Dalam ajang Indo Livestock, Malindo berhasil memenangkan posisi pertama kategori The Best Stand Design.
Direkur PT Malindo Feedmill Tbk, Rewin Hanrahan, di sela-sela pameran berlangsung mengatakan bahwa dalam pameran kali ini pihaknya mengusung konsep kekeluargaan. “Kami selalu ingin dekat dengan pelanggan. Dengan demikian, mereka tidak sungkan untuk masuk,” jelasnya. Para pengunjung yang bertandang ke stannya sangat bervariasi, mulai dari customer, produsen dalam dan luar negeri, supplier, serta banyak pula pengunjung dari luar negeri yang menanyakan produk Malindo.
Ia mengungkapkan, dalam pameran kali ini, pihaknya menampilkan semua hasil produksi mulai dari pakan sampai produk berupa makanan olahan. Dengan demikian, ia berharap para pengunjung dapat melihat dan mengenal semua produk Malindo, yaitu pakan, anak ayam dan olahan dari daging ayam yang bervariasi seperti, nugget, sosis, tempura, dan karage.
Menurutnya, dari tahun ke tahun, selalu ada peningkatan yang cukup bagus dan agresif dalam penyelenggaraan pameran ini. Ia berharap ke depan pameran ini bisa menjadi acuan pameran di dunia. Tidak hanya di Indonesia saja, dan bisa menjadi agenda internasional. “Sebab, Indonesia dengan 250 juta lebih penduduk merupakan pasar yang sangat potensial. Saya berharap pameran ini nantinya bisa setaraf dengan pameran-pameran peternakan di dunia. Kita akan bangga karena sudah punya event yang mendunia,” harapnya.
Ditambah lagi, ia mengatakan, pasar perunggasan kian hari kian berkembang dan ke depan angka masyarakat kelas menengah ke atas akan meningkat cukup pesat. “Jika peningkatan itu 60 juta saja, itu sudah sama dengan hampir tiga kali lipat penduduk Malaysia. Hanya memang butuh sosialisasi,” tegasnya.
Stan Malindo di Indo Livestock 2018.
Promosikan konsumsi daging ayam olahan
Erwin Richard Nurtanio, General Manager Marketing & Sales PT Malindo Food Delight, mengungkapkan bahwa SunnyGold merupakan produk daging olahan dari Malindo yang dalam pameran kali ini menampilkan sejumlah produk baru, antara lain Chicken Furai, Cheese Sausage Bratwurst serta Crispy Crunch. Sementara untuk second brand-nya ada Ciki Wiki Sosis Ayam Viena.
Erwin mengungkapkan bahwa keunggulan dari produknya adalah dari segi rasa dan kualitas. Produk-produk ini telah mengantongi sertifikat ISO 9001 dan 22000 untuk jaminan kualitas termasuk keamanan untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Pada pameran kali ini, pihaknya juga melakukan promosi menarik setiap pembelian tertentu pada produk yang dipromosikan setiap harinya. “Ternyata responnya cukup baik. Terbukti dengan stok yang kami sediakan terjual habis. Penjualan di stan juga semakin hari semakin meningkat mulai hari pertama sampai hari terakhir pameran,” terangnya.
Selain itu, para pengunjung pameran juga bisa mencicipi produk olahan, seperti nugget dan sosis secara gratis. Imbasnya banyak pengunjung dan peserta pameran yang kebetulan lewat untuk mencoba. “Mereka banyak yang suka, dan akhirnya membeli,” pungkas Erwin.
Produk olahan produksi Malindo digemari pengunjung.
Promosikan konsumsi produk daging olahan
Dalam sesi seminar bertajuk Peran Ketahanan Pangan, dalam Industri Makanan Olahan yang diselenggarakan oleh Malindo di pameran Indo Livestock 2018, Deden A. Kusuma, QC & R and D Manager selaku pemateri mengungkapkan bahwa produk makanan olahan yang diproduksi sudah mengikuti aturan yang ada, seperti MUI, BPOM serta SNI. “Kami sudah mendapatkan surat izin edar setelah melalui proses audit mulai dari fasilitas, proses pembuatan, termasuk juga pengecekan bahan bakunya,” jelas Deden.
Menurutnya, semakin hari gaya hidup masyarakat akan semakin konsumtif. Perubahan selera yang mengarah pada keinginan untuk mengonsumsi makanan yang lebih bervariasi dan lebih enak semakin meningkat. Di sisi lain, kesibukan bekerja membuat banyak orang ingin lebih efisien dari segi waktu. Solusinya yakni dengan convinience food, termasuk di antaranya produk daging olahan.
Tren konsumsi daging olahan ini semakin meningkat seiring dengan masuknya budaya barat terkait dengan makan daging olahan, serta maraknya industri makanan siap saji. Hal ini menjadi market yang potensial. Salah satu kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini adalah tersedianya bahan makanan yang praktis, yaitu yang bersifat ready to cook (siap untuk dimasak) dan ready to eat (siap untuk dimakan).
Deden juga menegaskan bahwa tidak semua makanan instan rendah gizi, contohnya produk makanan daging olahan seperti nugget dan sosis. Meskipun tergolong ke dalam makanan yang mudah dan cepat dimasak, daging ayam olahan yang diberi bumbu dan pelapis ini sangat kaya protein, mengandung asam amino, lemak, karbohidrat, beberapa jenis vitamin, serta mineral.
Menurut Erwin, yang juga memberikan penjelasan dalam seminar tersebut menegaskan bahwa ada produk-produk yang mengedepankan protein hewani yang sehat dan aman dalam rangka peningkatan konsumsi protein hewani, dan bisa menjadi pilihan alternatif. Sebab, produk ini tidak hanya dapat digoreng, bisa juga dengan cara di rebus (untuk sosis) yang lebih sehat dan rendah lemak. “Tidak usah takut dengan isu-isu yang beredar. Sebab, produk-produk frozen food yang diproduksi oleh Malindo adalah produk yang aman untuk dikonsumsi dan dengan kualitas terjamin,” tegasnya.
Dalam sesi seminar yang lain, Amin Suyono, Regional Technical Manager Cobb Asia Pasific, mengangkat tema “Managing Modern Broiler Breeder”. Dalam sesi seminar ini, ia menjelaskan broiler breeder mulai dari rearing management, atau manajemen pada awal pemeliharaan. Kemudian production management dan yang terakhir adalah mengenai male management.
Ia menjelaskan bahwa pihak Cobb masuk ke Indonesia dalam bentuk Grand Parent Stock (GPS), sementara itu salah satu distributornya yakni PT Bibit Indonesia selaku pihak yang memproduksi Parent Stock (PS). Menurutnya, seleksi genetik pada broiler menjadi hal yang penting. Oleh karena itu, pihak Cobb sudah memiliki piramida produksi. Dari piramida itu terungkap bahwa satu pedigree female akan menghasilkan final stock broiler 3.000.000 ekor, dengan masa proses seleksi membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun. “Apa yang kita nikmati di genetik broiler sekarang ini merupakan hasil seleksi genetik 3-4 tahun ke belakang,” tegasnya.
Perubahan genetik ini ternyata sejalan dengan perubahan pakan. Akibatnya, program pakan yang digunakan selama 2-3 tahun yang lalu tidak cocok dengan kebutuhan ayam sekarang. Perubahan genetik juga berpengaruh pada feed conversion ratio (FCR) yang semakin sedikit. Lebih lanjut, persentase dagingnya semakin besar, diperkirakan pada 2020 persentasenya mencapai 78 persen, pertumbuhan otot dada semakin baik, serta pertumbuhan lemak semakin sedikit.
Sementara di sesi seminar yang lain bertema “Membuat formula least cost, memakai excellsolver” memberikan pengetahuan pada peserta tentang membuat sistem formulasi gratis dan mudah diterapkan. Tak ayal, seminar ini dibanjiri oleh para peserta dan para peserta juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan.