Pelepasan ekspor produk CPI ke 3 negara ditandai dengan pemecahan kendi (20/4).
Pada 20 April 2018, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk sukses menyelenggarakan pelepasan ekspor produk ke Jepang, Republik Demokratik Timor Leste, dan Papua Nugini. Hal ini menunjukkan bahwa produk Indonesia dapat bersaing di kancah internasional.
Terdapat 12 kontainer yang membawa produk CPI ke 3 negara tujuan. Pertama, ekspor produk makanan olahan berbasis daging ayam ke Jepang sebanyak 1 kontainer (6,696 ton). Sedangkan ekspor produk ke Timor Leste, yaitu pakan 6 kontainer (120 ton), makanan olahan daging ayam 1 kontainer (6,89 ton), minuman 3 kontainer (63,709 ton), dan 5.000 ekor day old chick (DOC). Selanjutnya, ekspor produk makanan olahan daging ayam ke Papua Nugini sebanyak 1 kontainer (8,585 ton).
Acara ini dihadiri oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Presiden Komisaris CPI T. Hadi Gunawan, Presiden Direktur CPI Thomas Effendy, jajaran Komisaris dan Direksi CPI, Walikota Jakarta Utara Husein Murad, Kepala Satgas Pangan Irjen Polri Setyo Wasisto, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Alberto Xavier Pereira Carlos, Duta Besar Indonesia untuk Timor Leste Sahat Sitorus, Dirjen PKH I Ketut Diarmita, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Tuti Prahastuti.
Acara ini dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai pihak yang terlibat dalam ekspor produk CPI.
Langkah ekspor
Produksi daging ayam saat ini telah mencapai swasembada sehingga CPI mantap mengambil langkah ekspor. “Sesuai dengan arahan dari Kementerian Pertanian untuk menjaga keseimbangan di dalam negeri adalah dengan melakukan ekspor produk hasil olahan ayam ke luar negeri,” ujar Thomas.
Ekspor perdana produk CPI sudah dilakukan pada 2017 lalu, yakni ekspor produk makanan olahan daging ayam ke Papua Nugini. “Ekspor hari ini ke Papua Nugini sudah yang ke-4 kalinya dan merupakan kelanjutan dari ekpor perdana yang sebelumnya telah dilakukan,” ujar Thomas. Hal tersebut menjadi pemicu hingga akhirnya saat ini produk CPI dapat menembus pasar Jepang dan Timor Leste.
Thomas menguraikan proses sehingga akhirnya produk CPI dapat menembus pasar Jepang yang terkenal memiliki standar yang sangat ketat. “Dalam kerja sama dengan pihak importir dari Jepang, kami telah melakukan berbagai uji,” papar Thomas. Optimisme muncul ketika penilaian akhir yang dilakukan oleh delegasi Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF) terhadap unit usaha pengolahan makanan CPI pada akhirnya mendapat persetujuan untuk bisa mengekspor berbagai makanan olahan daging ayam ke Jepang.
Timor Leste juga menjadi negara tujuan ekspor produk pakan CPI. “Salah satu kebanggaan bagi kami pula, pakan ayam produksi kami telah dipercaya untuk digunakan di peternakan ayam di Timor Leste. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah yang selalu bekerja sama. Ini membuktikan mutu pakan kita tidak kalah dengan mutu pakan dari luar negeri,” ujar Thomas. Proses sehingga pakan CPI dapat menembus pasar Timor Leste pun memerlukan serangkaian uji. Berbagai kegiatan Import Risk Analysis (IRA) yang merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Timor Leste melalui Tim Auditor Republik Demokratik Timor Leste telah dituangkan dalam technical agreement yang berlangsung di Kementerian Pertanian pada 19 April 2018.
Sementara itu, untuk pelepasan ekspor DOC akan berlangsung di hatchery yang berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Mei 2018 mendatang.
Ekspor ini terjadi berkat berbagai upaya yang telah dilakukan CPI dengan peran dan dukungan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan Indonesia.
“Dengan komitmen dari pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan di Indonesia, para peternak bisa terus bersama-sama memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Lebih baik lagi jika dapat di ekspor ke pasar internasional,” ungkap Thomas.
Pelepasan ekspor produk CPI yang berlangsung di halaman kantor pusat CPI, Ancol, Jakarta Utara.
Swasembada sumber protein
Pemerintah Indonesia juga berkomitmen mendorong para pengusaha untuk melakukan ekspor. “Siapa saja yang akan melakukan ekspor harus diteruskan dan jajaran di Kementerian Pertanian harus menindaklanjuti bagi perusahaan yang ingin ekspor,” ujar Amran dalam sambutannya di acara pelepasan eskpor produk CPI.
Amran mengatakan, pemerintah akan memastikan regulasi tidak menghambat dalam rangka ekspor dan investasi. “Kami sambut dengan terbuka siapapun yang ingin ekspor atau investasi, jangan dipersulit,” imbuh Amran.
Selain itu, sinergi antara pemerintah dan swasta merupakan suatu hal yang penting. “Kalau perlu kita penuhi seluruh kekurangan di Asia dengan produk kita, bahkan kita suplai ke seluruh dunia. Pasti bisa jika kita bergandeng tangan,” tandas Amran.
Pemerintah juga terus berusaha memperjuangkan dua hal yang saling berkaitan, yakni jagung dan ayam. “Saya berharap kedepan kegiatan eskpor bisa ditingkatkan dan buka lagi pasar ekspor ke negara-negara yang lain,” ungkap Amran.
Amran menyampaikan, hingga saat ini, ekspor komoditas pertanian pada 2017 naik 24 persen atau setara dengan Rp 440 triliun. “Ekspor ke Jepang dan Timor Leste ini sudah luar biasa. Tolong ditambah, dibuka lagi pasar ekspornya, jika bisa ke seluruh Asia,” ujar Amran. Dengan demikian, secara tegas Amran mengatakan bahwa Indonesia sudah swasembada protein dan pakan ekspor.
Sementara itu, Setyo juga turut berbahagia karena dengan ekspor produk pangan ke luar negeri merupakan bukti bahwa Indonesia mampu melaksanakannya. “Kita ketahui bahwa pasar Indonesia sudah cukup besar. Ekspor ini sangat penting untuk membuktikan bahwa kita mampu bersaing di dunia global. Pada hari ini, CPI bisa membuktikannya,” ujar Setyo.
Setyo berharap, ekspor seperti yang dilakukan CPI bisa menjadi role model bagi perusahaan-perusahaan lain untuk bisa menembus pasar internasional dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia.
Walikota Jakarta Utara, Husein Murad, juga menyampaikan ungkapan selamat atas terselenggaranya ekspor ini. “Semoga CPI semakin maju ke depannya. Artinya, dengan semakin majunya perusahaan ini akan semakin meningkatkan ekonomi secara nasional, lokal, dapat menyerap banyak tenaga kerja. Begitu pula dengan kegiatan corporate social responsibility (CSR) CPI yang bisa semakin meningkat,” harap Husein.
Mobile dryer
Seperti diketahui bersama, salah satu sumber energi dalam bahan baku pakan ternak adalah jagung. Sejak 2017, CPI telah 100 persen menggunakan jagung lokal. Untuk mendukung program Kementerian Pertanian, CPI juga sudah melengkapi pabrik-pabrik pakannya dengan corn dryer atau fasilitas pengering jagung.
Namun, seperti diketahui bersama, pengembangan area tanam jagung saat ini sudah menjangkau area-area yang relatif cukup jauh. Untuk menjangkau petani yang berlokasi jauh dari pabrik, CPI mencari terobosan sebagai solusi atas masalah ini, yakni dengan mobile dryer.
Konsep mobile dryer yang dikembangkan oleh CPI diharapkan dapat menjadi sebuah solusi untuk para petani jagung yang berada di daerah terpencil.
Demonstrasi mobile dryer yang dikembangkan oleh CPI.
“Ini teknologi baru yang luar biasa. Dryer ini bisa mobile, artinya kita jemput bola. Jadi tidak ada alasan lagi kita tidak bisa memperbesar produksi kemudian kita meningkatkan ekspor,” ujar Amran saat meninjau prototipe mobile dryer tersebut.
Permasalahan pada industri jagung salah satunya adalah saat pasca panen. Sehingga ketika panen, kapasitas pengering yang tersedia tidak mencukupi. Pada akhirnya banyak jagung yang tidak kering dengan baik yang berakibat aflatoksin meningkat dan membuat kualitas jagung tidak bagus.
Dengan demikian, CPI mengembangkan suatu sistem dryer yang bisa mobile, artinya dapat dibawa ke area-area yang terdapat panen jagung. “Mungkin ini belum tentu menjadi solusi yang ideal, tapi paling tidak ini bisa dipakai sebagai suatu awal untuk dikembangkan lebih lanjut,” ujar Emier Shandy, engineer CPI yang terlibat dalam pengembangan mobile dryer.
Emier menjelaskan, kapasitas dryer ini bergantung pada kadar air dalam jagung. “Jika penurunan kadar airnya 15 persen, tipe seperti ini bisa menghasilkan 1,5 ton per jam, jadi kurang lebih 30 ton per hari. Tapi jika penurunan kadar airnya lebih rendah, misalnya panen dari petani itu 25 persen, otomatis kapasitasnya bisa naik, jadi 2,25 ton per jam atau kurang lebih 45 ton per hari,” jelas Emier.