Gangguan pencernaan kronis kerap menjadi silent problem yang menggerogoti performa ayam tanpa gejala mencolok. Menjaga keseimbangan mikrobiota usus adalah fondasi produktivitas peternakan di Indonesia.
Gangguan pencernaan pada ayam sering dianggap masalah biasa. Ayam masih makan, masih bergerak, dan mortalitas tidak selalu tinggi. Padahal di lapangan, gangguan pencernaan kronis justru menjadi silent problem: FCR memburuk, bobot badan tidak seragam, litter cepat basah, feses tidak normal, dan produksi telur menurun. Pada peternakan modern yang menuntut efisiensi tinggi, kesehatan usus menjadi kunci utama produktivitas.
Apa itu Dysbacteriosis?
Dysbacteriosis atau dysbiosis adalah kondisi ketika keseimbangan mikrobiota usus terganggu. Dalam kondisi normal, usus ayam dihuni komunitas mikroba yang membantu pencernaan, menghasilkan metabolit bermanfaat, menjaga integritas dinding usus, dan mendukung sistem imun. Ketika komposisinya bergeser ke arah tidak seimbang, penyerapan nutrisi ikut terganggu. Sisa nutrien yang tidak terserap menjadi substrat bagi mikroba merugikan, sehingga gangguan makin parah (Kogut et al., 2023).
Gejala Subklinis dan Pemicunya
Di kandang broiler, dysbacteriosis sering muncul subklinis. Ayam tidak tampak sakit berat, tetapi performa meleset dari target. Tanda yang umum: feses encer, warna tidak seragam, litter cepat basah, bulu kusam, dan pakan tampak belum tercerna pada feses. Pemicunya beragam, mulai dari kualitas bahan baku, mikotoksin, kualitas air, stres, kepadatan kandang, hingga infeksi Eimeria.
Jika dibiarkan, kondisi ini membuka jalan bagi necrotic enteritis. Penyakit yang dikaitkan dengan Clostridium perfringens ini jarang berdiri sendiri; kerusakan mukosa akibat coccidiosis, perubahan pakan, dan stres menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhannya secara berlebih (Emami et al., 2022).
Gambar 1.  Faktor lingkungan dan hospes yang mempengaruhi microbiota usus dan Kesehatan ayam  (Cheng et al., 2025)
TANDA AWAL GANGGUAN MIKROBIOTA USUS
–                     Feses encer atau warna tidak seragam
–                     Litter cepat basah dan berbau tajam
–                     Pakan tampak belum tercerna pada feses
–                     Pertumbuhan tidak seragam
–                     FCR meningkat tanpa sebab jelas
–                     Ayam kurang aktif, bulu kusam, konsumsi turun
–                     Riwayat coccidiosis atau necrotic enteritis berulang
 
Gambar 2. Gejala klinisk ayam yang terkena dysbiosis usus (Salahi et al., 2025)
Solusi Terpadu, Bukan Sekadar Obat Diare
Menjaga usus tidak cukup dengan mengobati diare. Pastikan kualitas pakan stabil dan bebas mikotoksin, jaga kualitas air minum, kendalikan coccidiosis dengan program yang sesuai, lalu gunakan feed additive secara rasional seperti probiotik, prebiotik, enzim, asam organik, atau fitogenik. Studi van der Klein et al. (2024) menunjukkan probiotik dual-strain melalui air minum mampu memodulasi mikrobioma ileum dan sekum, meningkatkan sIgA, serta mendukung performa broiler saat tantangan dysbacteriosis.