Ketika harga telur jatuh di bawah ongkos produksi, Vietnam merespons bukan hanya dengan mencari pasar baru, tetapi juga mempercepat transformasi industri melalui inovasi, diversifikasi, dan menciptakan produk bernilai tambah.

Sektor perunggasan Vietnam sedang mengalami gejolak dalam beberapa waktu ke belakang. Di satu sisi, gejolak geopolitik global mengganggu rantai pasok dan membuat kenaikan biaya produksi tidak terbendung. Di sisi lain, pasar domestik justru dibanjiri oleh pasokan yang jauh melampaui daya serap konsumen sehingga menekan harga. Dampaknya, peternak terhimpit antara biaya produksi yang terus naik dan harga jual yang terus merosot hingga ke titik yang merugikan.

Harga Telur Jatuh ke Bawah Ongkos Produksi

Kondisi paling memprihatinkan dialami oleh peternak ayam petelur. Menurut laporan Việt Nam News (16/5), Nguyễn Thanh Sơn selaku Presiden Vietnam Poultry Association menyebut bahwa konflik di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor peternakan unggas. Biaya logistik melonjak tajam, diperparah oleh kenaikan harga pakan, bahan baku, serta obat-obatan hewan yang mencapai 15–20 persen. Kondisi ini menekan margin usaha sekaligus menggerus daya saing produk Vietnam di pasar ekspor. 

Sejumlah perusahaan yang selama ini mengandalkan pasar Timur Tengah dilaporkan mengalami penyusutan pesanan karena ongkos kirim yang tidak lagi kompetitif. Bahkan sebagian terpaksa menghentikan sementara pengiriman produk mereka sepenuhnya. Kondisi tak jauh berbeda di pasar domestik. Setelah sempat menikmati harga yang menguntungkan sepanjang paruh kedua 2025, harga daging dan telur unggas mulai merosot sejak akhir Maret 2026.

Terutama untuk harga telur di tingkat peternak, kini hanya berkisar VND20.800–22.400 per kilogram atau setara Rp14.100-15.200 per kilogram, sementara biaya produksinya mencapai VND25.600–27.200 atau sekitar Rp17.350-18.440 per kilogram, tergantung pada skala usaha dan tingkat efisiensinya. Artinya, setiap butir telur yang dijual oleh peternak justru mendatangkan kerugian. Sơn memprediksi, selama konflik belum mereda, tekanan terhadap industri peternakan kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga penghujung tahun.

Siapkan Berbagai Strategi

Akumulasi berbagai tekanan tersebut mendorong pelaku usaha untuk merancang ulang strategi baru. Asosiasi bersama perusahaan-perusahaan besar mulai menyusun berbagai langkah adaptasi, dengan fokus utama pada peningkatan efisiensi manajemen dan penguatan kolaborasi antara peternak dengan pemasok bibit serta pakan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mendistribusikan risiko secara lebih merata agar keberlanjutan usaha tetap terjaga di tengah ketidakpastian yang belum jelas ujungnya. 

Selain efisiensi biaya, diversifikasi pasar ekspor menjadi strategi penting lainnya. Ketika pasar Timur Tengah mengalami hambatan, pelaku usaha mulai mengalihkan perhatian ke negara-negara Asia. Beberapa perusahaan bahkan telah mempersiapkan ekspor ke Jepang dan Singapura. Masuknya produk ayam olahan Vietnam ke Singapura tahun ini menjadi penanda perkembangan positif sekaligus membuka harapan bagi peningkatan penjualan produk unggas secara lebih luas. 

Tren positif ini dikonfirmasi oleh data kuartal pertama tahun 2026, dimana ekspor ke Tiongkok, Prancis, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, dan Kamboja justru mencatat pertumbuhan, menegaskan bahwa upaya diversifikasi pasar mulai membuahkan hasil.

Di lain sisi, para perusahaan besar juga merekomendasikan pergeseran ke arah pengolahan untuk meraih margin yang lebih tinggi. Alih-alih mengandalkan produk segar semata, perusahaan mulai mendiversifikasi ke telur siap saji dan produk ayam olahan, demi memenuhi tren konsumen modern sekaligus mengamankan margin keuntungan yang lebih baik. 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com

Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.