Keunggulan utama AviPro™ IB-ND C131 antara lain; Perlindungan terhadap ND dan IB hingga delapan minggu;  Aman digunakan sejak hari pertama; Tetap efektif pada ayam yang masih memiliki maternal antibody; Serta perlindungan ND dan IB dalam satu 
kali aplikasi.
Elanco Animal Health Indonesia resmi memperkenalkan AviPro™ IB-ND C131, vaksin kombinasi live attenuated untuk perlindungan Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis pada ayam komersial. Berlokasi di Ballroom Tentrem Hotel Jakarta, 27 April 2026. Muhammad Abdillah  selaku Brand Manager Elanco Animal Health Indonesia membuka Elanco Masterclass dengan memperkenalkan ketiga pembicara yang hadir pada kesempatan tersebut, diantaranya Prof. Michael Haryadi Wibowo dari Universitas Gadjah Mada, pakar kesehatan unggas internasional Prof. Dr. Sjaak de Wit serta Technical Manager Elanco, Dr. Nicholas Phuah.
“Pada kesempatan ini, PT Elanco Animal Health Indonesia bekerjasama dengan PT SHS International menyelenggarakan Elanco Masterclass untuk membahas  terkait update ND dan IB, dengan pembicara dari berbagai negara berbeda. Diharapkan dapat melengkapi diversity update masing-masing. Harapannya, Bapak-Ibu bisa mendapatkan update khususnya berkait challenge ND dan IB yang ada di dunia maupun ada di lokal. Termasuk produk vaksin baru dari Elanco yang dapat memberikan proteksi dalam 8 minggu, ” jelas Muhammad Abdillah.
Selain itu, drh. Nining Indiarti Koordinator Area Jakarta PT SHS International menyebutkan bahwa hadirnya AviPro™ IB ND C131 menjadi solusi untuk memberikan perlindungan lebih awal dan lebih lama, sekaligus membantu peternak menghadapi tantangan penyakit yang terus berkembang. Vaksin ini juga dapat diaplikasikan sejak DOC. “Kami berharap AviPro™ IB ND C131 bukan hanya menjadi vaksin, tetapi juga mitra peternak dalam menjaga kesehatan ayam dan meningkatkan produktivitas usaha,” ungkapnya.
Tantangan industri perunggasan
Dalam paparannya, Prof. Dr. Sjaak de Wit menjelaskan bahwa Newcastle Disease masih menjadi ancaman serius di berbagai negara, termasuk kawasan Asia dengan tekanan challenge yang relatif tinggi. Menurutnya, keberhasilan pengendalian ND tidak hanya bergantung pada jenis vaksin yang digunakan, tetapi juga kualitas pelaksanaan vaksinasi di lapangan.
“Dalam banyak kasus, problem terbesar bukan semata-mata pada vaksin, tetapi bagaimana vaksin itu diaplikasikan. Kualitas vaksinasi sangat menentukan hasil akhir di lapangan,” ujar Prof. Sjaak.
Ia menjelaskan bahwa vaksin ND konvensional berbasis genotype II masih mampu memberikan perlindungan klinis yang baik termasuk ND GVII yang beredar. Namun, faktor seperti biosekuriti, imunosupresi, hingga tekanan infeksi sangat mempengaruhi efektivitas perlindungan.
Prof. Sjaak juga mengingatkan bahwa ND bukan hanya menyebabkan kematian, tetapi turut meningkatkan shedding virus sehingga mempercepat penyebaran penyakit di populasi. Selain Newcastle Disease, tantangan lain yang banyak ditemukan di lapangan adalah Infectious Bronchitis. Virus IB diketahui memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi sehingga terus memunculkan berbagai varian baru.
Akibatnya, kasus IB sering muncul dengan gejala yang sangat beragam, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga penurunan performa produksi yang sulit terdeteksi. “IB sering kali bersifat subklinis. Tidak ada gejala respirasi bukan berarti tidak ada kerugian. Penurunan bobot badan, FCR memburuk, dan infeksi sekunder tetap bisa terjadi,” jelas Prof. Sjaak.
Ia menambahkan bahwa strategi vaksinasi IB perlu disusun secara tepat sesuai kondisi lapangan. Penggunaan kombinasi vaksin tertentu dapat membantu memperluas cross protection tanpa harus menambahkan terlalu banyak strain vaksin sekaligus.
Pada sesi kedua,  Prof. Michael Haryadi Wibowo menjelaskan bahwa penyakit Newcastle Disease (ND) dan Infectious Bronchitis (IB) masih menjadi tantangan besar bagi industri perunggasan, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Tingginya suhu, kelembaban, hingga variasi penerapan biosekuriti menjadi faktor yang membuat program vaksinasi sering kali tidak memberikan hasil optimal. 
Prof. Michael menyoroti bahwa perkembangan varian virus IB di Indonesia semakin kompleks, termasuk ditemukannya strain QX-like dan 793B-like yang memperumit perlindungan silang antar genotipe. Kondisi ini membuat pendekatan vaksinasi tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional atau hanya mengandalkan satu jenis strain vaksin. “Saat ini tantangannya bukan hanya bagaimana melakukan vaksinasi, tetapi bagaimana memastikan vaksin mampu memberikan perlindungan terhadap variasi virus yang terus berkembang di lapangan.” ujarnya.
Selain faktor lingkungan, ia pun menjelaskan adanya tantangan dari sisi maternal antibody (MDA). Tingginya variasi antibodi maternal dalam satu flok dapat menyebabkan munculnya “window of susceptibility”, yaitu masa ketika antibodi maternal mulai turun tetapi kekebalan aktif hasil vaksinasi belum terbentuk sempurna. Prof. Michael menegaskan bahwa keberhasilan vaksinasi ND-IB di daerah tropis tidak hanya bergantung pada jenis vaksin yang digunakan, tetapi juga dipengaruhi oleh manajemen lingkungan, kualitas aplikasi, kondisi ayam, hingga konsistensi monitoring di lapangan.
Perlindungan ND dan IB dalam Satu Vaksin
Menjawab kebutuhan lapangan tersebut, Elanco menghadirkan AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin kombinasi untuk perlindungan ND dan IB dalam satu aplikasi. Produk ini mengandung strain IB Massachusetts H120 dan ND Clone 131 yang diformulasikan untuk memberikan perlindungan praktis dengan durasi proteksi yang panjang.
Dr. Nicholas Phuah menjelaskan bahwa AviPro™ IB-ND C131 dikembangkan untuk membantu peternak memperoleh perlindungan yang optimal dengan intervensi vaksinasi yang lebih sederhana. “Kami ingin menghadirkan vaksin yang praktis digunakan, aman sejak DOC, tetapi tetap mampu memberikan perlindungan yang kuat terhadap ND dan IB,” ungkap Dr. Nicholas.
Keunggulan utama AviPro™ IB-ND C131 antara lain; Perlindungan terhadap ND dan IB hingga delapan minggu;  Aman digunakan sejak hari pertama; Tetap efektif pada ayam yang masih memiliki maternal antibody; Serta perlindungan ND dan IB dalam satu kali aplikasi.
Salah satu poin yang cukup mendapat perhatian dalam launching produk ini adalah aspek keamanan vaksin. Berdasarkan hasil pengujian pada ayam SPF umur sehari, AviPro™ IB-ND C131 terbukti aman diaplikasikan melalui spray vaccination tanpa menimbulkan mortalitas maupun gangguan respirasi. Pengamatan hingga 14 hari pascavaksinasi menunjukkan tidak adanya gejala klinis maupun kematian pada kelompok ayam yang divaksin.
Selain itu, evaluasi terhadap organ reproduksi hingga umur 70 hari juga tidak menunjukkan adanya abnormalitas akibat vaksinasi. “Data keamanan menunjukkan AviPro™ IB-ND C131 aman digunakan sejak hari pertama, termasuk terhadap saluran reproduksi,” terang Dr. Nicholas. Nilai Intracerebral Pathogenicity Index (ICPI) vaksin juga dilaporkan berada di bawah batas standar European Pharmacopoeia, yang menandakan tingkat keamanan vaksin tetap terjaga.
Tetap Efektif Meski Ada Maternal Antibody
Keberadaan maternal derived antibody (MDA) sering menjadi tantangan tersendiri dalam vaksinasi awal karena dapat menghambat pembentukan kekebalan aktif. Namun berdasarkan hasil challenge test yang dipaparkan Elanco, AviPro™ IB-ND C131 tetap mampu memberikan perlindungan optimal meskipun digunakan pada ayam dengan MDA.
Pada challenge Newcastle Disease, sekitar 90% ayam SPF yang divaksin tetap terlindungi dari gejala klinis dan kematian hingga delapan minggu pasca vaksinasi. Sementara pada challenge IB, ayam yang divaksin melalui spray maupun drinking water tetap menunjukkan aktivitas silia normal.
Menurut Dr. Nicholas, durasi perlindungan yang panjang dapat membantu peternak mengurangi kebutuhan intervensi vaksinasi tambahan selama pemeliharaan. “Perlindungan yang lebih panjang tentu memberikan keuntungan praktis bagi peternak, terutama pada sistem produksi modern dengan tekanan penyakit yang tinggi,” ujarnya.
Melalui peluncuran AviPro™ IB-ND C131, Elanco berharap peternak memiliki alternatif vaksinasi yang lebih praktis, aman, dan efisien dalam menghadapi tantangan ND dan IB yang semakin kompleks di lapangan. Adv