POULTRYINDONESIA, Bogor – Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar sebagai respons atas kondisi yang semakin menekan peternak rakyat nasional. Pertemuan yang berlangsung di Bogor pada Rabu (20/5/2026) itu dihadiri oleh berbagai organisasi perunggasan, seperti Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Peternak Pembudidaya Unggas Niaga (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), hingga peternak mandiri dari berbagai daerah.
Konsolidasi tersebut menjadi momentum penting bagi peternak rakyat untuk menyuarakan keresahan yang selama beberapa bulan terakhir terus memburuk. Terlebih, para peternak kini berada dalam tekanan ganda, dimana harga jual ayam hidup (live bird/LB) terus terpuruk, sementara biaya produksi justru mengalami kenaikan signifikan akibat mahalnya harga pakan dan bibit ayam atau day old chick (DOC).
Ketua Umum Permindo, Kusnan, menjelaskan bahwa konsolidasi ini digelar untuk membahas langkah penyelamatan harga LB menjelang beberapa momentum penting, seperti Iduladha dan bulan Suro, yang selama ini dikenal sebagai periode rawan penurunan konsumsi ayam di masyarakat.
“Hari ini kita konsolidasi tentang stabilisasi harga menghadapi kondisi ke depan. Kita akan menghadapi Iduladha dan pasca itu biasanya harga turun karena banyak substitusi konsumsi dari daging kurban. Kemudian bulan depan juga ada bulan Suro, di mana masyarakat biasanya tidak banyak melakukan perayaan sehingga konsumsi juga menurun,” ujar Kusnan.
Menurutnya, kondisi tersebut harus segera diantisipasi karena berpotensi memperburuk keadaan peternak rakyat yang saat ini sudah berada dalam posisi sulit. Terlebih, pasar ayam nasional masih sangat bergantung pada pasar tradisional atau pasar becek yang menyerap sekitar 70 persen perdagangan ayam nasional.
“Pasar becek itu ternyata masih menjadi pasar mayoritas. Semua masih berebut pasar di situ bersama perusahaan integrasi besar. Kalau tidak disikapi serius, peternak rakyat bisa lama-lama tersisih,” katanya.
Kusnan juga menyoroti bahwa langkah pemerintah sejauh ini belum menyentuh akar persoalan mendasar dalam industri perunggasan rakyat. Ia menilai berbagai pertemuan dan kesepakatan harga yang dilakukan selama ini masih bersifat jangka pendek dan hanya menjadi solusi sementara.
“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, belum menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar harga di angka Rp21.000, kemudian turun lagi ke Rp20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi,” tegasnya.
Sebelumnya, peternak rakyat bersama pemerintah dan perusahaan besar memang telah menyepakati harga live bird di tingkat peternak sebesar Rp19.500 per kilogram. Namun angka tersebut masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang saat ini berada di atas Rp20.000 per kilogram.
Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa kondisi riil di lapangan jauh lebih berat dibanding data formal yang selama ini terlihat. Ia menyoroti indikator Nilai Tukar Peternak (NTP) yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih berada di atas angka 100. Namun menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan kondisi berbeda karena harga jual ayam masih berada di bawah HPP sementara biaya produksi terus naik.
“Nah kondisi riil menurut April itu beban peternak sangat berat. Harga masih di bawah HPP, sementara harga pakan naik dan DOC juga masih mahal. Itulah yang kami soroti terkait nilai tukar peternak,” ujar Heri.
Ia menyebut harga live bird saat ini berada di kisaran Rp19.500 per kilogram, sedangkan HPP peternak sudah menembus di atas Rp20.000 per kilogram. Bahkan harga pakan kini mendekati Rp9.000 per kilogram, sementara harga DOC masih berada di kisaran Rp6.000 per ekor.
Situasi tersebut menyebabkan banyak peternak terus menjual dalam kondisi merugi. Ketua PPUN, Wismarianto yang turut hadir dalam konsolidasi, menyampaikan bahwa peternak rakyat tidak mungkin terus dipaksa bertahan dalam tekanan kerugian berkepanjangan.
“Naik ke Rp19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp21.800. Masa kita dipaksa terus merugi? Kita ini pebisnis, kita tidak mau rugi. Makanya kita suarakan kebenaran walaupun pahit,” katanya.
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya pengawasan populasi serta keseragaman harga acuan agar kondisi pasar dapat lebih terkendali. Ia mengingatkan bahwa tanpa kekompakan, ekosistem peternak mandiri berpotensi semakin terpecah di tengah ketatnya persaingan industri.
Sementara itu, salah seorang peternak bernama Wayan mengusulkan agar penyerapan ayam dan telur rakyat diperluas melalui berbagai program pemerintah seperti penanganan stunting, bantuan protein masyarakat, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, peternak tidak boleh hanya bergantung pada kebijakan Kementerian Pertanian semata. Program lintas kementerian seperti Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Perdagangan perlu dilibatkan agar produksi peternak rakyat dapat terserap secara lebih luas.
Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian GOPAN, Setya Winarno, mengingatkan seluruh peternak untuk tetap optimistis namun realistis menghadapi kondisi saat ini.
“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting jangan terlalu bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita punya alternatif efisiensi biaya,” ujarnya.
Dalam konsolidasi tersebut, Permindo bersama organisasi peternak lainnya merumuskan tiga poin bersama sebagai arah perjuangan ke depan. Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat menjaga harga Rp19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir agar harga tidak jatuh lebih dalam lagi meskipun angka tersebut masih berada di bawah HPP.
Kedua, memperkuat daya tawar kolektif antarasosiasi peternak mandiri. Permindo menilai peternak rakyat harus bersatu agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat terhadap pemerintah maupun perusahaan integrasi besar.
Ketiga, mendorong mekanisme hilirisasi bersama. Dimana selama ini peternak rakyat terlalu bergantung pada penjualan ayam hidup di pasar tradisional. Karena itu diperlukan pengembangan hilirisasi dan diversifikasi pasar agar peternak memiliki nilai tambah dan tidak terus bergantung pada fluktuasi pasar live bird.