligus upaya mendorong peningkatan konsumsi ayam dan telur di masyarakat.
Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengampanyekan pentingnya pemenuhan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat. Menurutnya, ayam dan telur merupakan sumber protein yang relatif murah dan mudah diakses, sehingga perlu semakin dikenal sebagai bagian dari pola konsumsi pangan sehari-hari.
Saat ini, konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada di kisaran 14–15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi telur mencapai sekitar 23 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh tertinggal dari tingkat konsumsi di negara-negara tetangga.
“Harapan kita, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih awal bahwa ayam dan telur adalah protein paling murah di Indonesia dan sangat dibutuhkan, terutama untuk anak-anak generasi ke depan,” kata Singgih.
Lebih lanjut, Singgih menegaskan bahwa pemenuhan protein hewani berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Namun, upaya meningkatkan konsumsi ayam dan telur perlu diimbangi dengan perbaikan kondisi usaha di sektor perunggasan agar produk tersebut semakin terjangkau.
Menurutnya, pelaku usaha masih menghadapi tingginya biaya pokok produksi, salah satunya akibat mahalnya harga pakan, terutama bahan baku jagung. Kondisi ini menjadi tantangan bagi peternak untuk menyediakan produk dengan harga yang terjangkau bagi konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
“Walaupun sekarang ayam dan telur paling murah dibanding yang lain, kalau lebih murah tentu lebih baik. Kami ingin memberikan pesan ke pemerintah agar HPP diturunkan supaya semua orang mampu membeli,” ujarnya.
Dukungan terhadap penguatan ekosistem perunggasan juga disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Koperasi Bidang Kebijakan Publik, Koko Haryono. Ia mengapresiasi inisiatif PINSAR Indonesia dan mendorong penguatan kelembagaan peternak melalui koperasi agar pelaku usaha memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai dukungan usaha.
“Kami harap PINSAR bisa menguatkan organisasinya melalui koperasi, karena koperasi akan menjadi ekosistem yang membantu dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Penguatan koperasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola usaha, mempermudah akses pembiayaan, serta mengintegrasikan peternak ke dalam program strategis pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
“Dengan dukungan kelembagaan yang lebih kuat, peternak diharapkan dapat memperoleh peluang pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha perunggasan nasional,” tegasnya.