Disusun oleh :
Prof. Dr. Dra. Herawati, M.P.
Penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam industri perunggasan awalnya ditujukan untuk memperbaiki pertumbuhan, meningkatkan efisiensi pakan, dan menekan mortalitas. Namun, pemakaian antibiotik secara terus-menerus dapat mendorong resistensi bakteri patogen, termasuk Escherichia coli dan Salmonella spp., serta meningkatkan risiko residu antibiotik pada produk unggas.
Di Indonesia, penggunaan AGP sebagai imbuhan pakan telah dilarang melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2017. Kebijakan ini penting untuk memperkuat keamanan pangan dan melindungi kesehatan konsumen. Meskipun demikian, penghentian AGP menghadirkan tantangan bagi peternak karena unggas tetap berisiko mengalami infeksi, inflamasi, dan gangguan saluran pencernaan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif imbuhan pakan yang aman, efektif, mudah diperoleh, dan tidak meninggalkan residu antibiotik.
Salah satu inovasi yang saya kembangkan adalah “JAKUTE”, yaitu kombinasi jahe merah, kunyit, dan temulawak sebagai phytogenic feed additive. JAKUTE dirancang untuk mendukung kesehatan, imunitas, dan produktivitas unggas melalui aktivitas antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, dan imunomodulator.
Potensi Tiga Rimpang Lokal
JAKUTE tersusun atas jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), kunyit (Curcuma longa), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Ketiga tanaman tersebut tersedia luas di Indonesia dan telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Jahe merah mengandung senyawa aktif 6-gingerol dan 6-shogaol. Kunyit mengandung kurkumin dan tetrahidrokurkumin, sedangkan temulawak mengandung demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan xanthorrhizol. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas biologis yang berkaitan dengan pengendalian inflamasi dan pengaturan respons imun.
Kombinasi ketiga rimpang ini diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan penggunaan satu tanaman saja sebagai pakan tambahan. Kondisi saluran pencernaan dan sistem imun sangat memengaruhi pertumbuhan, pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan produktivitas unggas. Pemanfaatan bahan fitogenik berpotensi memperbaiki proses pencernaan dan pemanfaatan nutrien sekaligus mendukung kualitas serta keamanan produk ternak (Upadhaya dan Kim, 2017).
Pendekatan Molecular Docking
Pengembangan JAKUTE tidak hanya didasarkan pada penggunaan empiris tanaman herbal. Senyawa aktifnya dikaji melalui pendekatan in silico menggunakan metode molecular docking. Metode komputasi ini digunakan untuk memprediksi interaksi antara senyawa aktif sebagai ligan dan protein target yang terlibat dalam respons imun atau inflamasi. Senyawa 6-gingerol, 6-shogaol, kurkumin, tetrahidrokurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin dianalisis sebagai kandidat ligan. Seluruhnya memiliki berat molekul di bawah 500 g/mol dan nilai log P di bawah 5. Berdasarkan parameter komputasi tersebut, senyawa aktif JAKUTE memiliki karakteristik awal yang mendukung interaksi biologis.
Salah satu protein target yang dikaji adalah reseptor interferon lambda atau IFN-λR, yang berhubungan dengan pengaturan respons imun pada permukaan mukosa, termasuk saluran pencernaan unggas. Kurkumin menunjukkan afinitas pengikatan terbaik terhadap IFN-λR, yaitu -6,0 kkal/mol. Nilai berikutnya adalah bisdemetoksikurkumin -5,3 kkal/mol, tetrahidrokurkumin -4,8 kkal/mol, 6-gingerol dan demetoksikurkumin masing-masing -4,5 kkal/mol, serta 6-shogaol -4,0 kkal/mol. Nilai energi yang semakin negatif menunjukkan kecenderungan interaksi ligan–reseptor yang semakin stabil (Herawati, Al Jabbar, dan Oktanella, 2023).
Potensi Antiinflamasi
Inflamasi yang berlangsung secara berlebihan dapat merusak jaringan usus dan menurunkan efisiensi produksi. Karena itu, senyawa JAKUTE juga dianalisis terhadap inducible nitric oxide synthase atau iNOS, salah satu protein yang berperan dalam proses inflamasi. Bisdemetoksikurkumin menunjukkan energi ikatan -8,0 kkal/mol, lebih rendah daripada sodium diklofenak sebagai ligan pembanding yang memiliki nilai -6,7 kkal/mol. Kurkumin juga menunjukkan afinitas yang baik, yaitu -6,8 kkal/mol. Temuan ini mengindikasikan bahwa bisdemetoksikurkumin dan kurkumin berpotensi membentuk interaksi yang stabil dengan iNOS. Perbedaan konformasi ikatannya dibandingkan sodium diklofenak menunjukkan kemungkinan mekanisme penghambatan nonkompetitif (Herawati, Oktanella, dan Anisa, 2021). Pada protein COX-2 ayam, xanthorrhizol dari temulawak memiliki energi pengikatan -7,1 kkal/mol. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa temulawak berkontribusi penting terhadap potensi antiinflamasi JAKUTE (Herawati et al., 2021). Namun, molecular docking tetap merupakan prediksi komputasi sehingga hasilnya perlu dikonfirmasi melalui penelitian in vitro, in vivo, dan uji lapangan.
Mendukung Imunitas dan Kesehatan Usus
Potensi JAKUTE diperkuat oleh penelitian penggunaan jahe merah pada ayam broiler. Penambahan serbuk jahe merah pada pakan fase starter dilaporkan dapat merangsang pertumbuhan bakteri menguntungkan di saluran pencernaan dibandingkan pemberian tetrasiklin sebagai AGP (Herawati et al., 2020). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa serbuk jahe merah berpotensi meningkatkan respons imun spesifik dan nonspesifik. Pemberiannya meningkatkan ekspresi imunoglobulin A dan imunoglobulin Y serta membantu mencegah kerusakan usus akibat infeksi Salmonella Enteritidis (Herawati et al., 2022). Usus yang sehat memungkinkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien berlangsung optimal. Sebaliknya, inflamasi berkepanjangan dapat mengalihkan energi dan nutrien yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan menuju respons pertahanan tubuh. JAKUTE karena itu dikembangkan bukan hanya sebagai antimikroba alami, tetapi juga sebagai imunomodulator dan antiinflamasi.
Menuju Penerapan di Peternakan
JAKUTE memiliki keunggulan berupa ketersediaan bahan baku lokal dan potensi menghasilkan produk unggas tanpa residu antibiotik. Namun, penerapannya memerlukan standardisasi karena kandungan senyawa aktif dapat dipengaruhi varietas, lokasi budidaya, umur panen, pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan. Dosis yang tepat juga perlu ditentukan agar manfaat biologis tercapai tanpa menurunkan palatabilitas maupun konsumsi pakan. Penelitian lanjutan perlu mengevaluasi pertambahan bobot badan, feed conversion ratio, mortalitas, respons imun, mikrobiota usus, kualitas karkas, dan efisiensi ekonomi.
Dengan formulasi terstandar dan pengujian berkelanjutan, JAKUTE berpotensi menjadi alternatif AGP berbasis kekayaan herbal Indonesia untuk mendukung produksi unggas yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.