POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penyerapan telur ayam ras senilai Rp30 miliar melalui Perum BULOG dan ID FOOD. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk memperkuat penyerapan hasil produksi peternak, terutama di wilayah yang mengalami tekanan harga.
Dalam program tersebut, masing-masing BUMN pangan mendapat alokasi Rp15 miliar. Penyerapan akan diprioritaskan di sentra produksi telur di Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Selain membantu memperbaiki harga di tingkat produsen, program ini secara khusus menyasar peternak mikro dan kecil yang tergabung dalam koperasi maupun asosiasi.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan intervensi diperlukan karena harga telur di sejumlah sentra produksi masih berada di bawah tingkat yang dibutuhkan peternak untuk menutup biaya produksi. Oleh karena itu, pemerintah ingin memastikan program penyerapan dapat menjangkau peternak secara merata.
“Peternak mikro dan kecil, terutama yang tergabung dalam koperasi-koperasi, ini menjadi prioritas. Jangan sampai ada koperasi yang merasa tertinggal dan tidak bisa menikmati atau mendapatkan serapan telur dari program Rp30 miliar ini,” kata Agung dalam rapat koordinasi bersama BULOG, ID FOOD, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), serta perwakilan koperasi dan peternak di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Agung menjelaskan, penyerapan akan diprioritaskan di daerah sentra produksi dengan harga pembelian minimal Rp24.000 per kilogram. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menopang harga telur di wilayah yang sedang mengalami tekanan.
“Rp30 miliar itu akan dilakukan penyerapan secara prioritas di daerah sentra telur dengan harga minimal Rp24.000 per kilogram,” ujarnya.
Dukungan terhadap langkah tersebut disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan. Ia mengapresiasi pertemuan tersebut sebagai ruang bagi pemerintah untuk mendengarkan langsung keluhan peternak sekaligus membahas upaya perlindungan terhadap keberlangsungan usaha mereka.
“Kami sangat mengapresiasi rapat hari ini karena kita mau mendengarkan keluhan dari teman-teman peternak dan memastikan mereka juga terlindungi. Jangan sampai peternak merasa pemerintah tidak hadir untuk mereka,” ujarnya.
Hermawan juga mengingatkan agar penyerapan tidak hanya bergantung pada pemasok yang selama ini sudah menjadi mitra. Peternak dan koperasi yang belum memperoleh kesempatan perlu dilibatkan sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
Namun, upaya penyerapan juga harus memperhatikan kesiapan distribusi. Dengan masa simpan telur yang relatif terbatas, perusahaan perlu memastikan saluran pemasaran dan tujuan distribusi sebelum melakukan pembelian.
Direktur Pemasaran Perum BULOG, Rahmanto Amin Jatmiko, menjelaskan bahwa pengadaan telur dilakukan melalui mekanisme komersial. Artinya, pembelian harus disertai perencanaan penjualan agar produk dapat segera tersalurkan. Ia menyebutkan, telur memiliki masa simpan sekitar tujuh hingga 10 hari sehingga tidak memungkinkan untuk disimpan terlalu lama.
“Jadi kalau semakin cepat kita bisa mendapatkan informasi ketersediaannya dan penyerapannya, kita langsung bisa siapkan anggarannya, kita bisa siapkan saluran penjualannya,” kata Rahmanto.
BULOG mencatat, pengadaan telur sepanjang Januari hingga Oktober 2026 telah mencapai nilai sekitar Rp15 miliar. Di luar realisasi tersebut, perusahaan menyiapkan tambahan alokasi Rp15 miliar untuk program penyerapan ini. Dalam rapat, BULOG juga menyampaikan telah memperoleh persetujuan internal sekitar Rp4,8 miliar untuk tahap awal pengadaan tambahan.
Sementara itu, ID FOOD telah lebih dahulu memulai penyerapan telur sejak 27 Oktober 2026. Hingga 2 November, atau dalam lima hari pertama pelaksanaan, perusahaan melaporkan realisasi pembelian sekitar Rp2,9 miliar atau setara dengan 130 ton. Penyerapan awal ini menjadi bagian dari langkah yang telah berjalan sebelum skema bersama BULOG dan ID FOOD mulai dilaksanakan pada 5 November.
Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, menjelaskan bahwa pengadaan telur juga menggunakan mekanisme komersial. Karena itu, kepastian pasar menjadi pertimbangan utama agar produk yang dibeli dapat segera dijual.
“ID FOOD memang skemanya bisnis. Kami membeli dan harus meyakinkan bahwa kami bisa menjual dan tidak rugi,” ujarnya.
ID FOOD berupaya mengoptimalkan alokasi Rp15 miliar hingga akhir November 2026. Untuk mendukung pelaksanaannya, perusahaan perlu memastikan titik pasokan dan pasar tujuan agar penyerapan dapat menjangkau peternak yang menjadi prioritas.
Dari sisi peternak, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, mengapresiasi langkah BULOG dan ID FOOD dalam memperkuat penyerapan telur. Ia berharap upaya tersebut tidak berhenti pada November, tetapi dapat berlanjut dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, maupun program pemerintah.
“Kami apresiasi sekali BULOG dan ID FOOD. Peternak masih butuh dibantu. Sebagai ketua asosiasi, harapan kami bulan November ini ada gerakan agar telur terserap untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Kalau BGN bisa sejalan penyerapannya, telur akan naik dengan sendirinya,” ujar Yudianto saat mengikuti rapat secara daring.
Senada dengan itu, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, Kendal, Suwardi, mendorong agar penyerapan segera direalisasikan di sentra-sentra produksi. Menurutnya, keterlibatan koperasi dan kepastian pembelian menjadi hal penting untuk membantu peternak mempertahankan keberlangsungan usahanya.
“Ayo sama-sama menyukseskan program bersama. Produksi sudah melimpah. Kita di sini hadir untuk mencari solusi agar kami bisa bertahan dan harga telur bisa dikendalikan,” ujar Suwardi.
Selain penyerapan telur, rapat koordinasi tersebut juga membahas percepatan distribusi jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyaluran jagung ditargetkan selesai paling lambat 20 November 2026. Kementan meminta BULOG dan koperasi mempercepat distribusi agar kebutuhan jagung peternak dapat segera terpenuhi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kementan mendorong agar penyerapan telur, distribusi jagung, dan akses pasar bagi peternak dapat berjalan beriringan. Koordinasi antarlembaga serta keterlibatan koperasi diharapkan membuat dukungan pemerintah lebih tepat sasaran, terutama bagi peternak mikro dan kecil yang membutuhkan kepastian pasar di tengah tekanan harga dan melimpahnya produksi.