EDS sering disebut sebagai ancaman yang tidak terlihat, karena biasanya penyakit ini tidak terdeteksi hingga ayam memasuki usia bertelur
Kandang ayam petelur tampak normal pada awalnya, ayam-ayam makan dengan lahap, bergerak aktif, dan tidak terlihat adanya kematian. Namun, secara perlahan produksi telur mulai menurun. Telur yang dihasilkan menjadi lebih rapuh, warnanya kusam, bahkan sebagian hanya berupa selaput tanpa cangkang. Inilah gambaran khas dari Egg Drop Syndrome (EDS).
Melalui wawancara tertulis yang diterima pada Selasa, (28/4) drh. Maulana Sydik selaku Vice President Poultry Health & Quality Assurance PT Mitra Berlian Unggas (MBU) menjelaskan bahwa EDS pertama kali dilaporkan di Belanda pada tahun 1976 oleh van Eck dan Davelaar. Ironisnya, setelah ditelusuri, virus penyebabnya ternyata sudah lama tersebar lewat vaksin yang digunakan di banyak negara jauh sebelum penyakit ini diidentifikasi secara resmi. 
“Momen itulah yang menjelaskan mengapa EDS bisa muncul serentak di berbagai penjuru dunia. Sebetulnya bukan muncul serentak, hanya baru ketahuan virus penyebabnya. Sekarang EDS sudah endemik di Indonesia dan menjadi salah satu penyakit unggas yang wajib dimusuhi oleh semua peternak”.
Mengenal Egg Drop Syndrome
EDS adalah penyakit viral yang menyerang sistem reproduksi ayam petelur. Secara sederhana, virus masuk ke kelenjar pembentuk cangkang telur, merusak fungsinya dari dalam, dan hasilnya adalah telur-telur dengan kualitas buruk atau bahkan tidak bercangkang sama sekali. Produksi juga ikut terjun bebas karena proses ovulasi terganggu. Penyebabnya adalah Duck Adenovirus tipe 1 (DAdV-1), yang juga dikenal sebagai Atadenovirus. 
“Istilah ‘duck’ ini juga bukan sekedar sebutan. Virus ini asalnya memang dari bebek dan angsa, tapi di badan mereka tidak menimbulkan penyakit apapun, mereka bahkan bisa membawa virus ini dibadannya seumur hidup tanpa mengalami sakit. Tapi begitu virus ini menyerang ayam, semua berantakan,” jelasnya.
Menurut Maulana, ada dua jalur utama penularan EDS yaitu secara vertikal dan horizontal, keduanya sama-sama berbahaya. Penularan vertikal terjadi lewat telur tetas. Induk yang membawa virus bisa mewariskannya kepada anak ayam yang ditetaskannya. Anak itu menetas dalam kondisi sehat, tumbuh normal, melewati fase pullet tanpa ada tanda-tanda mencurigakan, sampai mulai bertelur. Baru di situlah virus aktif dan mulai merusak produksi.
“Ini yang membuat EDS susah dideteksi sejak awal. Tidak ada warning sign selama fase pullet. Ayamnya sehat, makannya bagus, pertumbuhannya normal. Kita tidak tahu virus sudah ada di dalam sampai produksi pertama mulai bermasalah”.
Sedangkan, penularan horizontal terjadi melalui kontak langsung dengan unggas terinfeksi, feses, sekret, atau peralatan yang terkontaminasi. Bebek dan angsa liar yang berkeliaran di sekitar kandang menjadi sumber penularan horizontal yang paling sering terjadi. 
“Bisa juga melalui kendaraan yang tidak didesinfeksi, tenaga kerja yang pindah dari satu kandang ke kandang lain, alat-alat yang digunakan bergantian, semua ini bisa menjadi vektor penyebaran penyakit yang tidak terlihat. Dulu, kontaminasi vaksin aktif juga pernah menjadi penyebab penyebaran EDS. Tapi sekarang standarnya sudah lebih ketat dan memperkecil risiko EDS ini,” ujarnya.
Mengenali Gejala EDS
Mengidentifikasi gejala awal adalah bagian paling penting untuk menekan penyebaran penyakit. Mayoritas peternak baru menyadari adanya masalah setelah produksi sudah turun jauh. Padahal ada sinyal-sinyal awal yang bisa ditangkap lebih dini. Asalkan peternak tahu apa yang harus diamati, seperti : perubahan warna cangkang dan tekstur cangkang yang tipis dan lunak.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.