Turunnya angka stunting di Indonesia bukan semata-mata terjadi karena adanya bantuan pangan. Dibaliknya, ada kerja bersama yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, sekolah, sektor swasta, LSM, hingga jutaan ibu yang terus belajar memenuhi kebutuhan gizi anak. 
Kabar menggembirakan datang dari Indonesia yang berhasil mencetak rekor sejarah penting dalam perang melawan stunting. Tiga belas tahun lalu, lebih dari satu per tiga balita di Indonesia mengalami stunting, namun kini jumlah itu turun menjadi kurang dari satu dari lima balita. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional di tahun 2013 yang sekitar 37,2% merosot menjadi 19,8% pada 2024. Untuk pertama kalinya, Indonesia berhasil menembus angka stunting di bawah 20%. 
Kolaborasi, Kunci Transformasi
Pencapaian ini tidak terlepas dari kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader gizi, sekolah, hingga beragam program edukasi yang mendorong masyarakat semakin memahami pentingnya gizi anak. Kolaborasi ini penting, terutama karena seluruh upaya edukasi akan bermuara ke satu tujuan yang sama, yaitu mengubah apa yang terjadi di rumah. Perubahan itu mustahil digerakkan oleh satu pihak saja, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak agar dampaknya benar-benar sampai ke rumah tangga.
Di tingkat keluarga, ibu memegang andil besar dalam menurunkan kasus stunting dari rumah. Selain karena masa kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode genting bagi pertumbuhan anak, peran ibu belum bisa berhenti setelah anak melewati fase itu. Ibu tetap menjadi aktor utama yang menentukan apa yang dimakan anak setiap hari hingga mereka beranjak dewasa.
Itu sebabnya, solusi terbaik bukan hanya mendorong intervensi dari luar, melainkan memastikan ibu mendapat pengetahuan yang cukup tentang gizi anak. Namun sayangnya, tidak semua orang tua memiliki bekal pengetahuan yang sama, dan membangun pengetahuan keluarga bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kali penyuluhan. Setiap keluarga punya latar belakang, pengalaman, dan tantangan berbeda dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, sehingga perubahan perilaku membutuhkan proses, pendampingan, dan kolaborasi yang menyeluruh serta berlangsung konsisten.
Sadar bahwa perubahan itu tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, Retno Artsanti, Head of Social Investment PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, mengatakan bahwa program edukasi gizi dan kesehatan bagi siswa sekolah dasar, JAPFA for Kids, yang telah berjalan sejak 2008 sedari awal dirancang sebagai upaya kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, puskesmas, sekolah, guru, hingga orang tua. Pendekatan tersebut dipilih agar perubahan perilaku dapat terus berlangsung, bahkan setelah program selesai.
“Program ini mencakup pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan berat dan tinggi badan secara rutin melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui program Hari Sehat JAPFA. Program juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” ujarnya dalam pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Dari pelaksanaan program ini, pihaknya berhasil menghimpun data bahwa tantangan malagizi pada 2025 masih nyata terjadi. Dari 15.498 siswa di 123 sekolah pada sembilan kabupaten, sebanyak 1.034 anak atau sekitar 6,6% teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan gizi tidak cukup dilakukan melalui intervensi sesaat, tetapi membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan.
Meski begitu, data yang sama juga memperlihatkan bahwa intervensi tersebut mampu menimbulkan perubahan. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa sasaran, atau sekitar 51,5%, berhasil memperbaiki status gizinya. Setahun kemudian, capaian tersebut meningkat, dengan 646 dari 1.034 siswa sasaran (62,5%) berhasil mencapai status gizi baik setelah mengikuti program. 
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Pasca Panen pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.