POULTRYINDONESIA, Tangerang – Dalam upaya memperkuat ketahanan industri peruggasan nasional, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Nasional MIPI-WPSA Indonesia. Achmad Dawami selaku Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menegaskan bahwa industri perunggasan tidak dapat berjalan secara parsial karena seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan hingga distribusi ke konsumen, merupakan sistem yang saling terhubung.
“Perunggasan itu adalah sistem yang terintegrasi, tidak bisa dipotong-potong. Dari hulu sampai hilir semuanya saling berkaitan. Ada satu bagian saja yang bermasalah, hasil akhirnya pasti tidak sesuai harapan. Ketidakseimbangan di satu titik akan berdampak ke seluruh sistem,” ujar Dawami di NICE, PIK 2, Rabu (6/5).
Menurutnya, seluruh rantai produksi mulai dari grand parent stock (GPS), breeding farm, hatchery, DOC, feedmill, peternakan komersial, hingga distribusi merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Karena itu, stabilitas industri tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga membutuhkan koordinasi serta perencanaan supply dan demand yang tepat.
Ia menilai tantangan terbesar industri saat ini yaitu oversupply, fluktuasi harga live bird, ketergantungan bahan baku impor, hingga risiko penyakit. Persoalan tersebut bukan semata terkait produksi, tetapi menyangkut keseluruhan sistem industri, di mana sektor breeding memegang posisi strategis sebagai pengendali sistem awal.
“Di level breeding, seharusnya target konsumsi masyarakat ditentukan lebih dulu kemudian dihitung mundur kebutuhan grand parent stock-nya. Satu kesalahan saja pada level grand parent stock bisa berdampak ke seluruh sistem nasional, karena fluktuasi supply DOC sangat memengaruhi harga live bird yang bersifat sensitif terhadap keseimbangan pasar. Sedikit saja terjadi oversupply, harga ayam hidup langsung jatuh,” jelasnya.
Dawami menambahkan, stabilitas dan resiliensi industri perunggasan dibangun melalui empat pilar utama yang saling terintegrasi, yakni supply governance, genetic leadership dan precision nutrition, data dan forecasting, serta intervensi berbasis siklus. Ia menekankan pentingnya perencanaan produksi berbasis demand, penguatan genetik dan nutrisi, integrasi data hulu-hilir, hingga adaptasi teknologi untuk menjaga keseimbangan supply-demand dan efisiensi industri.
“Stabilitas bukan kebetulan, tapi hasil kendali. Industri perlu didukung sinkronisasi parent stock dengan kebutuhan pasar, monitoring supply, early warning system, serta penguatan koordinasi antarstakeholder. Pengembangan sistem data nasional juga penting agar efisiensi, kestabilan harga, dan ketahanan pangan dapat terjaga secara berkelanjutan,” tegasnya.
Di akhir acara, Dr. Maria Ulfa, S.Pt., M.Sc. Agr., Presiden MIPI-WPSA Indonesia, mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh peserta yang telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam ruang diskusi tersebut. Menurutnya, seminar ini menjadi wadah memperkuat kolaborasi antara akademisi, peneliti, praktisi, industri, dan pemerintah untuk mendukung ketahanan industri perunggasan nasional.
“Pembahasan dalam seminar ini sangat menarik, terkait implementasi, komunikasi, dan juga kolaborasi. Yang penting tadi adalah bagaimana kita menginginkan ada tangan pemerintah untuk membantu kita semua dalam berkolaborasi dan bersinergi. Akademisi dan peneliti tidak akan mudah masuk ke industri kalau tidak ada yang memfasilitasi,” ujar Maria Ulfa.
Ia menilai, implementasi hasil riset masih membutuhkan dukungan regulasi dan pendanaan agar dapat diterapkan lebih luas di sektor industri. Maria mencontohkan, di sejumlah negara pemerintah ikut memfasilitasi kolaborasi antara universitas dan industri melalui program kerja sama dan dukungan dana riset.
“Highlight dari seminar hari ini adalah bagaimana hasil penelitian bisa diimplementasikan dan masuk ke dalam komersialisasi atau industri. Semuanya perlu sinergi dan kolaborasi,” jelasnya. Anggi
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia