Perubahan iklim tidak hanya membawa konsekuensi terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga dapat menjadi faktor pemicu meningkatnya risiko penyakit pada industri perunggasan. 
Cuaca ekstrem dan fenomena El Nino dapat mempercepat perkembangan hama serta meningkatkan risiko penyakit berbasis vektor di peternakan unggas Kondisi tersebut menjadi perhatian Envu Indonesia berkolaborasi bersama PT SHS International dengan menyelenggarakan Poultry Pest Day 2026 yang digelar secara Hybrid dari Hotel Surabaya, pada 2 September 2026.
Dalam kesempatan ini, Area Sales Manager East Area PT SHS International, drh. Kasih Kurnianto menyampaikan rasa terima kasihnya untuk partisipasi pada acara Envu Indonesia. “Mudah mudahan akan mendapatkan tambahan ilmu dan informasi yang akan berguna untuk menjalankan kegiatan sehari hari di tempat kerja dan dapat mengaplikasikan di lapangan,” ujar Kasih.
Kemudian, Vivek Sharma, Managing Director Envu Indonesia, menegaskan pentingnya industri poultry bagi perekonomian dan ketahanan pangan Indonesia. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat serta menekankan pentingnya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan penerapan solusi tepat untuk menghadapi tantangan industri dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. 
El Niño dan Risiko Heat Stress
Dalam kesempatan tersebut, drh. Harimurti Nuradji Ph.D dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan keterkaitan antara El Niño, heat stress, vektor, penyakit, dan performa unggas. Menurutnya, persoalan penyakit pada unggas tidak dapat dilihat hanya dari keberadaan agen penyakit.
El Niño ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada kondisi iklim di Indonesia, termasuk penurunan curah hujan dan peningkatan suhu. Bagi industri perunggasan, kondisi ini perlu diantisipasi karena suhu dan kelembaban berpengaruh langsung terhadap kenyamanan dan produktivitas unggas.
Harimurti menjelaskan bahwa peningkatan suhu dapat mempercepat siklus hidup sejumlah vektor, mulai dari telur, larva, pupa hingga dewasa. Akibatnya, populasi vektor berpotensi meningkat dan pada akhirnya memperbesar peluang terjadinya penularan penyakit. “Akibatnya, populasi vektor atau hama meningkat, risiko penularan penyakit semakin tinggi dan frekuensi serangan penyakit semakin sering,” ungkapnya.
Kompleksitas penyakit menunjukkan bahwa pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Diperlukan pendekatan terpadu melalui biosekuriti, manajemen kandang, litter, air, pakan, ventilasi, sanitasi, vaksinasi, dan pengendalian vektor.
Pengendalian penyakit perlu diarahkan pada pendekatan berbasis data melalui Disease Mapping dan Early Warning System. Pemantauan iklim, populasi vektor, dan kejadian penyakit dapat membantu mendeteksi perubahan risiko lebih dini sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum kasus berkembang.
Menghadapi Tantangan Hama di Tengah Suhu Ekstrem
Perubahan suhu dan kelembaban dapat mempercepat perkembangan berbagai hama dan vektor di lingkungan peternakan. Suhu yang meningkat dapat memperpendek siklus hidup lalat, kumbang Franky, nyamuk, dan gurem sehingga populasinya berpotensi meningkat.
Hal tersebut disampaikan Hadi Suparno, Senior Technical Services Manager Envu Indonesia. Ia menekankan bahwa pengendalian hama tidak cukup hanya dengan meningkatkan frekuensi aplikasi insektisida.  “Franky (Alphitobius diaperinus) sulit dikendalikan bukan karena hanya satu stadium yang sulit dibunuh, tetapi karena sebagian besar siklus hidupnya tersembunyi di litter dan struktur kandang,” ujar Hadi. 
Menurutnya pengendalian perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari menjaga kebersihan dan kekeringan litter, mengelola manure, memutus breeding site, hingga memilih metode aplikasi insektisida sesuai target hama. Selain itu, manajemen resistensi menjadi perhatian penting. Penggunaan bahan aktif dengan cara kerja yang sama secara berulang dapat meningkatkan risiko resistensi. Karena itu, rotasi produk dengan bahan aktif dan mekanisme kerja yang berbeda diperlukan dalam program pengendalian.
Pada akhirnya, kenaikan suhu akibat kondisi seperti El Niño dapat diikuti peningkatan populasi vektor/hama apabila kondisi lingkungan mendukung. Namun, dengan pengendalian yang tepat dan terintegrasi, populasi hama dapat ditekan sehingga risiko penyakit dan gangguan terhadap performa ayam juga dapat diminimalkan.
Integrated Pest Management Kendalikan Hama 
Cuaca ekstrem dan fenomena El Nino dapat mempercepat perkembangan hama serta meningkatkan risiko penyakit berbasis vektor di peternakan unggas. Kondisi ini mendorong pentingnya penerapan Integrated Pest Management (IPM) sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan dan performa produksi.
Moh. Suryana, selaku Sales Manager West Java Envu Indonesia menyebutkan bahwa pengendalian hama tidak cukup hanya mengandalkan produk, tetapi harus dilakukan secara terpadu melalui sanitasi, monitoring, biosekuriti, serta pengendalian yang tepat.
“Jangan hanya membeli produk. Kuatkan Integrated Pest Management (IPM) dan in-house pest control sebagai investasi perlindungan bisnis.” ujarnya. Program IPM Envu ditujukan untuk berbagai sistem produksi, mulai dari broiler, layer hingga breeding farm, dengan fokus pada pengendalian frangky, lalat, gurem, nyamuk, dan kecoa. Pengendalian dilakukan melalui kombinasi tindakan mekanik, monitoring, pengelolaan lingkungan dan penggunaan solusi pengendalian hama secara terukur.
Ia pun menyebutkan jika hasil trial menunjukkan program Envu mampu menurunkan populasi lalat hingga 62%, dibandingkan 9% pada program existing farm. Pada layer, program juga menunjukkan perbaikan FCR/egg mass dari 1,64 menjadi 1,56.
Program Envu dalam pengendalian vektor berkontribusi terhadap efisiensi pakan (FCR) yang optimal serta peningkatan kuantitas produksi. “Melalui pendekatan IPM, pengendalian hama tidak lagi dipandang sebagai biaya semata, tetapi sebagai investasi untuk menjaga kesehatan flok, efisiensi pakan, performa produksi, dan profitabilitas peternakan,” tutupnya.  ADV