POULTRYINDONESIA, Blitar – Ratusan peternak ayam petelur skala kecil dan menengah dari berbagai wilayah seperti Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, hingga Malang menggelar aksi damai dengan membagikan telur gratis ke masyarakat di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6/2026). Aksi bagi-bagi telur yang diklaim sebanyak 1 juta butir atau sekitar 62,5 ton itu merupakan bentuk protes peternak skala kecil dan menengah terhadap jatuhnya harga telur di bawah harga pokok produksi (HPP).
Saat ditanya mengenai pangkal masalahnya, Suyanto selaku Koordinator Aksi menyampaikan harga telur anjlok sementara biaya produksi justru melambung. Ia juga mengungkap situasi ini sudah berlangsung nyaris tiga bulan tanpa ada tanda-tanda membaik.
“Harga telur sudah sekitar dua bulan ini jatuh di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah. Pada saat yang sama harga pakan naik. Harga telur di tingkat kandang kini hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram, sementara Harga Pokok Produksi (HPP) berada di angka Rp23.000 per kilogram,” kata Suyanto.
Dengan selisih itu, setiap kilogram telur yang dijual berarti kerugian bagi peternak. Suyanto menyebut peternak baru bisa tenang jika harga kembali ke kisaran Rp24.000–Rp25.000 per kilogram. Selain itu, harga pakan ternak juga turut dikeluhkan karena melonjak sekitar 30 persen, sehingga kerugian semakin besar.
Perwakilan peternak lainnya, Suryono berpendapat bahwa lebih dari 35 persen bahan pakan merupakan komoditas impor, sehingga terdampak langsung oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, situasi ini juga diperparah oleh monopoli impor bahan pakan ternak oleh BUMN Berdikari, yang membuat peternak harus membeli bahan pakan impor lebih mahal dibandingkan harga pasar.
“Pengaruh monopoli satu pintu impor bahan pakan membuat harga tidak kompetitif, dikendalikan oleh Berdikari. Peternak mendapat beban sekitar Rp2.000 per kilogramnya,” ungkap Suryono.
Para peternak juga menyuarakan kekhawatiran terkait rencana masuknya investor asing ke sektor peternakan nasional. Mereka menilai kehadiran investor besar dapat memperketat persaingan dan berpotensi menggeser keberadaan peternak rakyat.
Bupati Blitar, Rijanto yang turun langsung untuk menemui massa mendesak pemerintah pusat untuk segera bergerak. “Saya dengar harga terakhir di kandang Rp21.000 per kilogram. Ini butuh pertolongan, uluran tangan dari Pusat. Harapan kita, pemerintah Pusat dalam waktu tidak terlalu lama segera rumuskan kebijakan agar peternak telur kecil di Blitar Raya dan sekitarnya ini segera terbantu,” kata Rijanto.
Ia juga menyatakan Pemerintah Kabupaten Blitar akan berupaya merumuskan langkah-langkah strategis untuk membantu peternak rakyat. Salah satu alternatif yang sedang disiapkan adalah memperluas penyerapan telur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta mendorong pemanfaatan jaringan Koperasi Merah Putih sebagai sarana distribusi dan pemasaran hasil produksi ternak.
“Kalau pengadaan telur dilakukan melalui koperasi desa, stabilitas harga akan lebih terjaga dan peternak rakyat bisa lebih terlindungi,” ujar Rijanto.
Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, turut mendesak pemerintah pusat agar tidak berpangku tangan. Ia mengingatkan harga acuan penjualan sudah beberapa kali di putuskan, tetapi ia juga mempertanyakan mengapa regulasi ini belum aktif di lapangan.
“Intervensi dari pihak pemerintah pusat sangat dibutuhkan saat ini agar para peternak rakyat dapat bertahan. Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mengajukan regulasi harga acuan penjualan di level Rp24.500 hingga Rp26.500 per kilogram, jauh di atas harga yang kini diterima peternak,” tegas Beky.
Menurutnya, pemerintah juga sudah mengambil langkah intervensi dengan memfasilitasi distribusi jagung SPHP melalui Bulog untuk menekan biaya pakan, sekaligus mendiskusikan jalur distribusi baru seperti pengiriman telur ke luar kota dan luar pulau untuk mendongkrak harga jual kembali ke batas normal.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia