Pagi di Yogyakarta bergerak dengan tempo yang tenang dan tidak tergesa. Kota ini seperti sengaja memberi ruang bagi waktu untuk berjalan lebih pelan, terutama ketika warganya baru bersiap memulai aktivitas. Sebelum riuhnya kota kembali aktif, warung-warung soto di setiap sudut kota sudah lebih dulu ngebul, menjadi penanda awal pagi bagi sebagian warga sebelum berangkat kerja. 
Kebiasaan menikmati soto di pagi hari dikenal sebagai “nyoto” oleh masyarakat Jogja. Rutinitas ini terus berulang dan selalu menjadi teman memulai hari di Kota Gudeg itu. Soto yang umum ditemui cenderung berkuah bening yang ringan, berisi sayuran dan protein dari daging ayam, cocok sebagai menu sarapan yang menyegarkan ketika tubuh belum siap menerima asupan yang terlalu berat. 
Bagi orang Jogja, semangkuk soto hampir tidak pernah dimakan sendiri. Di atas meja biasanya berjejer tusukan sate usus, sate ati ampela, sate telur puyuh, kepala ayam bacem, hingga aneka gorengan. Rasanya yang cenderung manis ciri khas Jogja dan harga yang cukup murah juga jadi daya tarik tersendiri.
Dari kebiasaan ini, daging ayam menjadi salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi, termasuk melalui soto dan aneka olahannya. Selain karena harganya yang terjangkau, kandungan gizi yang penting di dalamnya membantu menunjang aktivitas harian. Nyoto di Jogja menjadi bagian dari pola makan yang tidak hanya mengakar dalam keseharian masyarakatnya, tetapi juga memberi kontribusi pada pemenuhan gizi harian mereka. Anggi
Resep Soto Ayam Khas Jogja (±20 porsi)
Bahan utama
  • 1 ekor ayam kampung (±1 kg), potong 4 (ayam kampung dipilih agar kuah lebih gurih tetapi tetap ringan)
  • 2,5 liter air 
  • 2 batang serai, memarkan 
  • 3 lembar daun salam 
  • 4 lembar daun jeruk 
  • 2 cm lengkuas, memarkan 
  • Gula dan garam secukupnya 
Bumbu halus
  • 10 siung bawang merah 
  • 5 siung bawang putih 
  • 3 butir kemiri sangrai 
  • 2 cm jahe 
  • 2 cm kunyit 
  • 1 sdt ketumbar 
  • ½ sdt merica putih 
Pelengkap
  • Tauge pendek, seduh 
  • Kol iris tipis 
  • Soun atau bihun, seduh 
  • Daun seledri dan daun bawang, iris 
  • Bawang merah goreng 
  • Jeruk nipis 
Cara membuat
  1. Panaskan air di dalam panci. 
  2. Sambil menunggu air mendidih, tumis bumbu halus hingga harum dan berwarna kuning kecokelatan.
  3. Jika air sudah mendidih, rebus ayam kampung hingga keluar kaldu. Buang busa yang mengapung. 
  4. Masukkan tumisan bumbu halus ke dalam rebusan ayam bersama serai, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas. 
  5. Masak dengan api kecil-sedang kurang lebih 1 jam. Angkat ayam, suwir-suwir dagingnya. 
  6. Bumbui kuah dengan garam dan sedikit gula hingga rasanya seimbang. 
  7. Tata nasi, soun, tauge, kol, dan ayam suwir dalam mangkuk. 
  8. Siram kuah panas, taburi seledri, daun bawang, dan bawang goreng. 
  9. Sajikan dengan perasan jeruk nipis.