POULTRYINDONESIA, Blitar – Di tengah tekanan harga telur yang terus berada di bawah biaya produksi, peternak ayam petelur rakyat di Blitar dan sekitarnya juga menghadapi kekhawatiran baru. Rencana masuknya investor asing ke sektor peternakan ayam petelur dinilai berpotensi memperberat tekanan yang selama ini dirasakan peternak skala kecil dan menengah.
Koordinator Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri Blitar Kediri Tulungagung Malang Trenggalek (BKT NT), Eti Marlina, menegaskan pihaknya menolak rencana Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang disebut akan menggandeng investor asing, khususnya dari China, untuk mengembangkan usaha ayam petelur di Indonesia. “Kami menolak keras rencana Kadin pusat menggandeng investor asing untuk budi daya ayam petelur di dalam negeri,” jelasnya di sela aksi pembagian telur gratis di depan Kantor Bupati Blitar, Kecamatan Kanigoro, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, kehadiran investor asing berpotensi semakin mempersempit ruang usaha peternak rakyat yang saat ini sedang menghadapi tekanan berat akibat harga telur yang terus terpuruk selama dua bulan terakhir. Di saat harga jual telur berada di bawah biaya produksi, peternak kecil dan menengah memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk bertahan.
Eti menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki populasi ayam petelur yang sangat besar. Di Blitar saja, populasi ayam petelur diperkirakan mendekati 30 juta ekor, sementara secara nasional mencapai sekitar 430 juta ekor. Dengan kondisi tersebut, penambahan kapasitas produksi dinilai justru berpotensi memperparah kelebihan pasokan yang selama ini menjadi salah satu penyebab jatuhnya harga telur.
Sebaliknya, ia berharap Kadin dapat berperan dalam mendorong pembangunan industri tepung telur (egg powder) yang selama ini masih terbatas. Kehadiran industri tersebut diyakini dapat menjadi solusi untuk menyerap kelebihan produksi telur sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Selain itu, Eti juga mendorong Kadin membantu membuka akses pasar internasional bagi produk telur Indonesia. Menurutnya, penguatan ekspor akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding menambah populasi ayam petelur baru melalui investasi asing.
“Kami berharap Kadin membantu membangun pasar ekspor dan industri pengolahan telur. Itu akan jauh lebih bermanfaat bagi peternak dibanding menambah pemain baru di sektor budidaya,” katanya.

Tidak hanya di hilir, Eti juga menilai Kadin dapat berkontribusi dalam memperkuat sektor hulu melalui pengembangan kawasan jagung nasional. Ia mendorong pemanfaatan lahan-lahan nonproduktif maupun kawasan di luar sentra produksi dengan dukungan teknologi modern untuk meningkatkan pasokan jagung domestik.
Menurutnya, peternak rakyat siap menyerap hasil produksi jagung dalam jumlah besar apabila ketersediaan dan kualitasnya terjamin. Langkah tersebut dinilai lebih strategis untuk memperkuat daya saing industri peternakan nasional dibanding terus bergantung pada bahan baku impor.
“Kadin bisa berperan membantu pengembangan jagung nasional. Itu sesuatu yang sulit dilakukan sendiri oleh peternak rakyat, tetapi dampaknya akan sangat besar bagi industri,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap masuknya investor asing di usaha budi daya juga disampaikan Suroto, peternak asal Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Menurutnya, investor dengan kekuatan modal besar berpotensi berkembang menjadi integrator yang menguasai seluruh rantai usaha perunggasan, mulai dari pembibitan, pakan, obat-obatan, hingga pemasaran produk akhir.
“Investor besar tidak hanya beternak ayam petelur. Mereka bisa memproduksi sendiri pakan, obat-obatan, hingga DOC. Ketika seluruh rantai usaha dikuasai, posisi peternak rakyat akan semakin sulit bersaing,” katanya.
Ia menilai keberadaan perusahaan-perusahaan besar yang telah terintegrasi saat ini saja sudah menciptakan persaingan yang tidak mudah bagi peternak mandiri. Karena itu, ia mempertanyakan urgensi menghadirkan pemain baru budi daya berskala besar ketika peternak rakyat masih berjuang menghadapi berbagai persoalan struktural, mulai dari fluktuasi harga hingga tingginya biaya produksi.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia