Dibalik stabilnya angka produksi, CRD tetap mengancam dan berpotensi menimbulkan kerugian jika biosekuriti tidak dijalankan dengan tepat.
Di industri perunggasan modern, ada penyakit yang sering kali tidak menimbulkan kematian dadakan, namun dampaknya perlahan dan konsisten menggerus performa produksi. Penyakit itu adalah Chronic Respiratory Disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (MG). Sifatnya kronis, progresif, dan kerap dianggap sepele pada fase awal. Padahal, jika tidak dikendalikan dengan baik, MG dapat menyebabkan kerugian ekonomi, terutama pada breeder dan layer.
“Saya disclaimer dulu, saya bukan ahli bakteri atau imunologi. Tapi dari yang saya pelajari dan alami di lapangan, MG ini adalah bakteri yang menyerang sistem pernapasan unggas dan efeknya itu pelan, tapi konsisten,” ujar drh. Tiffany Asri Kusumastuti selaku Hatchery Epidemiologist di Bounty Segar Indonesia saat diwawancarai secara daring pada Rabu, (11/2).
Secara biologis, Tiffany menyampaikan bahwa MG memiliki karakteristik yang membedakannya dari banyak bakteri lain. MG tidak memiliki dinding sel, melainkan hanya membran sel. Ketiadaan dinding sel ini membuatnya lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan jaringan inang. “Karena dia tidak punya dinding sel, dia lebih fleksibel dan bisa melekat kuat pada epitel bersilia di saluran pernapasan, terutama trakea dan kantong udara,” jelasnya.
Epitel bersilia sendiri berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan. Silia membantu menggerakkan mukus keluar, sehingga partikel asing dan mikroorganisme dapat dibersihkan. Ketika MG melekat dan merusak struktur silia, mekanisme pembersihan mukus menjadi terganggu. Akibatnya, lendir menumpuk dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi infeksi sekunder.
“Inilah kenapa MG sering tidak berdiri sendiri. Biasanya ada infeksi bakteri lain seperti E. coli yang ikut memperparah kondisi. Kombinasi MG dan infeksi sekunder inilah yang kita kenal dengan CRD kompleks (Chronic Respiratory Disease Complex) di lapangan,” tambahnya.
Gejala Klinis Terlihat Ringan, Namun Dampaknya Berat
Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian MG adalah gejalanya yang tampak ringan, namun dampaknya tidak bisa diremehkan. Pada broiler, gejala tersebut sering dianggap hanya akibat perubahan cuaca atau manajemen ventilasi yang kurang optimal. 
“Biasanya ayam ngorok atau kita sebut cetrek. Ada lendir di hidung, kadang sinus orbitalis bengkak. Meski terdengar biasa, lebih baik apabila sudah ada tanda-tanda penurunan performa pada ayam, harus dicurigai infeksi penyakit,” ujarnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.