Oleh : Aditya Ananda Putra – Technical Marketing CJ Bio
Heat stress bukan hanya masalah suhu, tetapi juga masalah metabolisme. Ketika unggas menghadapi temperatur lingkungan yang tinggi, konsumsi pakan menurun, kebutuhan untuk mempertahankan homeostasis meningkat, dan distribusi nutrien serta energi mengalami perubahan. Dampaknya dapat terlihat pada penurunan pertumbuhan, efisiensi pakan, kualitas karkas, kesehatan intestinal, hingga respons imun. Dalam kondisi tersebut, pendekatan nutrisi tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan asam amino untuk deposisi protein. Dibutuhkan functional amino acid yang mampu mendukung berbagai proses fisiologis secara simultan. Salah satu asam amino fungsional tersebut adalah arginine (Arg). Berbeda dengan konsep building block protein, arginine memiliki posisi strategis sebagai metabolic hub, karena dapat diarahkan ke berbagai jalur metabolisme dan menghasilkan metabolit bioaktif seperti nitric oxide (NO), ornithine, polyamines, guanidinoacetic acid (GAA), creatine, dan citrulline. Berbagai metabolit tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam membantu unggas menghadapi tantangan heat stress. Arginine → Nitric Oxide: Membantu Thermoregulation Salah satu jalur utama arginine adalah pembentukan nitric oxide (NO) melalui enzim nitric oxide synthase (NOS). NO berperan sebagai molekul signaling yang menyebabkan relaksasi otot polos pembuluh darah atau vasodilatasi. Dalam kondisi heat stress, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah perifer merupakan bagian dari mekanisme tubuh untuk meningkatkan pelepasan panas. Dengan demikian, ketersediaan arginine menjadi penting karena arginine menyediakan nitrogen yang diperlukan untuk sintesis NO. Bukti pada broiler dan layer menunjukkan bahwa suplementasi arginine dapat memengaruhi metabolisme NO dan respons fisiologis terhadap heat stress. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa peningkatan rasio SID Arg hingga 125% dapat meningkatkan aktivitas nitric oxide synthase serta memberikan perbaikan pada performa dan morfologi usus pada broiler yang mengalami cyclic heat stress. (Anderson et al., 2024; Lee et al., 2026) Selain itu penelitian Anderson et al. (2024) menunjukkan bahwa peningkatan rasio arginine/lysine (Arg/Lys ratio) hingga 116% secara nyata menurunkan suhu tubuh ayam broiler yaang mengalami heat stress. Arginine → Ornithine & Polyamines: Mendukung Gut Integrity Heat stress sering kali berdampak langsung pada saluran pencernaan. Perubahan aliran darah, stres oksidatif, dan gangguan fungsi barrier intestinal dapat meningkatkan risiko intestinal permeability dan menurunkan efisiensi pemanfaatan nutrien. Arginine dapat dikonversi menjadi ornithine, yang selanjutnya menjadi prekursor untuk sintesis polyamines, termasuk putrescine, spermidine, dan spermine. Polyamines berperan penting dalam proliferasi sel, perbaikan jaringan, serta pemeliharaan integritas jaringan. Karena epitel usus memiliki tingkat regenerasi yang tinggi, ketersediaan substrat untuk jalur polyamine menjadi semakin relevan ketika unggas berada dalam kondisi stres. Dengan mendukung jalur arginine–ornithine–polyamine, nutrisi dapat membantu mempertahankan
Arginine + Glycine →GAA →Creatine: Menjaga Cellular Energy Heat stress juga merupakan tantangan energi. Ketika konsumsi pakan turun, unggas harus mempertahankan fungsi vital dan homeostasis dengan sumber energi yang lebih terbatas. Arginine bersama glycine digunakan untuk membentuk guanidinoacetic acid (GAA) melalui enzim arginine amidinotransferase (AGAT). GAA kemudian dimetilasi menjadi creatine, yang dapat dikonversi menjadi phosphocreatine. Sistem creatine–phosphocreatine berfungsi sebagai rapid energy buffer, khususnya pada jaringan dengan kebutuhan energi tinggi seperti otot. Inilah salah satu alasan mengapa jalur arginine–GAA–creatine menarik dalam strategi nutrisi menghadapi heat stress. Namun, penting dipahami bahwa GAA tidak dapat menggantikan kebutuhan arginine. Tidak terdapat reaksi balik yang memungkinkan GAA untuk dibentuk kembali menjadi arginine, sehingga ketika arginine diperlukan untuk membentuk NO, polyamine, sintesis protein, maupun fungsi imun, hanya arginine yang bisa digunakan. Meta-analysis terbaru juga menunjukkan bahwa efek argininesparing dari GAA bersifat terbatas ketika diet mengalami defisiensi arginine yang ekstrim (Gao et al. 2026) From Amino Acid to Functional Nutrition Ketika temperatur meningkat, unggas membutuhkan dukungan terhadap termoregulasi, intestinal integrity, metabolisme energi, antioksidan, dan respon imun secara bersamaan. Arginine memiliki karakteristik unik karena metabolisme asam amino ini terhubung dengan berbagai jalur yang berkontribusi terhadap fungsi-fungsi tersebut. Oleh karena itu, optimasi arginine bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan protein, tetapi tentang menyediakan metabolic flexibility ketika unggas menghadapi stres. Dalam formulasi modern, arginine dapat dipandang bukan sekadar sebagai amino acid requirement, tetapi sebagai functional nutrient untuk meningkatkan ketahanan (resilience) unggas terhadap heat stress.