Efisiensi pakan menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan daya saing industri peternakan nasional. Hal tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Alltech x ILDEX Indonesia: National Feed Conference, bagian dari rangkaian Road to ILDEX Indonesia 2026, yang digelar di Hotel Santika Premiere Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (23/7).
Mengusung tema “Nutrition Beyond Ingredients: Building Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector”, konferensi ini mempertemukan pemerintah, akademisi, industri pakan, dan pelaku usaha peternakan untuk membahas strategi meningkatkan efisiensi serta memperkuat ketahanan industri di tengah tantangan harga bahan baku, perubahan iklim, dan tuntutan keberlanjutan.
Presiden Direktur PT Permata Kreasi Media, Ir. Ruri Sarasono, MBA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri, mulai dari pemerintah, akademisi, asosiasi, pelaku usaha, hingga profesional, dalam membahas perkembangan dan masa depan industri peternakan dan pakan Indonesia.
Ruri juga menyampaikan apresiasi kepada Alltech sebagai mitra kolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap kerja sama yang telah terbangun tidak berhenti pada konferensi tersebut, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas dalam mendukung pertumbuhan industri peternakan Indonesia.
Regional Director Alltech Malaysia & Indonesia, Heng Aik Jin, mengatakan bahwa industri peternakan tidak hanya dituntut meningkatkan produksi, tetapi juga mampu menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama. Menurutnya, konsep Nutrition Beyond Ingredients menempatkan nutrisi bukan sekadar bahan baku, melainkan juga penerapan sains, inovasi, precision nutrition, dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pakan, kesehatan ternak, serta keberlanjutan industri.
Dalam keynote speech, Dr.drh. Nuryani Zainuddin, M.Si., Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, menyampaikan bahwa Indonesia sedang bertransformasi menuju sistem pangan yang tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi. Menurutnya, industri peternakan dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, hingga tuntutan penerapan ESG dan Net Zero Emission.
Ia menambahkan, biaya pakan masih mendominasi biaya produksi peternakan sementara industri nasional masih menghadapi ketergantungan bahan baku impor, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya lokal, serta distribusi dan kualitas pakan yang belum merata. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi bahan baku lokal, diversifikasi sumber pakan, penguatan standar mutu, digitalisasi rantai pasok, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan peternak.
“Tantangan kita hari ini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi membangun sistem pangan yang tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.” ujar Nuryani.
Paparan tersebut diperkuat oleh Budi Tangendjaja, Ph.D., Nutritionist and Feed Technology, yang menegaskan bahwa biaya pakan masih menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan unggas, mencapai lebih dari 70% biaya produksi. Karena itu, efisiensi harus dimulai sejak pengadaan bahan baku hingga menghasilkan produk unggas yang diterima konsumen.
Menurut Budi, industri unggas modern perlu menerapkan integrasi vertikal, di mana setiap tahapan produksi dipandang sebagai pusat biaya yang harus dioptimalkan. Efisiensi tidak hanya ditentukan oleh harga bahan baku, tetapi juga logistik, penyimpanan, kehilangan (shrinkage), konsumsi energi, kapasitas produksi, hingga ketepatan formulasi nutrisi. Dengan dukungan teknologi, formulasi presisi, dan manajemen yang baik, biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi performa ternak.
Di tingkat peternakan, indikator seperti Feed Conversion Ratio (FCR), mortalitas, produktivitas, dan biaya pakan per kilogram produk harus menjadi tolok ukur utama. “Fokusnya bukan mengejar produksi tertinggi, tetapi menghasilkan daging atau telur dengan biaya serendah mungkin sesuai kebutuhan pasar,” ujar Budi. Ia menambahkan, penerapan standar kinerja (KPI) di setiap lini menjadi kunci untuk mewujudkan industri unggas yang efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.
Industri Pakan Diproyeksikan Tumbuh Positif
Presiden Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Ir. Tevi Melviana, IPU, ASEAN Eng, memproyeksikan industri pakan nasional tetap tumbuh positif pada 2026, didorong meningkatnya permintaan daging ayam dan telur, pertumbuhan populasi broiler, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Industri pakan merupakan sektor strategis yang menopang produksi protein hewani nasional, sehingga membutuhkan dukungan kebijakan untuk terus tumbuh dan memperkuat ketahanan pangan,” ujar Tevi.
Meski demikian, industri masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan bahan baku impor, fluktuasi nilai tukar, regulasi impor, serta tingginya biaya logistik. Untuk meningkatkan daya saing, GPMT mendorong diversifikasi bahan baku, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri, pemasok, dan peternak.
Kesehatan Usus Kunci Menekan AMR
Sementara itu, Dr. Ronan Power, Chief Scientific Officer Alltech, menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan (gut health) menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan antimicrobial resistance (AMR).
Menurut Ronan, pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup. Nutrisi yang tepat mampu meningkatkan kesehatan usus, memperbaiki efisiensi konversi pakan, dan mengurangi penyebaran bakteri resisten. Penelitian juga menunjukkan Mannan-Rich Fraction (MRF) dapat menurunkan prevalensi gen resistensi antibiotik. “Pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak akan menyelesaikan masalah resistensi. Kuncinya adalah membangun kesehatan usus sehingga ternak lebih sehat dan penggunaan antibiotik dapat ditekan,” ujar Ronan.
Selain meningkatkan kesehatan ternak, pendekatan ini juga mendukung keberlanjutan melalui peningkatan efisiensi pakan, penurunan mortalitas, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan produktivitas unggas.