Di tengah kenaikan biaya pakan dan ancaman penurunan konsumsi musiman, industri perunggasan India memilih mengurangi produksi sejak tahap Parent Stock untuk menjaga keseimbangan pasar.
Industri perunggasan India tengah menghadapi salah satu tekanan terberat dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan tajam harga bahan baku pakan, terutama soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai, memaksa pelaku usaha mengambil langkah yang tidak biasa, yaitu memangkas produksi ayam hingga 25 persen.
Keputusan itu diumumkan oleh All India Poultry Breeders’ Association (AIPBA) pada awal Juni 2026, asosiasi tersebut mewakili perusahaan pembibitan dan pelaku usaha unggas di berbagai wilayah India. Langkah ini diambil di tengah membengkaknya biaya produksi dan prospek permintaan yang diperkirakan melemah dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi industri perunggasan, pakan adalah urat nadi produksi. Dimana mayoritas (sekitar 70%) biaya untuk menghasilkan ayam maupun telur lari ke komponen ini. Karena itu, ketika harga bahan baku pakan melonjak dalam waktu singkat, dampaknya langsung terasa hingga ke kandang-kandang peternak.
Berdasarkan laporan Economic Times pada 5 Juni 2026, harga SBM di India tercatat telah melonjak sekitar 45 persen dalam dua bulan terakhir. Kenaikan tersebut berlangsung ketika pasokan kedelai domestik sedang terbatas, sementara kebutuhan industri pakan tetap tinggi. Akibatnya, biaya produksi unggas meningkat signifikan dan menekan margin usaha di seluruh rantai produksi, termasuk peternak.
Menurut AIPBA, situasi tersebut tidak lagi dapat diatasi hanya dengan penyesuaian harga jual. Industri membutuhkan langkah yang lebih mendasar untuk menyeimbangkan kembali pasar. Karena itu, mereka sepakat untuk mengurangi produksi ayam nasional sekitar seperempat dari kapasitas normal.
Pengurangan dilakukan langsung di hulu melalui penyesuaian populasi Parent Stock (PS), termasuk afkir sebagian indukan yang masih produktif. Industri memperkirakan permintaan unggas akan melambat dalam beberapa bulan mendatang. Tanpa koreksi pada level PS, produksi DOC (Day-Old-Chick) berisiko melampaui kebutuhan pasar dan memperbesar surplus pasokan. Karena itu, pengurangan dilakukan sejak awal produksi untuk menjaga keseimbangan pasar pada periode mendatang.
Akar Perkara 
Ada dua persoalan utama yang mendorong pengurangan produksi ayam di India, yakni harga bahan baku pakan yang meningkat tajam serta serapan pasar yang diprediksi menurun. Pada persoalan utama, sebenarnya dapat ditelusuri dari pasar kedelai. Dimana SBM atau bungkil kedelai merupakan sumber protein utama dalam formulasi pakan unggas di India. Ketika harga komoditas ini naik, biaya pakan ikut terdorong naik. Sementara itu, ruang bagi perusahaan untuk menaikkan harga ayam tidak selalu tersedia, terutama ketika daya beli konsumen sedang melemah.
Dalam kondisi normal, fluktuasi harga bahan baku memang menjadi bagian dari dinamika industri. Namun lonjakan yang terjadi kali ini dinilai berada di luar pola biasa. Sejumlah laporan media India menyebut harga SBM meningkat sekitar 40–45 persen hanya dalam rentang satu hingga dua bulan. Kenaikan tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan kedelai domestik setelah hasil panen tidak memenuhi ekspektasi pasar. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor perunggasan. Industri peternakan lain yang bergantung pada bahan baku serupa juga menghadapi tekanan yang sama.
Situasi ini bahkan berdampak lebih luas. India, yang selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir SBM terbesar di dunia, mulai membatalkan sejumlah kontrak ekspornya. Langkah tersebut mulai dilaporkan pada akhir Mei 2026, ketika pasokan kedelai domestik semakin ketat dan harga SBM terus menanjak.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com

Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.