I Gede Bagus Eka di farm miliknya.
Pertumbuhan bisnis broiler yang bernama Bagus UD KL milik orang tuanya yang terus berkembang, membuat Bagus kini ikut mengelola kandang yang tersebar di berbagai lokasi, yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat. I Gede Bagus Eka bersama dengan beberapa karyawan yang ia miliki mengembangkan bisnis hingga kini mencapai populasi mencapai puluhan ribu ekor.
Bagus mengaku bahwa menjalankan usaha ini adalah kesenangan baginya. “Karena sejak kecil sudah diperkenalkan dengan ayam, sekarang saya jadi senang menjalankannya,” ucap pemuda 24 tahun ini. Sejak 1 tahun terakhir, Bagus dilibatkan oleh orang tuanya dalam usaha peternakan tersebut. Ia melihat bahwa usaha ini menjanjikan, oleh karena itu Bagus yakin untuk meneruskannya. Bagus berharap bisa mengembangkan usaha peternakannya menjadi lebih baik dan mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk usaha yang digelutinya saat ini.
Untuk itu, ia terus belajar beternak dari pengalamannya di lapangan. “Saya juga banyak mendapat ilmu dari pelatihan dan juga para ahli di bidang peternakan,” ungkap Bagus. Pengetahuan yang didapatkan melalui berbagai cara ini, membuat wawasannya dalam memelihara ayam semakin luas.
Kendalikan penyakit dengan cara yang aman
Di lapangan, Bagus juga sering dihadapkan pada serangan penyakit, terutama terkait pernapasan pada ayam (ngorok). Menurutnya, penyakit pernapasan ini sudah dijumpai beberapa tahun terakhir. “Dalam satu tahun bisa terjadi kasus 2 kali. Kalau cuaca sedang ekstrem bisa 3 kali dalam satu tahun, dalam 2 periode panen,” ungkap Bagus. Selain cuaca, faktor lain yang memicu munculnya penyakit tersebut adalah lingkungan dan kebersihan kandang yang kurang terjaga.
Menjaga ayam dalam kondisi sehat untuk hasil produksi yang maksimal.
Personil PT. Medion yang rutin mengunjungi peternakan milik Bagus memberikan saran untuk mengatasi penyakit pernapasan dengan perbaikan manajemen biosekuriti serta menggunakan Respitoran. Zat aktif dan kandungan bahan herbal di dalamnya membuat produk ini aman dan efektif digunakan untuk ayam. “Tidak ada efek samping dengan menggunakan Respitoran. Dagingnya (ayam) juga aman dikonsumsi manusia karena tidak meninggalkan residu,” tutur Bagus.
Dosis penggunaan yang tertera pada kemasan memudahkan Bagus dalam pemberian Respitoran, yakni 1 ml dilarutkan dalam 2 liter air minum atau 0.1 ml/kg berat badan unggas. Ia memberikan Respitoran ini pada fase ayam besar, ketika muncul gejala penyakit pernapasan, dan diberikan sebagai tindakan pencegahan. “Karena terbuat dari bahan alami dan aman, saya gunakan juga untuk pencegahan,” lanjutnya.
Manfaat yang dirasakan oleh Bagus setelah menggunakan Respitoran selama 1 tahun adalah kasus penyakit pernapasan menjadi berkurang dan efektif bagi kesehatan hewan. “Ampuh untuk pengobatan dan pencegahan, serta tidak menimbulkan residu, tidak mengganggu pertumbuhan, dan tidak ada efek samping ke organ lain juga,” ujarnya.
Ketersediaan Respitoran yang banyak dijumpai di toko-toko pun memudahkan Bagus dalam mendapatkan produk ini. Selain itu, dengan kemasan 250 ml, pemberian Respitoran ke ayam juga lebih efisien karena sesuai dengan populasi ayam yang dimilikinya. Harapan Bagus, akan lebih banyak produk-produk berkualitas seperti Respitoran.